Serial drama Money Heist. (Netflix)

Bersamaan dengan meroketnya kepopuleran drama kriminal asal Spanyol berjudul Money Heist, lagu Bella Ciao yang kerap dinyanyikan pada setiap aksi protes, menggema kembali. Bella Ciao dalam Bahasa Indonesia berarti: Selamat tinggal, Cantik. Lagu folklor Italia ini menceritakan seorang pemuda yang meninggalkan kekasihnya untuk bergabung dalam aksi melawan fasisme.

Serial Netflix Money Heist itu sendiri menceritakan perlawanan terhadap pemerintahan yang dicetuskan oleh lelaki bergelar “Profesor”. Namun, gelar tersebut sama seperti julukan “Profesor” untuk sosok yang tempo hari sempat mengklaim menemukan obat corona: bukan gelar resmi, hanya panggilan sayang.

Protes sang Profesor di telenovela ini, mengapa hanya penguasa yang boleh mencetak uang? Namun, sebanyak apapun uang yang dicetak oleh negara tidak benar-benar terserap untuk menyelesaikan masalah rakyat.

Maka, Profesor merekrut sebuah komplotan untuk merampok badan percetakan uang negara. Ternyata mereka tidak hanya merampok uang, tapi juga menguasai mesin cetak uang, lalu mencetak sendiri uangnya sampai puas. Bukankah itu yang selama ini dilakukan oleh penguasa?

Baca juga: Kejadian di Depan Mata Kita yang Lebih Seram dari The Conjuring

Aksi mencetak uang sendiri ini disebut sebagai bentuk protes terhadap para kapitalis yang menguasai perekonomian selama ini. Diceritakan sebelumnya, badan percetakan uang negara juga pernah mencetak uang sendiri untuk memenuhi pundi-pundi uang para pejabat. Namun, ketika yang melakukannya hanya rakyat biasa bisa dianggap kriminal bin ilegal.

Salah satu anggota geng perampok di sini adalah perempuan bernama samaran Nairobi. Nah, Nairobi ini sudah punya rekam jejak mencetak uang palsu yang hampir mirip aslinya. Ketika Nairobi mencetak uang pakai mesin cetak resmi milik negara, uang yang dicetaknya otomatis bakalan dianggap legal.

Setelah berhasil merampok uang, kelompok Profesor pun kabur diiringi lagu Bella Ciao. Aksi “Bella Ciao” itu pun sukses. Tanpa sadar, sepanjang tayangan, penonton berpihak kepada pelaku kriminal.

Namun, ketika salah satu anggota kelompok Profesor ditahan pihak berwajib, geng perampok itu kembali. Ditandai dengan aksi sensasional: membuat hujan uang di tengah kota. Otomatis rakyat setempat kegirangan bak kelimpahan BLT.

Baca juga: Ketika Negara Menjadi “A Quiet Place” Tanpa Wujud Monster seperti di Film

Kelompok Profesor menjadi seperti Robin Hood yang mencuri dari penguasa untuk dibagikan kepada rakyat jelata. Berbeda dengan aksi perampokan di Indonesia yang justru sebaliknya.

Dalam serial Money Heist, nama Indonesia sempat disinggung. Karakter bernama Denver menyebutkan bahwa Sulawesi sebagai destinasi wisatanya. Denver juga sempat berlibur di Jawa sambil kebut-kebutan naik becak.

Namun, bisa dipastikan kelompok Profesor tidak akan berani merampok di Indonesia. Sebab sudah ada kelompok perampoknya sendiri. Profesor pastinya tidak sampai hati untuk menambah penderitaan rakyat di sini.

Perampok di Indonesia terkenal kejam. Bahkan bisa merampok di tengah situasi kemanusiaan yang sedang sulit seperti pandemi, dimana bantuan untuk warga yang terdampak turut menjadi sasaran.

Bisa dibilang itu adalah antitesis dari idealisme ala Robin Hood. Robin Hood mengambil harta orang kaya untuk dibagikan kepada orang miskin. Sedangkan di Indonesia, uang untuk orang susah malah dibagikan ke orang yang berkuasa demi memperkaya diri.

Baca juga: Seandainya Nanno “Girl from Nowhere” Pindah ke Indonesia

Walaupun perbuatan Robin Hood tetap tidak bisa dibenarkan, tetapi sosoknya dicintai rakyat miskin. Kalau perampok uang rakyat sudah pasti tidak disukai rakyat. Wajar, jika dikecam banyak orang.

Publik berhak marah ketika haknya dicuri, seperti yang terjadi belakangan ini saat mengetahui ada pejabat yang korupsi. Tapi ada saja yang mencoba untuk memaklumi.

Seorang pesohor pernah membuat analogi bahwa godaan korupsi yang menjerat pejabat ibarat seorang lelaki digoda Gal Gadot di depan mata. Dua-duanya bisa bikin gentar. Kesimpulan dia, setiap orang punya kelemahan masing-masing dalam menghadapi godaan, tinggal tunggu waktu bikin dosanya saja.

Pernyataan tersebut menuai kontra di mana-mana. Sudah menormalisasi korupsi, menyamakan perempuan dengan uang korupsi pula. Apalagi perempuannya adalah Gal Gadot yang notabene Wonder Woman. Nggak takut dipecut pakai tali laso kejujuran tuh orang!

Artikel populer: The Suicide Squad dan Influencer yang Bikin Blunder

Sebagian besar rakyat tentu tidak bisa memaklumi perbuatan koruptor. Namun, protes keras di mana-mana tidak didengarkan. Belakangan ini justru dianggap sebagai cercaan yang bisa meringankan hukuman si pelaku korupsi.

Yup, di negeri ini, perampok uang rakyat nyatanya masih mendapat simpati. Inilah “Money Heist” ala Indonesia.

Jangankan protes melawan fasisme, protes terhadap tindak perampokan uang rakyat saja dianggap bullying. Sementara, hukuman yang diberikan tidak sepadan dengan kerugian dan kerusakan. Bahkan sempat ada gagasan untuk menyebut mantan napi kasus korupsi dengan istilah penyintas korupsi.

Sebagai bentuk perlawanan, sejumlah media mengganti penyebutan koruptor dengan maling, rampok, hingga garong uang rakyat. Namun, perlawanan itu masih seringan-ringannya bentuk perlawanan. Sebab baru melawan dengan kata-kata. KPK lah yang semestinya melawan secara nyata.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini