Ilustrasi. (Image by ooceey from Pixabay)

Kreator konten bisa mendorong keberuntungannya secara keras di Youtube. Misalnya, sepasang youtuber pernah turun ke jalanan untuk berpura-pura sebagai tunawisma-ODGJ (orang dengan gangguan jiwa). Saking viralnya video tersebut, sampai ada warga yang membiarkan tunawisma-ODGJ masuk ke rumahnya dan duduk santai di ruang tamu. Berharap bahwa tamunya adalah youtuber, padahal memang tunawisma-ODGJ.

Secara tidak langsung, aksi sang youtuber menjadi inspirasi bagi penontonnya untuk menjamu tunawisma-ODGJ selayaknya orang pada umumnya. Yang seharusnya dilakukan oleh Dinsos setempat.

Setelah viral dengan prank sebagai tunawisma-ODGJ, youtuber ini rutin bikin giveaway di media sosial dan bagi-bagi rezeki kepada kelompok rentan dalam kehidupan sosial. Cosplay sebagai tunawisma selama beberapa hari seolah menjadi terapi baginya untuk lebih berempati dan getol berbagi.

Dari anak kecil sampai orang tua yang menonton kontennya pun mungkin sepakat dengan satu hal. Bahwa bertemu sang youtuber dermawan di jalanan adalah pertanda baik. Berpeluang dikasih uang. Apalagi kalau lihat dia naik helikopter, bisa jadi reka ulang adegan di Money Heist: hujan duit di tengah kota.

Baca juga: Ya, Inilah “Money Heist” ala Indonesia

Mungkin inilah efek domino dari ulah pejabat yang kerap menimbulkan krisis kepercayaan rakyat. Dari mulai kasus korupsi dana bansos sampai pembagian BLT yang tidak merata dan tak tepat sasaran. Alhasil, ketimbang menuntut pemerintah menjalankan kewajibannya, masyarakat awam lebih berharap kepada seleb internet dengan citra dermawan.

Padahal, pejabat yang digaji pakai uang rakyat itulah yang seharusnya membantu rakyat yang kesusahan. Rakyat bayar pajak, lalu pajak dikelola oleh pejabat berwenang untuk kesejahteraan rakyat. Inilah skema yang sepatutnya kita jaga bersama. Bukan menanti disawer youtuber.

Youtuber mengeluarkan modal yang kecil untuk memberi makan orang susah dalam sehari. Namun, ia bisa mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari konten sampai berhari-hari. Entah ini yang dinamakan keajaiban sedekah atau keajaiban komodifikasi kemiskinan.

Baca juga: Beramai-ramai Cosplay Jadi “Malaikat”, kemudian Sambat?

Seharusnya memang tidak perlu berharap kepada seleb internet atau kreator konten dengan titel dermawan untuk mengentaskan kemiskinan. Sebab bukanlah tugas mereka untuk mengerjakan PR yang seharusnya diselesaikan pemerintah. Kecuali kalau sang seleb nanti jadi pejabat di pemerintahan, menyusul rekan artisnya yang lain.

Pendapatan dari iklan dan adsense yang didapatkan seleb internet memang bukan untuk membantu yang susah dan mengobati yang sakit. Pajaklah yang seharusnya bekerja demikian. Namun, kenyataannya, beberapa wajib pajak menghindari kewajiban dengan melarikan uangnya ke luar negeri. Pajak yang telah diterima negara pun tidak benar-benar terserap untuk kemaslahatan masyarakat karena adanya korupsi.

Secara tidak langsung, hal itu membuat kemiskinan tetap subur. Sehingga potret kemiskinannya bisa dikomodifikasi oleh kreator konten atau seleb internet di Youtube. Alhasil, yang miskin tetap miskin, yang kaya tetap seleb internet.

Yang rakyat butuhkan sudah dibeberkan oleh Iwan Fals dalam lagunya: Turunkan harga secepatnya, berikan kami pekerjaan. Namun, yang kita dapatkan: penguasa sibuk mengurus moral dan akhlak rakyat pakai jerat pukat UU ITE. Terakhir malah sibuk mengurus mural.

Baca juga: The Suicide Squad dan Influencer yang Bikin Blunder

Seandainya negara bisa memberikan kesejahteraan kepada rakyat, rakyat kecil tak perlu mengejar youtuber di jalanan untuk minta bantuan. Belakangan, kesenjangan sosial membuat sang pemuncak piramida (media) sosial itu justru merasa punya kekuatan super.

Uang dan kekuasaan bisa menjadi pembeda dalam kehidupan sosial. Yang memiliki keduanya bisa mengakali sistem. Misalnya, sepak terjang seorang idola yang kabur dari kewajiban karantina sesuai prokes Covid-19 setelah perjalanan dari luar negeri.

Sang selebgram itu mengaku tidak menjalankan anjuran pemerintah tersebut karena kadung kangen anak. Seolah rakyat lain yang patuh karantina tidak memiliki rasa yang sama kepada buah hati mereka.

Bisa juga uang dan kekuasaan dipakai untuk menyakiti sesama manusia. Itulah yang ditunjukkan oleh seorang artis cum youtuber ketika menuduh kakek-kakek yang mengikutinya sebagai pengemis. Padahal, si kakek hanya ingin menawarkan dagangannya.

Artikel populer: Apa Jadinya kalau Pejabat Ikut Squid Game?

Ditambah, sang youtuber artis itu membagikan uang kepada para driver ojol yang nongkrong tunggu orderan karena dianggap sudah bekerja. Sementara, kakek yang minta tolong tadi justru dicueki. Orang berduit seolah diberikan kebebasan untuk menentukan siapa yang dianggap sudah bekerja dan siapa yang belum cukup untuk dibilang bekerja walaupun sudah lelah berusaha.

Untunglah, yang menjadi Front Man di Squid Game tidak bertindak serupa. Soalnya kalau iya, kasihan Gi-hun yang sudah capek-capek bermain dan menjadi pemenang tunggal. Ketika Gi-hun minta hadiah uangnya, Front Man malah menghardiknya, “Ngapain ngikutin saya? Kalau mau duit itu kerja. Jangan main engklek aja. Tuh, kerja kayak mereka.”

Kemudian, Front Man membagikan uang gajian kepada para petugas Squid Game. Sementara, Gi-hun hanya bengong dengan luka di badan… dan di hati.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini