Yang Luput dari Fenomena Joker soal Standar Orang Baik dan Orang Jahat

Yang Luput dari Fenomena Joker soal Standar Orang Baik dan Orang Jahat

Arthur Fleck/Joker (Warner Bros)

Film Joker memang patut diapresiasi. Terlepas dari karakter Joker yang fenomenal, film garapan Todd Phillips ini begitu relevan dengan realitas sosial saat ini.

Dalam sebuah wawancara, Todd Phillips yang sebelumnya menyutradarai film komedi trilogi The Hangover, mengatakan bahwa komedi di tataran Box Office tak lagi laku seiring tren kepekaan masyarakat terhadap isu-isu sosial.

Sebagai penikmat film kelas medioker yang lugu, saya nggak ada urusan dengan pertimbangan pasar. Namun, mengemas salah satu karakter penjahat super fiksi itu dengan isu-isu sosial adalah sesuatu yang menarique.

Ngomong-ngomong tentang film Joker, siapa di antara kita yang hidupnya punya beberapa kemiripan dengan Arthur Fleck? Sama-sama miskin, patah hati, insekyur, kesepian, merasa gagal, dan krisis eksistensi?

Kalau saya sih, ada yang mirip. Bedanya, saya nggak punya riwayat penyakit yang bisa memicu tawa tak terkendali. Dan, sekalipun beda kota, dunia kami tetaplah sama. Sama-sama terdiri dari kelas-kelas sosial dengan kapitalisme sebagai sistem utama.

Baca juga: Joker dalam Keseharian Kita dan Bagaimana Ia Tercipta

Hidup dalam semesta sosial yang kapitalistik, pemenang dan pecundang adalah keniscayaan. Mustahil membayangkan keadilan lahir dari sistem ini, karena apa yang dianggap ‘benar’ hanya dilegitimasi oleh siapa yang punya privilese dan kuasa. Maka, peradaban ini pun melahirkan terma yang dikotomis; cantik-jelek, kaya-miskin, waras-sinting, buruh-majikan, pemenang-pecundang, dan lain-lain.

Semua itu terstruktur dalam wacana, tercermin melalui simbol-simbol dan ditopang berbagai lembaga. Standar kesuksesan, misalnya, disimbolkan dalam hitung-hitungan kapital, termanifestasi dalam gaya hidup, penampilan, pendidikan, jabatan, dan perangkat gengsi sosial lainnya.

Kapitalisme menuntut setiap orang menjadi sesuatu, barangkali agar mudah menghitung nilai produksi per individu. Dan, untuk meningkatkan produktivitas per individu, ada skema persaingan yang secara ramah disebut social climbing alias panjat sosial.

Saya dan Arthur Fleck adalah potret pecundang dalam masyarakat yang demikian, terpental dari persaingan mendaki kelas sosial. Arthur gagal menjadi komika, saya gagal menjadi biduanita.

Baca juga: Apa Iya, Orang Jahat adalah Orang Baik yang Tersakiti?

Namun, level kepecundangan saya nggak semengenaskan Arthur, sehingga saya masih mampu menampung kesedihan dalam doa-doa, menutupnya rapat-rapat dari raut muka, mengikuti aturan put on a happy face tanpa perlu riasan badut.

Seperti muda-mudi lainnya, kadang saya juga membagikan kutipan motivasi biar seolah-olah terlihat tangguh. Sebab, terlalu malu untuk terlihat rapuh. Oleh masyarakat, kemuraman adalah momok. Pokoknya, hidup itu dituntut harus positive vibes setiap waktu. Pikiran negatif seakan-akan sebuah kesalahan.

Indeks kebahagiaan sebagai variabel pembangunan nasional, apakah disusun sepura-pura itu?

Di kota Gotham, pikiran negatif Arthur ditekan oleh antidepresan dari RSJ. Dengan pengobatan klinis, jadinya dia nggak perlu nimbrung ke forum-forum liqa’, mem-follow akun hijrah-hijrahan, atau ikut seminar motivasi berbayar.

Suatu kali dalam sesi terakhir konselingnya, secara depresif ia mengaku “All I have, are negative thoughts”. Semenjak pemerintah kota tak lagi mensubsidi antidepresan, pikiran negatifnya tak lagi terkendali dan justru menuai titik balik dalam hidup. Kesadaran kelasnya bangkit seiring akumulasi pikiran negatifnya, dan seraya menggerakkan jiwa perlawanannya.

Baca juga: Begini Jadinya jika Joker Mencari Nafkah sebagai Pelawak di Negeri Ini

Dimensi perlawanan ini yang bisa-bisa luput seandainya fokus yang dibangun hanya soal standar baik-buruk seseorang. Lagipula, dari mana diperoleh pengetahuan moral baik-buruk itu?

Apakah Arthur si lajang yang miskin, polos, serba teraniaya, dan tanpa perlawanan adalah gambaran karakter individu yang baik? Lalu, Joker yang membunuh tiga eksekutif Wall Street adalah cermin karakter individu yang buruk?

Untuk memperjuangkan hak-haknya, memang apa yang bisa dilakukan oleh badut yang dianggap menyimpang secara kejiwaan, miskin dan tercampakkan? Membuat laporan ke polisi atas kasus penganiayaannya? Bernegosiasi dengan bosnya? Menulis di media masa tentang alasan ia membunuh?

Mustahil.

Dalam konteks itulah, metode perlawanan Joker adalah sebuah pilihan yang bisa jadi rasional. Di luar fiksi, realitas sosial kita juga punya ilustrasi serupa. Beberapa waktu lalu, viral kasus pembunuhan oleh istri terhadap suami dan anak tirinya. Netijen mengutuk-ngutuk si istri tanpa melihat konteks penganiayaan yang dialaminya.

Artikel populer: Dear Fiersa Besari, Sebaiknya Kita Berhati-hati Bicara ‘Mental Illness’

Seperti korban perkosaan yang secara reflek menghantam kepala si pemerkosa dengan botol bir, siapa yang sebenarnya korban dan siapa tersangka?

Lembaga kepolisian sebagai penjaga moralitas serta perangkat hukum formil lah yang berwenang menentukannya.

Dalam film Joker, eksekutif Wall Street adalah gambaran orang terdidik dan bersahaja, lain hal dengan kelas pekerja kere apalagi dianggap sinting. Melalui media, kematiannya tersebar sebagai tindak kriminalitas. Tentu akan berbeda perlakuan media ketika si miskin yang mati. Kriminalitas dan kemiskinan dianggap satu paket yang dipandang wajar.

Struktur wacana pengetahuan seperti itu yang juga dianut dalam masyarakat kita. Maka, jualan miras di kaki lima itu kriminal, sedangkan di hotel-hotel bintang lima itu legal.

Atas alasan-alasan itu, lebih masuk akal menganggap aksi Joker sebagai sebuah perlawanan ketimbang kejahatan. Sekrisis itu peradaban. Sampai-sampai badut yang hakikatnya melawak, jadinya malah melawan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.