Yang Hilang selama 2017 dan Kiat Menghadapinya pada 2018

Yang Hilang selama 2017 dan Kiat Menghadapinya pada 2018

Ilustrasi (chucklawless.com)

Menjelang akhir tahun, banyak bentuk refleksi tahunan yang bisa kita lakukan. Salah satunya berpikir ulang tentang hal-hal yang hilang selama tahun 2017.

Bagi saya, menyakitkan kalau harus menghadapi kehilangan. Sialnya, waktu menjamin manusia mengalaminya: ada yang datang, ada pula yang pergi. Mulai dari hal yang paling remeh sampai yang paling besar dan membekas. Siap tak siap, manusia harus siap.

Supaya lebih kuat sedikit, kita bisa membayangkan apa yang terjadi dengan negeri ini. Selama semester I tahun 2017 – gara-gara korupsi – negara ini kehilangan kekayaan sebesar Rp 1,83 triliun. Adapun total nilai suap Rp 118,1 miliar (data ICW).

Kehilangan seberapa besar pun, di negara sekaya apa pun, dirampas haknya adalah kesialan yang paling hakiki bagi warga negara.

Apapun yang hilang pada 2017 mungkin dapat membuat kita lebih paham diri sendiri dan sekitar kita. Agar kita bisa lebih siap menghadapi kehilangan pada 2018.

Ini adalah tiga hal yang kemungkinan besar dialami oleh kita semua:

Kehilangan Barang

Kehilangan barang dan uang adalah hal yang paling sering terjadi. Mungkin sebabnya keteledoran, atau bisa jadi diambil orang lain. Baru-baru ini, Awkarin – pasca kehilangan ponselnya – bilang, “Mungkin bulan ini aku lupa sedekah.”

See, apapun yang hilang, selalu berlabuh pada refleksi tentang hal yang lebih besar, lebih universal.

Peristiwa kemalingan, misalnya, jadi tolakan untuk lebih peduli terhadap keadaan sosial. Selama ini, anggapan bahwa orang miskin cenderung terpaksa mencuri adalah sebuah titik akhir masalah. Di Indonesia, terdapat sekitar 28 juta penduduk miskin. Tingkat kemiskinan resmi adalah 10,6% per Maret 2017.

Sementara itu, setengah aset kekayaan di Indonesia dikuasai oleh 1% orang yang superkaya. Menurut data Credit Suisse, kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin di Indonesia mencapai 49%, yang menempatkan Indonesia pada posisi empat dalam daftar negara dengan tingkat kesenjangan tertinggi di dunia.

Kemalingan harusnya bisa membawa kita menuju pemikiran bahwa pada era serba transaksional ini, orang miskin senantiasa jadi tersangka.

Orang yang banyak uang jadi galak pada orang yang punya sedikit uang. Masyarakat rentan kehilangan simpati terhadap sesama. Mungkin kalau kita tidak pernah kehilangan barang, kita tidak akan memikirkan itu.

Kehilangan Teman

Kehilangan teman bukan hal yang sederhana. Saya menyaksikan beberapa pertengkaran yang berakhir permusuhan di media sosial. Meski saya tidak bisa menerka, apakah mereka yang terlibat di dalamnya merasa benar-benar saling kehilangan?

Ya atau tidak, manusia mestinya mensyukuri teknologi komunikasi era ini. Sebagaimana Karlina Supelli pernah menyampaikan bahwa teknologi pada intinya diciptakan untuk membantu menyelesaikan masalah sehari-hari, termasuk gesekan-gesekan sosial, yang ironisnya diciptakan oleh produk itu pula.

Di dunia nyata, saya kehilangan beberapa teman tahun ini. Sebagian dari mereka meninggal dunia dengan begitu mendadak, tanpa kesakitan yang mencolok. Sedih, tentu saja. Namun kehilangan akibat kematian ini pada akhirnya mendidik kita.

