Ilustrasi atlet. (Photo by Jonathan Chng on Unsplash)

“Prestasi tertinggi seorang perempuan adalah ketika ia di rumah.” Kalian pernah mendengar slogan itu? Tentunya disertai dengan tafsiran-tafsiran yang misoginis. Perempuan dilarang berkarya di luar rumah. Bahkan ketika ia berhasil mengukir prestasi, tetap saja ada ucapan-ucapan miring dari sejumlah orang.

Contohnya, ketika seorang atlet melepas jilbabnya saat bertanding di olimpiade, seperti yang dilakukan oleh Windy Cantika, atlet angkat besi asal Indonesia. Setelah menyabet medali perunggu di Olimpiade Tokyo 2020, ia mendapat banyak DM dan tag soal tak memakai jilbab dari warganet Indonesia.

Yah, kirain mau ngasih bonus?!

Padahal ya, pakai jilbab atau tidak saat bertanding, tak memengaruhi nilai dan harga dirinya maupun nama baik bangsa. Kalau ada yang ngomong “percuma menang kalau lepas jilbab”, sungguh itu tidak relevan dalam dunia olahraga. Ya kalau “percuma”, coba kalian bisa melakukannya atau tidak?

Baca juga: Menjawab Pertanyaan “Lebih Cantik kalau Pakai Jilbab atau Lepas Jilbab?”

Sementara itu, atlet asal Indonesia lainnya, Melati Daeva Oktavianti yang belum berhasil mendapatkan medali di Olimpiade Tokyo dikomentari warganet karena pemain bulu tangkis tersebut dianggap berbadan besar, sehingga sulit bergerak.

Padahal, bisa saja ukuran tubuhnya terbentuk karena massa otot. Lagi pula untuk bisa ikut olimpiade, tentu ukurannya adalah kemampuan, bukan bentuk tubuh.

Begitu juga dengan Greysia Polii dan Apriyani Rahayu, atlet asal Indonesia yang meraih emas dalam nomor ganda putri badminton. Ini adalah medali emas pertama bagi Indonesia di Olimpiade Tokyo. Eh, agama Apriyani Rahayu malah dipertanyakan oleh jurnalis asal Indonesia. Media yang menayangkan itu memang portal berita religius dan ingin menggaet pengunjung yang seiman.

Lantas, kenapa kalau para atlet seiman dengan para pembacanya? Apa iya, atlet yang tak seiman, tidak pantas mendapat dukungan dan apresiasi ketika tampil di perhelatan olahraga tingkat internasional?

Baca juga: Olimpiade Tokyo Jadi Olimpiade Bersejarah bagi Para Ibu

Daripada sibuk mempertanyakan hal personal dalam kehidupan sang atlet, mending menyoroti persoalan-persoalan yang krusial. Salah satunya bagaimana dunia olahraga melakukan kekerasan sistematis terhadap perempuan.

Kekerasan sistematis ini, misalnya, mengharuskan atlet perempuan cabang olahraga bola voli menggunakan bawahan bikini. Hingga akhirnya kelompok atlet perempuan asal Norwegia melancarkan protes dengan memakai celana pendek. Mereka tetap didenda 150 euro atau sekitar Rp 2,5 juta.

Ah, yang bener aja, masa main voli pakai bikini? Itu sih ke pantai, bukan bertanding.

Begitu pula di Olimpiade London 2012, ketika Badminton World Federation mengeluarkan aturan yang mewajibkan atlet perempuan untuk memakai rok pendek atau dress saat bermain di tingkat elit. Alasannya, dress code ini akan membuat atlet perempuan menarik dan terlihat lebih feminin di hadapan para penggemar dan sponsor.

Atlet senam indah dari Jerman juga melawan berbagai bentuk tuntutan seragam yang menseksualisasi tubuhnya, dengan menggunakan seragam senam indah yang menutup penuh tubuhnya.

Baca juga: Bukan Cuma Rasis, di Sepak Bola juga Nggak Boleh Seksis

Alasan atlet bernama Sarah Voss ini adalah, seragamnya memberikan kenyamanan untuk melakukan senam indah, terutama ketika ia sedang menstruasi. Seragam serupa juga digunakan oleh atlet senam indah laki-laki. Jadi, mengapa perempuan tak memakai seragam serupa?

Selain seragam, pilihan rambut perempuan pun dipertanyakan. Atlet panahan asal Korea Selatan, An San, dibenci di negaranya sendiri lantaran memiliki potongan rambut yang tampak tak feminin dan dianggap feminis. Bahkan warganet Korea Selatan mendesak Korea Archery Association untuk mengambil medali An San.

Bagi para atlet perempuan, ketika bertanding dalam sebuah kejuaraan, tubuh mereka kerap diseksualisasi dan dijadikan hiburan. Dan, ketika mereka menolak mengikuti aturan karena alasan kenyamanan, mereka dijatuhi hukuman.

Dalam kondisi menang atau kalah, tubuh perempuan selalu menjadi pusat perhatian dunia, bukan prestasinya. Bahkan urusan agama dan pilihan politik atlet perempuan bisa menjadi dasar penilaian bagi masyarakat apakah sang atlet pantas atau tidak menggigit medali.

Artikel populer: Chef Juna, Kita, dan Kata-kata Penghapus Stigma

Alasan untuk menampilkan perempuan agar terlihat lebih feminin adalah upaya mengatur tubuh perempuan. Aksi para atlet perempuan saat bertanding sudah menarik kok, tanpa harus pakai rok atau bikini.

Adapun penurunan minat penonton terjadi karena eksposur mereka kurang dan tidak adanya upaya untuk mempromosikan perempuan ketika bertanding. Buktinya ketika anak-anak menonton atlet perempuan di televisi, mereka menjadi tertarik dan terinspirasi untuk mengikuti jejak para atlet.

Sebab itu, sudah seharusnya dunia olahraga tak lagi seksis. Mengizinkan atlet lelaki memakai seragam sesuai kenyamanannya, sedangkan atlet perempuan tidak, itu namanya seksis. Pesan apa yang ingin disampaikan kepada dunia? Apakah pencapaian atlet perempuan tidak memiliki arti?

Sayangnya, banyak asosiasi cabang olahraga yang masih dikuasai oleh lelaki dengan sudut pandang kuno, sehingga keputusan yang mereka ambil sering kali tidak memiliki perspektif gender.

Itu salah satu yang mesti kita soroti, bukan malah sibuk mempertanyakan hal-hal yang tidak relevan, apalagi bertanya agamanya apa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini