Ilustrasi pasangan. (Pexels/Pixabay)

Ucapan “suara suami dari Tuhan” atau “surga istri berada di bawah telapak kaki suami” sudah sering saya dengar. Sedihnya banyak perempuan yang tunduk dengan pernyataan itu. Padahal di mata Tuhan, perempuan dan laki-laki sederajat.

Tapi pernyataan yang menyertakan Tuhan dan surga tadi masih saja digaungkan oleh beberapa tokoh agama hingga selebriti internet. Alhasil banyak perempuan terpengaruh oleh pemikiran yang berbau patriarki tersebut. Lalu, menempatkan dirinya sebagai objek kepemilikan suami.

Akibatnya perempuan sering kali merasa harus menerima apapun yang dilakukan suami, termasuk perlakuan kasar ataupun kekerasan, bahkan ketika mereka masih pacaran.

Mirisnya lagi, menormalkan kekerasan itu sebagai takdir. Atau, mewajarkan tindakan tersebut sebagai bukti cinta. Ayolah, cinta seharusnya tak semenyakitkan itu.

Baca juga: ‘Toxic Relationship’, Bagaimana Kalau Sudah Terlanjur Sayang?

Rasanya ingin sekali menyelamatkan perempuan yang terbelenggu, sekalipun ia telah menjadi seorang istri – walaupun kita tahu bagaimana kuatnya budaya patriarki dalam masyarakat kita. Seorang perempuan bisa jadi sudah terpapar sejak kecil, sehingga sulit diubah.

Namun kalau cuma menjadi juru selamat, bukanlah cita-cita dari pemberdayaan perempuan. Sesungguhnya perempuan memiliki agensi untuk menentukan kuasa atas dirinya. Proses pemberdayaan dimulai dari kesadaran kritis hingga transformatif.

Betul, keinginan untuk mengubah diri sendiri adalah yang utama. Jika tidak ada keinginan, sulit untuk bertransformasi – termasuk bagaimana menegur pasangan nantinya.

Tentu lelaki manapun yang melontarkan pernyataan bias semacam “suara suami dari Tuhan” harus ditegur dan dikritik. Apalagi, jika ia adalah seorang figur publik yang digandrungi jutaan orang di negeri ini.

Baca juga: Tidak Menikah Itu Normal, Sebagaimana Mereka yang Menikah

Selain itu, kita mesti menyerukan agar para tokoh agama, misalnya ulama perempuan, untuk menolak cara pandang yang jelas-jelas timpang alias tidak adil tersebut. Kita pun harus terus mengamplifikasi suara ulama perempuan.

Salah satu artikel di Mubadalah berjudul “Apakah Suami bisa Nusyuz? Tentu saja!” membahas ayat yang menerangkan soal pembangkangan suami terhadap istrinya. Namun, sayangnya ayat itu tidak populer ketimbang pembangkangan istri terhadap suami. Mengapa?

Sebab panggung dakwah lebih banyak diisi oleh tokoh agama yang tidak memiliki perspektif keadilan gender. Tokoh agama yang tidak memiliki sudut pandang tersebut lebih terkenal, karena apa yang disampaikan cocok dengan masyarakat kita yang patriarkal. Dakwah bernada misoginis lebih laku dan menguntungkan patriarkis yang ingin menguasai tatanan negara dan mengontrol masyarakat, terutama perempuan.

Baca juga: Bagaimana kalau Pacaran, lalu Berhubungan Seks, terus Ujung-ujungnya Kandas?

Upaya mengontrol hidup perempuan tidak terjadi di ruang hampa. Ia terjadi secara sistematis. Terlebih, hal itu dikukuhkan dalam UU Perkawinan yang tidak menjamin kesetaraan. Bahkan, ada beberapa upaya untuk melanggengkan itu dengan membuat undang-undang baru. Salah satunya RUU Ketahanan Keluarga yang sempat menjadi kontroversi.

Karena itu, UU Perkawinan perlu direformasi dengan memberikan hak dan wewenang kepada perempuan dalam kehidupan pernikahan.

Konsep reformasi ini tentunya bakal terasa asing bagi masyarakat kita. Mungkin ada yang bilang bahwa itu kebablasan. Tapi mari kita pahami dulu tentang subordinasi perempuan yang terjadi sampai hari ini. Selama tubuh dan kontrol atas tubuh perempuan berada pada orang lain, maka selama itu pula tidak akan terjadi perubahan, terutama kehidupan perempuan dalam pernikahan.

Saat ini, menggaungkan tafsir ayat yang lebih ramah terhadap perempuan bakal menguntungkan kita semua. Termasuk, ketika perempuan ditinggal cerai atau meninggal oleh pasangannya. Jika ia memiliki kuasa atas dirinya sebagai subjek hukum, hal itu akan memudahkannya untuk bangkit.

Artikel populer: Strategi Agar Tidak Terkecoh Gimik Influencer

Dengan terus menggali tafsiran serta gagasan yang progresif atas status perempuan dalam pernikahan, maka kita sudah selangkah lebih dekat dengan kesetaraan.

Dan, jika kamu kesal dengan pernyataan misoginis lelaki, apalagi membawa-bawa nama Tuhan dan surga seperti di awal tulisan, maka kamu sudah berpikir kritis. Kemudian, jika kamu mau dan berani memahami gagasan baru serta ikut menggaungkan pemahaman yang ramah terhadap perempuan, maka kamu sudah memiliki kesadaran transformatif.

Dengan demikian, kamu menjadi contoh perlawanan bagi orang-orang di sekitarmu. Harapannya, orang-orang di sekitarmu itu akan tertular oleh semangat dan pemikiran yang maju. Sebab sudah saatnya kita meretas sistem yang patriarkal ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini