Zohri, Mbappe, dan Tepuk Tangan yang Terlalu Keras

Zohri, Mbappe, dan Tepuk Tangan yang Terlalu Keras

(Ilustrasi/Pixabay)

“Kylian Mbappe membalik bendera Belanda agar terlihat seperti Prancis.” Kalimat itu sempat saya baca di internet setelah Prancis resmi menggondol gelar juara Piala Dunia 2018. Tentu, itu hanya satire yang menyindir reaksi sebagian masyarakat kita terhadap Lalu Muhammad Zohri.

Prestasi Zohri jelas membanggakan. Itu tidak bisa diganggu gugat. Atlet lari tersebut berhasil meraih medali emas di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Finlandia. Kalau dibandingkan dengan Usain Bolt, kecepatan Zohri hanya kalah sepersekian detik. Sesuatu yang tidak mudah, karena butuh determinasi tinggi.

Tapi, reaksi berlebihan sebagian orang Indonesia terhadap prestasi itu sungguh menyebalkan. Seperti seseorang yang sengaja menjatuhkan es krim yang baru saja Anda beli.

Sangat jarang kita berbicara tentang latihan macam apa yang membuat Zohri bisa sampai jadi juara dunia untuk level usianya. Atau, mengetahui bahwa dia punya orang tua angkat di Finlandia. Atau, mencari tahu motivasinya menjadi seorang pelari.

Namun, alih-alih soal dia dan dunia lari, netizen malah berkoar tentang bendera Polandia. Katanya, ada orang Polandia di tempat itu yang menawarkan Zohri untuk membalikkan benderanya agar terlihat seperti merah-putih.

Percakapan soal Zohri nyatanya tak berhenti sampai di situ. Salah satu percakapan yang bikin sebal adalah hadirnya orang-orang yang mendadak peduli dengan cara yang salah.

Misalnya, tawaran kerja yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan bidangnya saat ini hingga menjadikan Zohri sebagai alat untuk mengecam pemerintah yang katanya sama sekali tidak peduli dengan atletnya.

Lah, apa-apaan ini?

Eksposur berlebihan macam ini bukan sesuatu yang dibutuhkan oleh Zohri. Memberi tekanan yang tak perlu bahkan menjauhkannya dari dunia lari, singkat cerita, sama kurang ajarnya seperti datang ke kondangan untuk meminta kepada kedua mempelai agar segera bercerai.

Zohri masih muda, usianya baru 18 tahun. Ia belum pernah mendapatkan eksposur sehebat ini sebelumnya. Apalagi, kariernya di cabang olahraga atletik masih panjang.

Saya khawatir nanti Zohri akan bernasib sama seperti bintang-bintang muda Indonesia U-19 di Piala AFF beberapa tahun silam. Saat itu, Garuda Muda sukses merebut Piala AFF U-19, meski dalam keheningan. Namun, ketika orang-orang mulai larut dalam euforia hebat, dari situlah petaka dimulai.

Pelan-pelan, satu per satu, pesepakbola muda nan hebat itu menjadi alat branding. Mulai dari undangan ke berbagai acara, melakukan tur yang bertujuan menaikkan rating sebuah stasiun TV, hingga berinteraksi dengan para penggemar selayaknya seorang selebritas.

Pada akhirnya, energi mereka tersita untuk hal-hal yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan sepak bola. Dari situ, banyak bakat-bakat hebat sepak bola Indonesia menjadi layu. Atau, harus seperti Evan Dimas yang ‘menyelamatkan diri’ ke liga sepak bola negara tetangga?

Maka, berkaca dari rasa takut itu, saya ingin mengajak ngana-ngana semua agar tidak lebay bereaksi terhadap Zohri atau siapa pun yang membanggakan nama Indonesia di kancah internasional.

Jika Anda tidak punya ide bagaimana caranya agar Zohri bisa lebih bagus lagi, alangkah baiknya proporsional saja. Atau, bertepuk tangan secukupnya. Karena memang itulah yang dibutuhkan orang-orang seperti Zohri.

Kita perlu membuat dia senyaman mungkin dengan menjauhkannya dari tekanan yang tak perlu, selayaknya orang-orang Prancis memperlakukan Kylian Mbappe.

Mbappe jelas bagus di Prancis. Usianya pun baru 19 tahun, tak jauh beda dengan Zohri. Dia menjadi remaja termahal dalam dunia sepak bola. Namun, Mbappe sama sekali tidak pernah mendapatkan tekanan selayaknya Zohri di negaranya.

Dia tak pernah jadi ‘alat branding’ dan sepertinya tak begitu banyak politisi Prancis yang menghubung-hubungkan prestasi Mbappe dengan hal-hal yang bernada politis praktis selain tentang keberagaman.

Dengan begitu, dia bisa fokus dengan apa yang sedang ditekuni tanpa takut orang-orang membicarakan ini-itu tentangnya. Dengan tekanan yang tak begitu besar, Mbappe bisa mencapai potensinya ke level tertinggi.

Di final Piala Dunia 2018, Mbappe mampu mencetak satu gol. Dia dinobatkan sebagai bintang muda terbaik di turnamen edisi Rusia tersebut.

Silakan bertepuk tangan, tapi jangan terlalu keras. Sebab, segala reaksi akan berimplikasi serius. Itu mengapa dunia ini butuh apa yang namanya keseimbangan. Kita tentu tak ingin Zohri layu sebelum berkembang, begitu juga dengan warga Prancis terhadap Mbappe.

Mungkin, hari ini kita bertepuk tangan. Tapi, di kemudian hari, bisa jadi satu jari kita menunjuk orang lain, lalu empat jari menunjuk diri sendiri.

Camkan kisanak!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.