Sisi Lain yang Hilang dari Kereta Api Kekinian

Sisi Lain yang Hilang dari Kereta Api Kekinian

Ilustrasi (Himanshu Gunarathna via Pixabay)

Jika melihat sejarahnya, perkeretaapian di Indonesia dimulai ketika pencangkulan pertama jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta) oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Mr. L.A.J Baron Sloet van de Beele pada 17 Juni 1864.

Pembangunannya dilakukan oleh perusahaan swasta bernama Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Saat itu, kereta api merupakan perkembangan dari kebutuhan sarana transportasi yang sebelumnya sudah ada, yakni jalan raya.

Sebelumnya, pada 1850-an, terjadi peningkatan ekspor yang cukup tinggi. Peningkatan ekspor tersebut berdampak pada kebutuhan sarana angkutan yang meningkat pula. Dan, untuk menangani kesulitan angkutan, dibangunlah jalan kereta api.

Beratus tahun kemudian, kereta api menjadi moda transportasi massal yang digandrungi banyak orang, khususnya yang berada di Pulau Jawa. Bagi saya, kereta api masih menjadi pilihan terbaik untuk berpergian jauh.

Selain relatif murah dan tepat waktu, kereta api juga menawarkan hal-hal yang nggak didapat dari alat transportasi lain, misalnya keintiman dalam menikmati perjalanan. Aihh..

Memang sih, itu terkesan subyektif, akan tetapi data menunjukkan bahwa pada 2017 pengguna kereta api mencapai 389 juta orang. Bahkan, kabarnya, PT KAI menargetkan pengguna kereta di Indonesia pada 2018 mencapai lebih dari 400 juta orang.

Hmmm… Angka yang ‘wow’ tentu saja dibandingkan dengan pengguna pesawat terbang yang hanya mencapai 128 juta orang pada 2017.

Beberapa waktu yang lalu, kita sempat menyaksikan antrean panjang di beberapa stasiun di wilayah Jabodetabek. Antrean itu akibat pemeliharaan dan pembaruan sistem pada perangkat tiket elektronik (eTicketing) oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KCI).

Karena perbaikan dan pemeliharaan, Kartu Multi Trip (KMT) maupun kartu uang elektronik yang biasanya dipakai tidak bisa digunakan. Akibatnya berimbas ke penumpang, dan mereka mesti kembali ke cara konvensional, yakni membeli tiket kertas dengan harga Rp 3.000 untuk semua jurusan.

Melihat antrean panjang sekaligus banyaknya pengguna kereta api, bisa jadi karena alat transportasi kereta terasa dekat dengan kita, sekaligus menjadi representasi masyarakat Indonesia secara umum.

Coba perhatikan, saat kamu berada di stasiun. Penuh keberagaman, saling lempar basa-basi untuk sekadar mencari teman, dan hal-hal lainnya termasuk soal meromantisasi stasiun atau kereta itu sendiri.

Menyoal romantisasi di stasiun atau kereta, sepertinya sedikit demi sedikit sudah mulai terkikis. Tentu saja, teknologi menjadi salah satu pemeran utamanya. Misalnya, kehadiran tiket elektronik dan kartu uang elektronik.

Atau, contoh lain, para pedagang kecil yang dulu sering kita temui di stasiun seperti pedagang pecel lele dan pedagang sate, kini mulai tergantikan oleh minimarket atau coffee shop yang berada di sekitar stasiun.

Di satu sisi, saya tentu memberi apresiasi terhadap segala kemajuan transportasi kereta. Namun, di sisi lain, hilangnya para pedagang kecil juga patut disesalkan.

Tujuan dari penataan itu tentu baik sebagai pendisiplinan yang bermuara pada rasa nyaman bagi para penumpang kereta. Tapi, kalau pedagang kecil sampai hilang, atau bahkan keluarga yang hendak mengantar sampai stasiun dibatasi hanya sampai gerbang saja, rasanya kok ada yang hilang dari batin ini.

Padahal ya, nggak cuma orang dewasa yang menggandrungi alat transportasi yang satu ini. Sesekali cobalah ajak anak-anak untuk berwisata menggunakan kereta api. Sepengalaman saya, raut wajah mereka selalu memancarkan rasa antusiasme yang tinggi, bahkan saat baru tiba di stasiun.

Ibu Sud, pencipta lagu-lagu anak dalam lagu Kereta Apiku (Naik Kereta Api) sepertinya merasakan betul bagaimana asyiknya naik kereta api. Konon, lagu itu tercipta atas pengalaman beliau sewaktu kecil. Lagu itu mulai sering diperdengarkan di Radio Republik Indonesia (RRI) pada awal 1960-an.

Suatu ketika, saya pun pernah mendapati kejadian yang haru ketika berada di gerbang stasiun, saat menyaksikan dua anak kecil yang hendak berpisah.

“Dadah Martiiiin…” menjadi kalimat yang saya tangkap tak jauh dari tempat mereka berdiri. Teriakan serta lambaian tangan itu melepas Martin menuju entah ke mana.

Kereta pun melaju perlahan meninggalkan stasiun Purwakarta. Tatapan dua anak kecil tersebut tampak saling beradu, sesekali terpancar wajah kesedihan karena merasa hendak berpisah.

Dua anak yang sedang saling melepaskan itu mungkin berharap agar di lain waktu dapat bertemu kembali. Dan, bisa jadi, mereka saling melempar doa. Pada saat-saat seperti itu, stasiun menjadi tempat paling nyata dalam menawarkan romantisme.

Namun, rasa itu kini mulai lenyap. Sebab, orang yang hendak mengantar dibatasi hanya sampai gerbang. Ya bisa-bisa saja sih, tapi sensasi dadah-dadahan menjadi tidak leluasa.

Asal tahu aja nih, yang paling cihuy itu kalau dadah-dadahannya dari pinggir rel dan jendela kereta, kayak kamu dengan orang yang dulu pernah mesra dan sekarang sudah jadi mantan, eh?

Suatu waktu, saya pun mencoba untuk mengingat kembali wajah perkeretaapian saat ini. Salah satunya dengan ‘kakaretaan’ bersama komunitas.

Ada hal-hal baru yang saya dapatkan di stasiun maupun di kereta; rapi, dingin, tertib, dan ada colokan agar tak khawatir bila baterai ponsel habis. Namun, ada yang hilang dari sisi lainnya; romantisme.

1 COMMENT

  1. Karena memori yg terpatri saat kecil adalah memori waktu saat carut marutnya kereta, romantismenya seperti itu. Coba kalau dari dulu kereta Indonesia sudah rapi tanpa pedagang dan tiba tina di penuhi pedagang di masa sekarang? Apa romantisme akan berbalik?

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.