Yang Lebih Penting dan Berharga selama Asian Games

Yang Lebih Penting dan Berharga selama Asian Games

Ilustrasi (INASGOC/Dhoni Setiawan)

Rakyat Indonesia berbahagia saat upacara penutupan Asian Games 2018. Mungkin tidak semua, sebagian besar. Bahkan mereka yang sedang berduka di Lombok mungkin merasa sedikit lega, menyunggingkan senyum, dan mengendurkan otot yang tegang karena gempa.

Bagaimana tidak, Presiden Jokowi datang ke Lombok, nonton bareng closing ceremony Asian Games bersama Gubernur NTB Tuan Guru Bajang dan warga Lombok di tenda pengungsian. Kepada seluruh penduduk Asia yang menonton acara penutupan, ia menitipkan pesan.

Kebanggaan kepada seluruh atlet yang telah berprestasi serta mengingatkan kepada rakyat Indonesia untuk tidak lupa dengan warga Lombok.

Solidaritas kebangsaan yang dibangun dari rasa bangga akan prestasi dan empati. Haibat betul. Menangis saya. Beneran menangis. Tidak sedang satire. Apalagi, saat kolase atlet-atlet dari berbagai negara dimunculkan.

Mereka itu sedang berjuang, berkompetisi dengan atlet terbaik Asia bahkan dunia. Sebagian berjuang atas nama negara, yang lain berjuang untuk menjadi yang terbaik.

Rasa haru demikian menggedor. Air mata turun tanpa komando. Saat itu, saya rasa seluruh penonton dibuat haru. Ini sportivitas, ini persatuan, ini yang hilang dari kita selama ini.

Upacara penutupan Asian Games juga menghadirkan momen-momen ajaib yang membuat kita tertawa, haru, dan histeris. Mulai dari aksi Sheikh Ahmad Al-Fahad Al-Sabah, presiden Olympic Council of Asia (OCA), yang membuat kita tertawa terbahak karena membuat lambang cinta dengan tangan di atas kepalanya hingga aksi spektakuler teknologi digital seniman Tiongkok yang mengundang decak kagum.

Semua orang berbahagia dan bergembira, karena bisa menonton tayangan bermutu dari artis-artis kelas dunia.

Baca juga: Asian Games Bikin Asia Bersatu, di Negeri Sendiri Nanti Dulu

Tidak hanya warga Indonesia, atlet-atlet tamu dari berbagai negara juga ikut menonton. Di acara itu dihadirkan beragam hiburan dari negara-negara peserta Asian Games. Mulai dari penyanyi Mandarin, penyanyi India, sampai penyanyi asal Korea.

Mungkin mereka akan kaget dan bingung, kok bisa warga Indonesia ikut sing along dengan lagu-lagu India? Kok bisa warga Indonesia bernyanyi lagu-lagu Korea?

Masyarakat Indonesia adalah warga dunia. Film-film India membentuk identitas kultural sebagian rakyat kita, termasuk gelombang drama Mandarin dan anime asal Jepang hingga hiburan K-Pop. Penduduk Indonesia terbiasa dan akrab dengan budaya India, Jepang, Korea, dan Tiongkok.

Malam itu, Asian Games seolah menjadi hiburan sapu jagat. Semua kelompok usia dimanjakan. Mereka yang dulu pernah menjadi penggemar berat film India dihibur, pencinta K-Pop diberikan ruang, dan anak-anak kiwari juga diberi tempat melalui Afgan dan Isyana Sarasvati.

Seluruh generasi dihibur, seluruh kelompok masyarakat diberi tontonan berkelas, tapi yang lebih penting dari itu: diberi kesempatan menjadi saksi sejarah.

Bahwa Indonesia pernah menjadi tuan rumah pesta olahraga tingkat dunia yang dipuji oleh negara-negara tamu. “Indonesia layak menjadi tuan rumah olimpiade,” katanya. Kebanggaan ini hanya satu dari sekian banyak rasa haru yang dihadirkan Asian Games kali ini.

Artikel populer: Teruntuk Penggemar Jonatan Christie di Seantero Negeri

Sebanyak 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu itu hanya statistik, sekadar angka bahwa olahragawan kita meraih juara pertama, kedua, dan ketiga dalam kompetisi.

Tapi yang lebih berharga, yang lebih penting dari itu adalah rasa persatuan, rasa haru yang hadir karena untuk sesaat seluruh rakyat Indonesia jadi satu. Terlepas dari pilihan politik, keyakinan, agama, ras, dan latar belakangnya.

Di Twitter, seorang netizen bercerita tentang seorang gadis Muslim mendoakan Jonatan Christie yang katolik untuk menang di cabang olahraga bulu tangkis. Di lain kesempatan, jemaah sebuah gereja katolik mengajak jemaatnya untuk mendoakan kemenangan atlet-atlet Indonesia.

Tidak ada yang peduli agamanya apa saat kompetisi dimulai. “Saya Indonesia,” kata mereka. Ini imaji yang mungkin asing, terutama saat kita terjebak dalam kubu-kubuan politik praktis.

Saya kira siapapun yang berhati lembut dan tajam pikir akan merasakan haru saat Hanifan Yudani Kusumah memeluk Prabowo dan Jokowi dalam balutan bendera merah putih. Dada kita tergetar, mengharapkan perdamaian, persatuan, kecuali mungkin mereka yang selama ini berharap Indonesia hancur dan berganti sistem pemerintahan.

Presiden Jokowi memang tidak hadir di Gelora Bung Karno saat penutupan Asian Games. Tapi ia mampu membuat orang di Indonesia jatuh cinta. Seluruh atlet yang hadir merasa dimanusiakan. “Bonus harus cair sebelum keringat para atlet mengering.” Kira-kira begitu.

Jangan sampai ada kisah atlet berprestasi tapi harus dipusingkan dengan mencari uang makan dan biaya berobat. Pejuang nama bangsa di Asian Games diberi kemuliaan. Mulai dari atlet, pelatih, hingga asisten pelatih.

Seluruh lini diberikan bantuan agar tak ada lagi kasus prestasi mandek karena menteri olahraganya pesimis terhadap target pencapaian dalam pesta olahraga.

Kini, setelah Asian Games, sesudah para atlet berkompetisi, apa lagi yang bisa menyatukan kita? Apakah kita akan kembali memalingkan wajah ke hadapan layar ponsel? Meneruskan berita palsu, memelihara kebencian, atau memanfaatkan euforia persatuan Asian Games untuk membangun kembali silaturahmi?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.