Ilustrasi (Photo by Adrien Olichon from Pexels)

Tiap kisah cinta punya kesempatan berbalik jadi kisah horor.

Kisah ini begitu akrab bagi manusia kiwari, berlaku bagi siapa saja. Meski tanpa monster buruk rupa atau penampakan semacam Kuntilanak, kisah ini sama ngerinya. Jika kita dapat peran sebagai korban, kita bakal dibiarkan nelangsa, dibikin bingung, dan terjebak dalam perasaan tersiksa.

Cerita ini terus bermekaran. Premisnya selalu sama, kamu percaya ada yang betul-betul memerhatikanmu, apakah itu seorang teman atau lebih dari itu, tapi kemudian lenyap tanpa penjelasan. Tak ada lagi panggilan telepon tiba-tiba, tak ada pesan, tak ada notifikasi DM, bahkan sekadar emoticon pun tak nongol. Namun anehnya, kita terus menunggu si hantu yang tak ada penampakannya lagi itu.

Ghosting bukan konsep anyar, ini hanya istilah baru untuk sesuatu yang telah dilakukan manusia dari dulu: hilang tanpa kabar. Kemunculan internet dan media sosial, dari Facebook, Instagram, Twitter, sampai beragam aplikasi pesan, membuat kisah horor ini seakan biasa. Di era digital ini, bukankah kita hanya bayang-bayang piksel dari diri kita sendiri? Tak beda jauh dengan hantu: mudah terhubung, mudah pula menghilang.

Baca juga: Kisi-kisi Menghadapi Gebetan dari Trilogi Habibie & Ainun, Mantap Jiwa!

Survei dalam situs kencan Plenty of Fish pada 2016 menunjukkan bahwa 78% milenial pernah di- ghosting. Dalam beberapa tahun selanjutnya, terjadi peningkatan. Meski ghosting terbilang lumrah, tapi efek emosionalnya bisa destruktif. Salah satu aspek paling berbahaya adalah, bukan hanya mempertanyakan validitas hubungan yang kamu miliki, melainkan bisa bikin kamu mempertanyakan dirimu sendiri.

Kita dibiarkan sendirian bergulat dengan pertanyaan yang belum selesai. Tak adanya jawaban membuat kita bertanya-tanya, “Aing salah apaan ya?” Kemudian berlanjut dari “Gue pasti yang bikin kesalahan” hingga “Aku emang gak guna”. Dan, sebelum kita menyadarinya, kita terjebak dalam lingkaran menyalahkan diri sendiri.

Ghosting tidak memberi petunjuk tentang bagaimana kita bereaksi. Dia menciptakan ambiguitas, sekaligus semacam penolakan sosial. Naomi Eisenberger, seorang profesor psikologi, penasaran kenapa kita sering menggambarkan penolakan dalam istilah rasa sakit fisik: ‘Patah hati’, ‘Aku merasa hancur’, atau ‘Dia menyakiti perasaanku’. Lebih dari sekadar metafora, ungkapan-ungkapan itu tampaknya menangkap sesuatu yang penting, bahwa ada hubungan antara penolakan dan rasa sakit fisik.

Baca juga: Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Menurut Eisenberger, sepanjang sejarah, kita bergantung pada orang lain untuk bertahan hidup: mereka memelihara kita, membantu mengumpulkan makanan, serta memberikan perlindungan terhadap predator dan musuh. Hubungan sosial benar-benar membuat kita tetap hidup. Seperti halnya rasa sakit fisik, rasa sakit akibat penolakan juga berevolusi sebagai sinyal ancaman bagi kehidupan kita.

Secara ilmiah, penolakan sosial terbukti mengaktifkan jalur rasa sakit yang sama di otak dengan rasa sakit fisik. Sebuah penelitian bahkan mengungkapkan bahwa kita dapat mengurangi rasa sakit emosional ini dengan obat penghilang rasa sakit seperti Tylenol.

Sementara itu, bagi banyak orang, ghosting dapat menyebabkan perasaan tidak dihargai, menganggap diri cuma alat yang bisa digunakan dan dibuang begitu saja. Jika kamu mengenal orang tersebut lebih dari beberapa kencan, maka akibatnya akan lebih traumatis. Ketika seseorang yang kita cintai dan percayai lepas dari kita, rasanya seperti sebuah pengkhianatan mendalam.

Baca juga: Pasangan Nggak Diumbar? Boleh, tapi Jangan Abaikan ‘Stashing’ yang Kejam Kayak ‘Ghosting’

Tidak ada yang suka di-ghosting. Tapi, mengapa banyak yang melakukannya? Sebuah studi tahun 2018 dalam Journal of Social and Personal Relationships melaporkan bahwa 20% dari sekitar 1.000 responden mengakui melakukan ghosting. Fenomena ghosting ini menciptakan lingkaran setan, seorang korban bisa berubah jadi pelaku.

Orang-orang yang melakukan ghosting berfokus pada menghindari ketidaknyamanan emosional mereka sendiri dan mereka tidak berpikir bagaimana hal itu membuat orang lain merasa pedih mendidih.

Namun, Ebony Utley, profesor kajian komunikasi di Long Beach State University, berhati-hati untuk tidak melabeli pelaku ghosting sebagai pengecut. “Banyak dari kita berpikir bahwa mereka hanyalah orang yang mengerikan. Tetapi, saya pikir banyak pelaku tidak ingin melukai perasaan orang lain,” katanya. Meski demikian, Utley menegaskan tidak ingin menganggap ghosting sebagai perilaku baik-baik saja.

Artikel populer: Benarkah ‘Fall in Love With People We Can’t Have’ Adalah Hal yang Sia-sia?

Memang bukan pekerjaan mudah untuk menjelaskan kepada seseorang mengapa kita tidak tertarik kepadanya, tetapi penjelasan singkat jauh lebih baik ketimbang tidak sama sekali. Menutup sebuah hubungan secara terbuka lebih baik untuk kesehatan: mengungkap perasaanmu, secara fisiologis, dapat menurunkan tekanan darah dan mengurangi stres.

Jika kamu kebetulan jadi korban ghosting, selalu ingatkan diri bahwa itu bukan kesalahanmu, dan hindari pula menyalahkan yang lain. Kebalikan cinta bukanlah benci, melainkan pengabaian.

Semoga, ketika kita melewati pengalaman semacam ini, kita menjadi lebih tangguh. Kita akan melihat bahwa hidup ini hanya serangkaian pertemuan dan perpisahan. Bahwa segala sesuatu akan selalu berakhir pada titik tertentu. Itu saja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini