Ilustrasi plastik (Photo by Daniel Chekalov on Unsplash)

Selain “siapkan infaq terbaikmu”, belakangan ini kajian-kajian hijrah ramai menambah ajakan baru dalam poster mereka: “bawa tumbler-mu sendiri”. Beberapa unggahan poster bahkan dilengkapi tagar, semisal #kajianlesswaste dan #masjidlesswaste.

Gerakan muhajirin urban ini dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan sampah plastik yang semakin parah, khususnya di negeri ini. Sebab, menurut data Wall Street Journal (2010), Indonesia merupakan negara penyumbang polusi laut terbesar kedua di dunia dari banyaknya sampah plastik yang mengalir ke laut. Selain berbahaya bagi biota laut, pada akhirnya sampah ini juga membahayakan manusia karena sumber makanan dari laut yang tercemar polusi plastik.

Sebenarnya gerakan peduli lingkungan ala #kajianlesswaste ini bukan kali pertama. Sudah banyak organisasi lingkungan yang melakukan kampanye sejenis untuk membawa botol minuman, tas kain, sedotan stainless, dan upaya pengurangan sampah plastik lainnya.

Namun, yang membuat gerakan ini spesial karena campaigner-nya adalah tokoh agama. Di antara para penceramah yang rajin terlibat #kajianlesswaste ini adalah geng ustaz hijrah “Barisan Bangun Negeri” yang berisi delapan penceramah populer di kalangan milenial, yaitu Ustaz Abdul Somad, Ustaz Hanan Attaki, Ustaz Felix Siauw, Ustaz Oemar Mita, Ustaz Salim A. Fillah, Ustaz Adi Hidayat, Ustaz Luqmanul Hakim, dan Habib Anies.

Baca juga: Kiamat Iklim di Tangan Perempuan?

Penggunaan tagar #masjidlesswaste atau #masjidperadaban juga sesuai dengan misi geng ustaz tersebut untuk menjadikan masjid sebagai pusat ilmu dan gerakan. Menariknya, kampanye #lesswaste ini memberi citra alternatif pada masjid yang selama ini hanya dikenal sebagai pusat kegiatan ritual menjadi pusat pergerakan sosial ekologis.

Hal itu sekaligus ingin mengisyaratkan Islam sebagai agama tidak hanya berfokus pada ritus peribadatan, melainkan berfungsi sebagai pandangan hidup yang tidak gagap dalam mengatasi permasalahan keumatan kontemporer, termasuk isu ekologi.

Kehadiran geng ustaz dalam gerakan ekologi sungguh membuat saya bahagia, setidaknya untuk berceramah bahwa kerusakan lingkungan adalah nyata. Kita sadar bagaimana agama merupakan sesuatu yang dianggap penting bagi warga negara ini. Menurut data Pew Research Center (2015), Indonesia bahkan menduduki peringkat ketiga di dunia dengan 95% penduduk yang mengamini urgensi tersebut.

Sayangnya, kesadaran beragama ini belum dimaksimalkan dalam syiar kepedulian terhadap alam. Bahkan, dengan populasi umat beragama yang tinggi, Indonesia justru menduduki peringkat pertama negara dengan jumlah penduduk terbanyak (18%) yang tidak percaya terjadinya perubahan iklim, menurut survei YouGov-Cambridge Globalism Project.

Baca juga: Belajar dari Aktivis Muda Lingkungan Greta Thunberg

Fenomena yang disebut climate change denial ini karena minimnya pendidikan seputar isu lingkungan, baik di sekolah maupun secara umum. Selain itu, perbincangan tentang isu lingkungan juga tidak menarik publik, berbeda dengan isu agama atau politik. Kalaupun ada pembahasan isu lingkungan dalam perspektif agama, pemahamannya justru diarahkan pada penerimaan takdir.

Padahal, konsep ekologi dalam Islam tidak sesederhana itu. Pandangan dunia Islam yang berpusat pada ajaran Tauhid yang integratif menempatkan lingkungan (alam) sebagai manifestasi perwujudan Tuhan.