Beberapa filsuf – dengan cara yang berbeda – percaya bahwa kematian telah memberi edukasi pada manusia. Sebab oleh kesadaran manusia akan niscayanya kematian, maka manusia terus berinovasi dalam ‘menunda kematian’ dan memperbaiki kondisi hidupnya.

Itu mengapa perkembangan teknologi kesehatan dimungkinkan. Segala cara dikerahkan untuk mencapai tujuan memperbaiki kondisi hidup.

Kematian juga membuat manusia hilang ketergantungan pada segala realitas dunia. Kita lebih sering memilih pasrah pada kehilangan barang, uang, atau status. Alasannya, karena manusia tak lagi dapat memilikinya lagi sesudah mati. Maka, hal-hal itu menjadi relatif.

Bicara tentang kematian, kita tak bisa lepas dari pandangan ala Albert Camus. Kematian akan membuat segala keinginan dan perjuangan dalam hidup terasa kehilangan makna. Sangat mungkin manusia jatuh ke dalam keputusasaan radikal.

Pada akhirnya, beberapa orang mencoba bunuh diri sebagai salah satu solusi. Di Indonesia, angka rata-rata kejadian bunuh diri pada tahun 2015 adalah 2,9 per 100.000 populasi.

Mendapati teman atau kerabat bunuh diri akan menjadi kehilangan yang sangat menyakitkan. Berhadapan dengan kematian itu seharusnya semacam berusaha hidup tanpa pengharapan.

Tapi kalau sendirian saja, tidak semua manusia bisa dengan mudah mengatasi ketidakberartian hidupnya. Tidak semua manusia bisa paham kalau sebetulnya kita dapat memperoleh kebahagiaan dari ketidakberartian.

Itu mengapa kita mestinya ada untuk orang-orang di sekitar. Bersama-sama dalam mengkontemplasikan ketidakberartian itu. Tak perlu kehilangan teman dulu untuk bisa bertanya pada diri sendiri, apakah tahun ini kita sudah menjadi teman yang baik untuk sesama?

Kehilangan Harapan

Kehilangan harapan dapat dilihat dari dua sudut pandang yang bertolak belakang. Kehilangan harapan hampir selalu dipandang negatif.

Ketika seseorang diberhentikan dari pekerjaan secara sepihak, ketika terima undangan kawinan dari gebetan, atau ketika seseorang merasa bahwa keadaan ekonominya sudah tidak bisa diperbaiki lagi, ketika itulah harapan rasanya menguap begitu saja.

Di sisi lain, kehilangan harapan sesungguhnya bisa dimaknai positif. Ketika seseorang meninggalkan harapan dari pekerjaan yang honornya besar tapi bikin lelah setengah mati atau ketika melepas cinta yang selama ini posesif tapi jadi adiksi, misalnya.

Kita beruntung kehilangan harapan dari hal-hal yang memang tidak pantas lagi kita harapkan. Manusia lompat dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain.

Di sekitar saya, dapat ditemukan dengan mudah orang-orang yang tumbuh besar dan susah lepas dari ilusi infantil – macam uang dan cinta. Manusia bisa begitu yakin bahwa harapannya akan terpenuhi – bukan karena harapan itu realistis – sebab manusia sekadar menginginkannya.

Kalau kehilangan macam ini yang kita alami selama 2017, sepertinya 2018 akan baik-baik saja.

Manusia bisa membebaskan diri dari jerat bayangan yang oke-oke saja. Maka dari itu, memikirkan tentang kehilangan jadi relevan. Kita jadi adil, bukan nostalgia sambil lalu.

Kita bisa beroleh emas pada masa lalu, namun kehilangannya bisa jadi pelajaran. Kita boleh menangis karena kehilangan, tapi tenang, masa depan kan gelap – sampai-sampai emas yang akan kita dapat tidak kelihatan wujudnya.

Manis, pahit, manis, pahit. Begitu terus. Sirkular sampai mati. Semoga kita semua percaya diri dalam berpikir tentang kehilangan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.