Israel, Kiai Yahya Staquf, dan Pesan Penting di Balik Itu

Israel, Kiai Yahya Staquf, dan Pesan Penting di Balik Itu

Yahya Cholil Staquf (FT/MATAAIRRADIO)

Almarhum Gus Dur pernah berkata, “Kita lebih butuh Islam yang ramah daripada Islam yang marah.” Kata-kata itu mungkin punya makna yang ganda, maksudnya, ia tergantung interpretasi si pembaca dan pengucap.

Misalnya, kita bisa saja bilang Islam yang ramah itu yang merangkul, melindungi, bukan yang membawa pentungan sambil berteriak takbir.

Kita belajar bahwa Islam sangat cair. Ajaran yang ada di dalamnya sangat tergantung interpretasi, keilmuan, dan latar belakang si penafsir. Ia bisa saja menemukan ajaran yang membenarkan kebencian dan perang, tapi bisa juga menemukan alasan untuk menyebarkan cinta kasih.

Gus Dur menjadi istimewa, karena ia membuat ajaran Islam jadi sederhana, dekat, dan mudah dimengerti. Semua itu ia sampaikan dengan cara yang gembira, melalui lelucon, kadang lewat komedi. Misal, kisah seorang tamu yang bertanya bagaimana hukum mengirimkan doa kepada orang mati, seperti Al-Fatihah.

“Al-Fatihahnya balik nggak?” tanya Guaaas Dur.

“Nggak Gus,” kata si tamu.

“Ya doamu sampai,” kata Gus Dur.

Kita jelas bisa berdebat. Soal bid’ah, soal dalil, soal yang keabsahan, tapi Gus Dur membuat kita percaya bahwa beragama seharusnya mudah, membebaskan, dan lebih penting dari itu, yakni membuat umat jadi lebih baik.

Untungnya Gus Dur mewariskan ilmunya kepada banyak orang, Gus Yahya Cholil Staquf adalah seorang di antaranya.

Gus Yahya Staquf merupakan sosok yang unik. Ia menyimpan kronik cerita lucu dari beragam ulama di Nahdlatul Ulama (NU). Terong Gosong, nama situs yang ia kelola, banyak menghadirkan wajah Islam yang ramah.

Situs itu bermula dari grup online yang dibuat pada 13 Mei 2009. Isinya beragam cerita tentang bagaimana keseharian santri, orang-orang yang dianggap kiai, hingga cerita konyol dari para tokoh NU.

Gus Yahya, tergantung pada siapa Anda bertanya, akan memiliki banyak identitas. Jika anda bertanya pada pengurus NU, ia adalah Katib ‘Aam PBNU. Tanya kepada orang rembang, maka Gus Yahya adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin. Jika anda bertanya pada politisi, maka ia adalah anggota Watimpres Joko Widodo.

Pada masa pemerintahan presiden Gus Dur, Gus Yahya pernah menjadi juru bicara presiden. Ia juga seorang pegiat isu kemanusiaan yang artikulatif.

Saran saya, jangan bertanya kepada Tifatul Sembiring, mantan menteri yang tidak tahu fungsi internet cepat itu, juga kesulitan menjelaskan siapa sebenarnya Kiai Yahya.

Beberapa kali media luar negeri mewawancarai Gus Yahya untuk isu yang dianggap sensitif. Misalnya, pertanyaan apakah ISIS itu Islam? Apakah Islam mengajarkan kekerasan? Bagaimana Islam memandang kemanusiaan?

Gus Yahya, sebagai murid Gus Dur jelas bablas, ngomong apa adanya sembari meninggalkan tafsir yang mungkin akan susah dicerna.

Misalnya, kepada majalah Time, ia secara terbuka menyebut bahwa banyak umat Islam yang tidak mau mengakui bahwa ISIS itu Islam dan dalam tafsirnya banyak yang problematik.

Sikapnya ini jelas diprotes oleh orang yang ngotot mengatakan bahwa teroris tak punya agama. Bahkan, pentolan The New Atheists, Sam Harris pernah ‘memuji’ dengan menyebut apa yang dikatakan Gus Yahya sebagai hal yang segar.

Belakangan, Gus Yahya jadi perhatian. Kali ini, bukan soal lelucon yang ia sampaikan, tapi sikapnya untuk datang ke Israel. Ia dianggap kurang ajar, mencederai harkat warga Palestina yang dijajah.

Gus Yahya dimaki-maki, dihina, bahkan dirisak seperti tak punya kehormatan. Belakangan saya percaya, mungkin nasib murid Gus Dur yang mempromosikan perdamaian itu blangsak.

Di hadapan para Zionis di Israel, Gus Yahya memperjuangkan konsep Islam rahmah. Ia menawarkan pentingnya mencari alternatif tafsir terhadap teks kitab suci. Namun, hal itu diplintir menjadi tuduhan bahwa Gus Yahya menganggap kitab suci dan haditz ketinggalan zaman.

Di Israel, Gus Yahya juga bertemu dengan jagal Benjamin Netanyahu. Fotonya yang berjabat tangan disebarkan, seolah bersalaman dengan penjagal sama dengan bersepakat atas aksinya. Gus Yahya bahkan tidak berusaha menampik dan menjelaskan sikapnya, ia membiarkan tafsir kehadirannya dimaknai berbeda.

Sama seperti Gus Dur, Gus Yahya tidak sedang memaksa orang untuk menuruti tafsirnya. Ia menawarkan gagasan, dimana orang boleh menerima, boleh menolak.

Yang jelas, ia sudah menunjukkan sikap bahwa pembantaian orang Palestina adalah kejahatan. Orang-orang Israel harus mencari jalan tengah untuk mencapai perdamaian, sesuatu yang pernah diperjuangkan Yasser Arafat dan Yitzhak Rabin.

Di Indonesia, orang-orang masih marah kepada Gus Yahya. Mereka menyebut Islam rahmah Gus Yahya cuma gombal, sekadar gincu, padahal Islam rahmah yang ditawarkan sedang diuji.

Lantas, apakah Gus Yahya ngamuk ketika dihina?

Umat yang gemar marah, mudah tersinggung, dan penuh kebencian itu memang ajaib. Pada 2012, ada kelompok umat Islam yang ngamuk, karena kata-kata Gus Dur tertempel di sebuah mobil. Saat itu, sejumlah demonstran menggelar aksi di depan GKI Yasmin, Bogor, Jawa Barat.

Mereka merasa tersinggung dan menganggap kata-kata Gus Dur yang berbunyi “kita lebih butuh Islam yang ramah daripada Islam yang marah” sebagai provokasi. Kita tahu, umat yang semacam ini jumlahnya banyak dan beranak-pinak.

Tapi yang menarik, jika dulu Gus Dur dibenci karena mempromosikan Islam yang ramah, hari ini Gus Yahya dimaki-maki, disindir, dan direndahkan karena memperkenalkan Islam rahmah.

Gus, saya nggak setuju jenengan datang ke Israel, tapi kita memang sedang butuh Islam yang ramah dan penuh rahmah.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.