Konsekuensinya, perspektif eskatologis alias keyakinan bahwa akhirat lebih penting daripada dunia, justru tidak bersesuaian dengan spirit Islam karena bisa membawa pada sikap apatis terhadap (sistem) alam. Hal ini misalnya terlihat ketika terjadi bencana alam, analisis umat sering kali tidak bisa berkembang lebih jauh dari: “azab, nih!” atau “sabar, yaa”.

Bagi umat Islam, doktrin bencana sebagai hukuman manusia karena menyekutukan Tuhan memang memiliki landasan hukum dalam ayat 63 surat keenam Al-Qur’an. Meski begitu dalam kajian tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan ayat tersebut juga menampilkan perbuatan manusia sebagai faktor terjadinya bencana.

Lebih lanjut dijelaskan dalam ayat ke 65, yaitu bagaimana bencana terjadi dari atas dan bawah. Hal ini terkait tanggung jawab pemimpin (atas) dan masyarakat (bawah) terhadap bencana yang memiliki porsi sama.

Baca juga: Cara Mengurangi Sampah Plastik Tanpa Harus Patuh pada Neolib

Dalam tataran masyarakat (bawah), upaya bisa dilakukan sebagaimana gaya hidup minim sampah yang dikampanyekan #kajianlesswaste. Sayangnya, hijrah gaya hidup saja tidak cukup. Kalau kata environmentalis kaffah, gaya hidup hijau urban ini sebenarnya naif karena over simplifikasi masalah dan politis karena tidak semua sampah (plastik) diberangus. Bahkan bisa dibilang gerakan ini justru terjebak perspektif neoliberalisme sekaligus kaki tangan kapitalisme etis.

Yah, bukannya hijrah ekologis yang memang ‘mahal’ ini tidak bermanfaat sama sekali. Tapi bahkan, jika kita berhijrah secara ekstrem sebagaimana kehidupan YouTuber Li Ziqi pun, tidak cukup menyelesaikan problem ekologi dunia. Sebab, permasalahan kerusakan lingkungan bukan hanya tentang kelakuan rakyat akar rumput, melainkan pada tataran kelola sistem lintas bidang. Kalau benar-benar menginginkan perubahan ekologi, mesti dilakukan agenda terstruktur sistematis dan masif secara ekonomi, politik, pendidikan, dan lain-lain.

Di sinilah, peran geng ustaz diuji lebih serius. Untuk tidak hanya mengampanyekan gaya hidup #lesswaste kepada jamaah mereka. Tetapi lebih jauh lagi, apakah masjid yang dicanangkan sebagai pusat pergerakan (lingkungan) tersebut juga siap melakukan gerakan terstruktur sistematis dan masif dalam melawan musuh-musuh Allah yang merusak alam atas nama pembangunan?

Lalu, akankah para asatidz berdiri di baris terdepan mewakili umat yang kehilangan tanah pertaniannya demi pabrik-pabrik pengotor udara?

Bersediakah para asatidz mendampingi umat yang berkorban kesehatan karena harus tinggal di daerah tambang demi berjihad menyinari seisi negeri?

Artikel populer: Akun Dakwah tapi Suka Julid ke Perempuan, Akutu Nggak Bisa Diginiin!

Tuntutan di atas boleh jadi dianggap berlebihan. Tapi dengan rekam jejak digital para asatidz, saya percaya kekuatan geng ustaz ini begitu besar untuk menyadarkan umat tentang dosa kezaliman manusia atas lingkungan selama ini. Kalaupun kesibukan roadshow tidak memungkinkan para asatidz untuk terjun langsung mendampingi umat pinggiran, setidaknya kuasa digital branding mereka sangat potensial untuk menggugah kesadaran kolektif para muhajirin urban.

Tentu saja, kesadaran ekologis berdasar agama ini tidak cukup berhenti pada koleksi aneka tumbler dan totebag imut yang instagramable. Sebab, jika hanya berganti penampilan tanpa benar-benar mengubah pemikiran, lagi-lagi gerakan hijrah (ekologis) ini tidak lebih dari ayatisasi isu lingkungan demi kepentingan bisnis kajian starter pack yang dikelola para ‘promotor’ geng ustaz. Allahua’lam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini