Ilustrasi game online. (Photo by Rodnae Productions from Pexels)

Kita masih menganggap bermain game, lebih-lebih yang daring, sebagai aktivitas sekadar. Sekadar meluangkan waktu, sekadar melepas penat, dan kadang mengasosiasikannya pada kegemaran para bocah belaka. Ajaibnya, persepsi semacam itu tumbuh subur meski buku monumental bikinan Johan Huizinga, yakni Homo Ludens: A Study of the Play-Element in Culture, telah beredar luas hampir satu abad lamanya.

Bagi Huizinga, si Sagitarius tulen kelahiran Belanda itu, nomenklatur khas yang kerap disiapkan pada manusia, yakni homo sapiens (makhluk berpikir) + homo faber (makhluk pekerja), tidaklah sepenuhnya cukup untuk mendefinisikan keragaman tingkah manusia. Ada kok sekelompok orang yang bekerja tanpa mengandalkan akal dan pikiran, atau sebaliknya. #NoMention.

Maka, satu-satunya laku niscaya pada manusia adalah bermain. Itu tak terelakkan sama sekali. #NoDebat. Oleh sebab itulah masing-masing dari kita, pada dasarnya, adalah seorang homo ludens. Dan bermain, kata Huizinga, adalah gejala yang mendahului kebudayaan. Ia tak semestinya dipandang sebelah mata, kecuali kamu Jaja Mihardja.

Baca juga: OK Boomer, Adaptasi ‘Harvest Moon’ ke Dunia Nyata untuk Selamatkan Anak Bangsa

Tapi, lain Huizinga lain pula pikiran orang-orang tua kita. Baru-baru ini, jagat dihebohkan oleh surat permohonan yang dibuat oleh seorang bupati agar beberapa game online diblokir. Kemudian, Kemenkominfo menanggapi permintaan itu dengan senang hati. Tanpa pikir panjang mereka langsung mengkaji, meneliti, dan mempertimbangkan ide super ‘brilian’ itu.

Ini bukan kali pertama gim daring digugat. Di Aceh, ia dilabeli fatwa haram bahkan sekelompok ulama menyarankan hukuman cambuk sebagai sanksi yang setimpal. Melakukan rekreasi agaknya dianggap sejajar dengan dosa seorang pembunuh, bromocorah, koruptor, dan pemerkosa.

Ini tentu preseden buruk. Bukan saja karena bisa membuat Huizinga menangis di alam kubur sambil tersedu-sedu meratapi hasil kerjanya, tetapi juga berpotensi membuat layu industri esports yang sedang tumbuh mekar di Indonesia. Kita bisa kehilangan bibit-bibit unggul, menenggelamkan mimpi-mimpi dan harapan banyak orang.

Baca juga: Menebak Cara Najwa Shihab, Awkarin, dan Kekeyi jika Ikutan Main Among Us

Lagi pula, argumen yang melulu bernada pesimistis, bahwa “Ini semua demi masa depan dan kebaikan anak”, sejatinya sudah tak relevan sejak dua dekade lalu. Agak usang dan tanpa dasar.

Masa depan yang mana?

Jika yang dimaksud adalah gelapnya prospek kerja, itu berarti kita sudah terjebak pada tindak jumud paling memalukan abad ini. Industri esports telah berkembang sedemikian pesat dan menjadi sasaran empuk para investor, perputaran uang tak terbilang, dan lapangan pekerjaan terhampar luas – dari atlet profesional, konten kreator, cosplayer, analis pertandingan, hingga shoutcaster. Dalam lingkup akademik, jurusan-jurusan gim bahkan sudah lama eksis.

Lalu, kebaikan yang mana?

Jika maksudnya menghindarkan anak-anak dari ‘candu’ yang membahayakan, maka itu argumen lapuk yang gampang ambruk. Catur, renang, lempar lembing, sepakbola, gobak sodor, bahkan menangkap ubur-ubur di Bikini Bottom juga bisa membawa dampak buruk jika tidak disertai kontrol yang baik. Kegagalan dalam mendidik tak seharusnya melulu dilemparkan pada gim daring.

Baca juga: Ujaran “Dasar, Boomer!” dan Momen Penting di Bikini Bottom

Jangan pernah luput, jika dulu impian anak-anak untuk mengibarkan sang saka merah putih di aras internasional mengacu pada sosok Susi Susanti di bulu tangkis atau Ellyas Pical di ring tinju, kini role model telah berganti.

Daftar nama atlet esports gemilang seperti Teguh Imam Firdaus, Adriand Larsen, Felix Rodeardo, hingga Kevin Manuel Johan yang telah berlaga mengharumkan nama bangsa di SEA Games Filipina tahun 2019 adalah idola-idola baru, yang memberi pengaruh positif dan membuat dada anak-anak bergemuruh penuh harap.

Ekosistem esports memang hadir bukan tanpa cela. Masih banyak problem yang harus dibenahi. Dari perkara paling teknis, misalnya kendala leletnya koneksi internet kita yang kira-kira setara kura-kura joging, pemadaman listrik secara tiba-tiba, pemerataan akses, hingga apresiasi kepada para atlet.

Artikel populer: Jika Bukit Algoritma Jadi Latar Tayangan Komedi Situasi

Kemudian, problem-problem mendasar misalnya ruang gerak perempuan yang, selama bertahun-tahun, masih dibelenggu stigma. Padahal, laki-perempuan tak ada beda di medan laga. Bukankah (jika boleh menyitir Chairil Anwar tanpa konteks) keduanya harus dicatat, keduanya dapat tempat?

Banyak orang – bahkan yang paling awam sekalipun – mudah mendeteksi gejala buruk ini. Maka tak heran, jika dalam gelaran debat capres periode lalu, industri ini turut disinggung dan dibahas meski sepintas oleh kedua kandidat.

Pada akhirnya, kita menyadari bahwa permainan yang dulu dianggap buang-buang waktu, ternyata punya dampak ekonomi yang begitu signifikan dan direcoki oleh kepentingan politik pula. Lha, kok mesti diblokir? Mau balik ke zaman batu?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini