Ilustrasi (Photo by Thorn Yang from Pexels)

Sejak tinggal di kampung halaman, saya punya kebiasaan mengepel, mencuci, menyetrika, belanja, memasak. Ini bukan karena sungkan dan patuh sama tradisi kanca wingking, melainkan karena pekerjaan-pekerjaan tersebut memang bagian dari kebutuhan. Orangtua sudah tua dan kami tak mampu mempekerjakan asisten rumah tangga.

Lagi pula, tidak ada istilah kanca wingking dalam kamus hidup perempuan Jawa kelas pekerja. Sebab, mereka pun ikut bantu mencukupi nafkah keluarga. Di jaman sekarang, orang menyebutnya beban kerja ganda, yang terdiri dari masak, macak, manak, makaryo (memasak, berdandan, melahirkan, bekerja).

Simbah putri yang tumbuh pada masa kolonial mengalaminya. Membantu suami mencari nafkah sekaligus mengerjakan urusan domestik. Namun, tanggungan domestik seorang istri di jaman dulu tak sebanyak sekarang. Dulu, orang tidak kerepotan karena baju dicuci setelah dipakai berhari-hari. Orang tidak mencuci bed cover karena alas tidur mereka adalah anyaman rotan, tidak menyapu dan mengepel karena lantainya permukaan tanah, tidak mengurus macam-macam perabotan, tidak menyetrika, dan anak-anak mereka bisa mandi sendiri sejak usia empat tahun.

Baca juga: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Anak-anak pada masa itu juga terlahir untuk membantu pekerjaan rumah sejak usianya menginjak enam tahun. Semakin banyak anak, khususnya perempuan, semakin ringan beban domestik. Begitu pengakuan nenek.

Meningkatnya standar kualitas hidup membuat kerja domestik kini jadi lebih banyak. Lantai disapu dua kali dalam sehari dan dipel dua hari sekali, kulkas dibersihkan sepuluh hari sekali, WC disikat seminggu sekali, bak mandi dikuras empat hari sekali, sampah dibuang setiap pagi, dan lain-lain. Gitu terus sampai kiamat.

Dulu, asupan nutrisi cukup diperoleh dari gaplek dan sayur rebus. Praktis. Sekarang, olahan pangan serba macam-macam dan perlu keterampilan mengolah.

Hanya ada dua hal yang tetap sama dari dulu sampai sekarang.

Pertama, betapapun pentingnya kerja-kerja tersebut, tetap tidak masuk hitungan pertumbuhan ekonomi negara. Pertumbuhan ekonomi hanya menghitung aspek jual beli, yakni tingkat produksi dan pendapatan per kapita yang tercermin dalam konsumsi rumah tangga.

Kerja-kerja merawat hunian, menjamin asupan nutrisi keluarga, dan merawat bayi-bayi calon barisan pelamar kerja dianggap pekerjaan ghaib alias tidak bernilai produktif.

Baca juga: Waktu Bikin Anak Bilang Enak, Setelah Lahir Nyalahin Istri Melulu

Kedua, pekerjaan-pekerjaan ghaib itu tetap dianggap sebagai tanggung jawab para istri. Apapun jenjang pendidikannya, kebanyakan orang tetap menganggap istri dan pekerjaan rumah tangga itu satu kesatuan. Bahkan, sekalipun istrinya turut bekerja, berkarier, ataupun berkarya di luar.

Kalau ada bujangan mapan yang penampilan sehari-harinya kurang rapi dan huniannya berantakan, orang berseloroh, “Makanya buruan kawin, biar ada yang ngurus.” Ini bukti betapa umumnya pandangan mengenai perempuan identik dengan tugas keperawatan. Brengsek. Padahal, merawat diri itu keterampilan dasar individu.

Dua hal tersebut – mengabaikan kerja domestik sebagai nilai produktif dan membebankannya ke istri – adalah masalah besar, tapi dianggap wajar oleh masyarakat kita.

Pengabaian kerja domestik sebagai nilai produktif membuat negara dan masyarakat menyepelekan peran ibu rumah tangga. Istri tidak memperoleh ongkos jerih payah untuk waktu dan tenaga yang direlakan, negara tidak memberi jaminan kesehatan untuknya dan tidak ada insentif untuk pengembangan hobi serta daya kreativitasnya.

Ketahuilah, para istri tidak melakukan kerja domestik atas dorongan insting kewanitaan, melainkan atas tuntutan kebutuhan hidup bersama. Sebagaimana individu manusia, seorang istri juga terlahir dengan minat dan bakat. Saya yakin, mengepel lantai, mencuci baju, dan menanak nasi bukanlah sebuah hobi yang menyenangkan dan bisa dikembangkan sebagai sebuah karya.

Baca juga: Wahai Suami, kok Ngebet Banget Sampai Istri Sendiri Diperkosa?

Mungkin, ada seorang istri yang saking giatnya mengepel lantai sampai bisa membuat penemuan mesin pel yang bisa berjalan sendiri. Tapi, itu sungguh langka.

Segiat-giat para istri menyapu, mencuci, menyetrika, memasak, berkebun, dan melayani suami pada malam hari, apresiasi tertingginya berupa gelar istri solehah. Sementara, segiat-giat suami bekerja, ia punya peluang untuk memperoleh apresiasi berupa promosi jabatan, bonus dari atasan, ataupun berkesempatan menaikkan jenjang karier dan meningkatkan kompetensi berkarya.

Bukannya saya menyarankan agar tata kelola rumah tangga didasarkan pada sistem transaksional. Tapi, dalam era yang segalanya serba diperoleh melalui mata uang, wujud kasih sayang sebaiknya juga masuk hitungan anggaran.

Seorang karyawan dihitung dari nilai kerjanya secara individu, perusahaan tidak peduli siapa yang mengolah kebutuhan nutrisi si karyawan sehingga tenaga dan pikirannya bisa diperas guna menghasilkan sebuah produk. Perusahaan pun naif berapa jumlah cadangan tenaga kerja pada masa mendatang yang dirawat oleh istri-istri karyawan.

Dear Adam Smith, The Invisible Hand yang sesungguhnya adalah tangan-tangan para istri.

Artikel populer: Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Karena tidak dianggap sebagai sebuah pekerjaan, kerja domestik juga tidak mengenal hari libur nasional. Saat akhir pekan, para suami bisa santuy minum kopi sambil berdecak kagum memandangi burung peliharaan di teras rumah, saat istrinya tengah sibuk mengolah pangan di dapur, mencuci, menyapu, dan mengepel lantai. Malam hari usai si istri membereskan makan malam dan menyetrika, si suami ongkang-ongkang nonton siaran Liga Inggris.

Akhir pekan si suami pun dipungkasi dengan minta kelon saat istrinya telah terbaring lelah. Sungguh kriminal.

Ketahuilah para suami, untuk bisa menyapu dan mengepel lantai, kamu tidak perlu menjadi perempuan. Gagang sapu dan kain pel tidak mengenal jenis kelamin. Begitupun dengan aktivitas memasak. Bukan karena tangan seorang istri, gulai ayam bisa tersaji di meja makan, tetapi karena ada resep, bahan, dan kemauan memasak. Seorang suami bisa saja terampil memasak. Masalahnya, kamu mau nggak?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini