Yang Muda yang Bercinta, yang Muda yang Berpolitik

Yang Muda yang Bercinta, yang Muda yang Berpolitik

Ilustrasi (Photo by Aditya Saxena on Unsplash)

Kita-kita ini tergolong angkatan muda. Sebagaimana angkatan muda pada umumnya, tentu punya semangat yang berapi-api. Bahkan, sesekali ‘berbahaya’.

Belakangan, sosok muda mulai kembali menyeruak ke permukaan lewat media sosial. Siapa yang tak kenal Sis Tsamara Amany, Bung Bilven Sandalista, dan Kak Karin Novilda alias Awkarin? Mereka terkenal, punya pengaruh, dan sering kontroversial.

Terlebih, Awkarin yang juga jadi buah bibir sejumlah kalangan, mulai dari kelompok perempuan hingga mantan aktivis yang budiman (bukan Sudjatmiko).

Nah, tiga orang seangkatan itu bertemu pada satu narasi yang sama, yaitu aktivis Twitter keberpihakan politik. Namun, ada yang menolak bahwa aksi sosialnya dikatakan sebagai aktivitas politik. Ada pula yang terang-terangan mengkritik kebijakan ekonomi-politik, bahkan ada yang menjadi petinggi partai politik – partai yang sama dengan Mas Kokok Dirgantoro, meski sayang beliau belum sepopulis rekannya itu. Hehehe.

Sebenarnya jika berdasarkan dalil manusia sebagai zoon politicon bahwa setiap manusia – berapapun usianya – pasti akan terdampak dari segala keputusan kebijakan yang berkaitan dengannya dalam imajinasi besar “The Good Life”. Jadi, nggak perlu ngelak juga kalau aktivitasnya dibilang seberpengaruh politikus.

Baca juga: Kenapa sih yang Tua Doyan Mencibir yang Muda?

Mereka bertiga memainkan peran penting dalam arus wacana politik angkatan muda lewat media sosial. Semisal, Awkarin. Berangkat dari popularitasnya, ia mulai berubah sejak diam-diam menjadi relawan di Palu, stance-nya pada feminisme dan LGBTQ, dan turun ke jalan dalam aksi #ReformasiDikorupsi.

Kemudian, ia mengajak partisannya ikut terlibat dan peduli pada lingkungan. Sampah-sampah diangkut, kebakaran hutan dan lahan disiram, serta sesekali bikin netizen menangys berjamaah.

Sedangkan Sis Tsamara yang lebih blak-blakan soal stance politiknya, berjuang lewat partai politik, pernah menjadi oposisi ‘Partai Banteng’ pada 2015 dan belum lama ini bersama Faldo Maldini menggugat batas usia calon kepala daerah di Mahkamah Konstitusi.

Tapi kalau bahas Sis Tsamara memang kurang afdol kalau nggak bahas fansnya, si selebtwit Bung Bilven Sandalista. Ia terkenal dengan satirenya kepada Goenawan Mohamad, menjadi penggugat terdepan timnas Indonesia yang menurutnya selalu kalah melawan negara lain, tapi selalu menang melawan rakyatnya sendiri.

Dan, akhir-akhir ini, ia didaulat netizen menjadi Menteri Pengarsipan Digital dengan slogannya “Jasmetal” alias “Jangan sekali-kali melupakan jejak digital”.

Baca juga: Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Meski ketiganya bukan barometer dari laju perpolitikan angkatan muda di Indonesia, namun setidaknya mereka memberikan warna baru kegarangan stance politik anak muda di media sosial. Di tangan mereka, perdebatan mengenai kondisi negara akhir-akhir ini bisa menjadi sorotan pemuda-pemudi lainnya.

Jika kita mau melihat sejarah, wacana angkatan muda untuk terlibat aktif dalam arus perpolitikan nasional sudah menjadi hal yang lumrah. Sejarah kita punya catatan itu bahkan sebelum merdeka, tentang bagaimana Bung Wikana, Bung Soekarni, dan Bung Chaerul Saleh menculik Bung Karno dalam peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Mereka terhubung dengan cita-cita besar dalam satu blok politik demokratis melalui Perkumpulan Menteng 31.

Lalu, sejarah juga mencatat bagaimana angkatan muda kembali membangun blok politik demokratis melalui Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), sebelum nantinya menjadi gugusan politik alternatif Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada 1996.

Baca juga: Spongebob Itu Pendidikan Politik Paling Asyik, yang Apatis Jadi Ikut Aksi

Tahun berganti dan rezim pun berubah. Larangan terhadap kebebasan bersuara, berpendapat, dan berkumpul sudah purna. Kemudian, tibalah jua masa dimana pemuda diatribusikan sebagai generasi ‘anak layangan’ alias Alay. Narasi perpolitikan hilang ditelan kelucuan tingkah lakunya. Politik kembali berfokus pada lingkaran orang-orang tua.

Sementara, revolusi teknologi turut mendampingi perjalanan kawula muda. Ekspresi generasi yang dibilang Alay tadi ikut tergerus zaman, karena dianggap terlalu berlebihan.

Lantas, tibalah masa dimana jaket almameter perguruan tinggi tak lagi ramai mewarnai jalan-jalan untuk berdemonstrasi, melainkan terpampang apik di program hiburan televisi. Teriakan “Hidup rakyat, hidup mahasiswa, hidup kaum miskin kota” tidak lagi terdengar dan berganti dengan pekikan “Eeeee… aaaa, eeee… aaaa”. Angkatan muda terlihat lucu, seolah kehilangan tajinya.

Namun, kini mulai berubah. Telah tiba suatu masa dimana kejengahan itu terakumulasi. Angkatan muda tidak lagi tinggal diam. Mereka mengawal perubahan. Bukan hanya dari kalangan mahasiswa, tapi juga pelajar yang digadang-gadang sebagai leaderless movement.

Artikel populer: Auto-kepincut dengan Aktivis Mahasiswa? Hey, Tunggu Dulu!

Sungguh berbeda dengan angkatan sebelumnya, dimana politik anak muda didominasi oleh aktivis PRD semata. Hari ini, politik anak muda lebih berwarna dan banyak pilihan. Angkatan muda mulai menunjukkan pengaruhnya. Namun, mampukah mereka membangun blok politik demokratis? Atau, semuanya hanya gimmick aktivisme semata?

Angkatan muda yang sadar keberpihakan politik mesti paham bahwa sadar politik saja tidaklah cukup. Sebab, bagaimana mungkin kesadaran menghadirkan perubahan tanpa adanya gerakan nyata? Kita butuh direct action ketimbang debat kusir.

Oh ya, satu lagi. Angkatan muda yang sadar politik juga mesti membuang jauh-jauh kesejahteraan secara merata, jaminan keselamatan kerja, serta hak-hak lainnya selama angkatan muda enggan menjadi agen pengontrol pembuat kebijakan di negara ini. Yah, meskipun itu terkadang menjadi jalan sunyi.

Lagipula, karier tertinggi seorang aktivis bukan masuk istana, kan??

Untuk itu, kepada angkatan muda dari segala elemen, sobat ambyar, dan generasi senja bersatulah! Saatnya yang muda yang bercinta, eh berpolitik.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.