Akan Tiba Zaman Robot, Mereka Nyata dan Mengancam Kehidupan Manusia

Akan Tiba Zaman Robot, Mereka Nyata dan Mengancam Kehidupan Manusia

Ilustrasi (JP via Pixabay)

Selama ini, buruh kerap dianggap sebagai pihak yang tak pernah bersyukur, tidak tahu diri, dan banyak mau. Bahkan, sering terlontar ucapan, “Kalau buruh demo terus bakal diganti robot lho.”

Sebagai komentar, itu tentu saja sah dan boleh. Setiap orang berhak berpendapat dan setiap pendapat, ya tentu saja bisa didebat. Perdebatan tentang buruh yang tak tahu diri dan robot yang tak pernah mengeluh telah menjadi polemik selama ini.

Stephen Hawking pernah menulis dengan sangat baik di Guardian tentang bagaimana perkembangan teknologi kecerdasan buatan telah menghapus banyak pekerjaan manusia.

Katja Grace dan tim Future of Humanity Institute dari Universitas Oxford, menghubungi 1.634 akademisi dan perwakilan industri dalam bidang kecerdasan buatan untuk memperkirakan masa depan manusia. Hasilnya bisa sangat seram, tapi juga baik.

Grace menyebut bahwa perkembangan teknologi robot dan kecerdasan buatan telah membuat hidup manusia jadi lebih baik. Robot yang bisa membersihkan puing sisa nuklir, menyelamatkan manusia saat terjadi bencana, dan tugas-tugas berbahaya lainnya.

Dari 352 ahli kecerdasan buatan yang merespons undangan Oxford, ada beberapa hal yang bisa kita pahami, yang terancam oleh teknologi dan robot bukan hanya pekerjaan-pekerjaan manufaktur yang dilakukan oleh buruh. Tetapi juga pekerjaan orang-orang kerah putih.

Mereka memperkirakan bahwa robot dan kecerdasan buatan akan mampu menerjemahkan bahasa secara sempurna pada 2024, menulis tugas sekolah tingkat SMA pada 2026, dan mengendarakan truk pada 2027.

Sementara itu, pada 2031, robot diproyeksikan bisa mengambil pekerjaan manusia di sektor ritel, menulis buku pada 2049, dan menjadi ahli bedah pada 2053.

Stephen Hawking, salah satu pemikir brilian yang pernah ada, menyebut bahwa permasalahan dari teknologi kerap kali digunakan untuk kepentingan industri alih-alih kemanusiaan.

Ia mencontohkan otomatisasi industri, dalam hal ini penggunaan robot, telah melahirkan kesenjangan sosial dan ekonomi.

Ia juga menyebut perkembangan teknologi informasi membuat sebagian kecil kelompok individu untuk memperoleh keuntungan luar biasa dengan mempekerjakan beberapa orang saja. “This is inevitable, it is progress, but it is also socially destructive,” kata Hawking.

Permasalahannya, kata Hawking, bukan soal kemajuan teknologi menggantikan manusia. Tapi demi keserakahan segelintir orang.

Kita menggantikan manusia dengan mesin untuk memperoleh keuntungan lebih banyak. Dampak yang terburuk bukan hanya orang miskin semakin banyak, tetapi efek yang terjadi setelahnya.

Tentu dengan pergantian dari manusia ke teknologi produksi barang akan meningkat. Artinya, perusahaan bisa memperoleh produk lebih banyak dengan tenaga lebih sedikit. Tidak perlu ada uang lembur, cuti hamil berbayar, tunjangan hari raya, hingga asuransi kesehatan.

Intinya semua pengeluaran yang dihabiskan untuk manusia akan terhenti dan makin murah dengan adanya robot atau kecerasan buatan.

Tapi apa nanti dampaknya?

Buruh/karyawan merupakan kelas pekerja yang paling banyak jumlahnya di Indonesia. Berdasarkan lapangan pekerjaan utama pada Februari 2017, penduduk Indonesia paling banyak di sektor pertanian sebanyak 39,68 juta (31,86%), disusul perdagangan sebanyak 29,11 juta (23,37%), dan jasa kemasyarakatan sebanyak 20,95 juta orang (16,82%).

Adapun status pekerjaan utama yang terbanyak sebagai buruh/karyawan/pegawai (38,08%), berusaha sendiri (17,55%), berusaha dibantu buruh (17,09%), dan pekerja keluarga (14,58%).

Jika seluruh industri ini tenaga kerjanya diganti oleh buruh, bayangkan berapa banyak usaha terdampak yang akan gulung tikar karena buruh tak lagi punya pekerjaan?

Buruh, seperti juga karyawan pekerja kerah putih, adalah masyarakat konsumtifnya. Jika kelompok masyarakat ini dihilangkan, maka siapa yang akan membeli produk yang dihasilkan perusahaan? Memang robot akan makan di warteg? Akan nyicil motor ninja? Beli pulsa? Ngontrak atau nyicil rumah?

Barang kebutuhan yang dihasilkan perusahaan akan membludak, tapi tak ada yang membeli karena buruhnya diganti robot.

Hal lain yang mungkin bisa terjadi adalah pekerjaan yang sedikit akan menuntut orang rela bekerja dengan upah murah. Perbudakan modern akan lahir, muncul masalah sosial seperti kriminalitas akibat pengangguran, maraknya prostitusi, perdagangan manusia, dan lesunya ekonomi bukan sesuatu yang mustahil.

Lalu, bagaimana negara-negara yang telah banyak mengadopsi robot, apakah terjadi PHK massal?

Di Korea Selatan, keberadaan robot tidak lantas menggantikan posisi manusia secara total. Laporan dari industri robot yang dirilis oleh Bank Korea pada tahun lalu menyebut bahwa Korea hanya punya 640 robot buruh per 10.000 buruh manusia.

Jumlah populasi robot buruh yang menggantikan manusia terus meningkat tiga kali lipat sejak 2005 dan membuat mereka menjadi negara paling padat robot buruh dibanding Singapura, Jepang, dan Jerman.

Korea Selatan kemudian berencana menetapkan pajak robot kepada perusahaan untuk mengontrol jumlah robot dan manusia. Mengapa?

Jika semua robot menggantikan manusia, buruh tak akan punya penghasilan yang akan punya dampak ekonomi luas. Siapa yang akan membeli produk buatan robot, jika manusia yang ada tak punya pekerjaan?

Sebagai jalan tengah beberapa perusahaan besar di Korea Selatan mempekerjakan manusia untuk memproduksi robot pekerja, yang kemudian akan dijual di negara lain di Asia atau Afrika.

Polemik robot dan kecerdasan buatan juga masuk ke babak baru saat pemerintah dan industri main mata. Di Korea Selatan, para ahli robot dan kecerdasan buatan melakukan protes, karena ada indikasi memproduksi robot pembunuh untuk menggantikan manusia di medan perang.

Di sisi lain, Elon Musk punya ide yang lebih baik daripada sekadar memajaki robot pekerja. Menurutnya, di masa depan, jika industri telah memasuki otomatisasi robot dan kecerdasan buatan secara total, pemerintah di seluruh negara harus menyediakan universal basic income atau malah menggratiskan seluruh kebutuhan yang dibuat robot.

Selama ini, sebuah produk dibuat dan punya nilai jual, karena bahan dasar dan ongkos produksi. Jika seluruh penyediaan bahan dasar (berkelanjutan) dan produksi telah ditalangi seluruhnya oleh robot, maka di masa depan uang tak lagi relevan. Manusia akan berleha-leha, istirahat, dan seluruh kebutuhannya dipenuhi robot seperti dalam film Wall-E.

Pertanyaannya, perusahaan dan negara mana yang mau?