Ya Inilah, Eranya ‘Hidup Tak Seindah Feed Instagram’

Ya Inilah, Eranya ‘Hidup Tak Seindah Feed Instagram’

Ilustrasi (Dương Nhân via Pexels)

Platform jejaring sosial pernah mengesankan dalam hidup saya. Dari kisah cinta pertama hingga perundungan pertama oleh nyaris mahasiswa sekampus sehari setelah pengumuman SNMPTN. Media sosial-lah yang menjadi saksi bisu, buta, tuli.

Mungkin, begitu juga bagi para netizen Indonesia yang konon adalah pengguna Path paling banyak. Path pernah mengesankan dalam hidup mereka. Tapi sekarang? Ya sudahlah.

Bagi saya, media sosial kini tak lagi bermakna justru saat ia menemukan kesuksesan dalam ragam fiturnya akibat persaingan yang sengit. Mungkin karena saya tak mampu menghadapi tekanan visualnya sih.

Satu-satunya media sosial yang masih saya update hanya Instagram, walaupun sering dibikin geram oleh iklan maupun tekanan visual. Lha, teman-teman punya ribuan followers, saya hanya 125. Itupun sepertiganya olshop hijab yang suka follow semena-mena.

Terus, teman-teman bisa membuat ratusan followers-nya men-tap lambang hati. Saya? Mendapatkan satu hati saja sulit. Sungguh, kesenjangan sosial yang gamblang. Hikz.

Kemudian, satu-satunya realtime chat yang saya gunakan sejak awal hingga sekarang pun hanya WhatsApp. Sebab tak banyak makan kuota, apalagi makan hati.

Sebagai anak kampung, pengalaman mengenal media sosial dimulai sejak usaha warung internet (warnet) menjangkau area kecamatan. Itu berbarengan dengan berkembangnya usaha rental PS dan studio musik.

Sendeso-ndesonya waktu itu, tetap kenal apa yang namanya mIRC. Tapi bingung menggunakannya. Kok nggak bisa-bisa. Oh, ternyata software mIRC di warnet sudah habis masa trial.

Lalu, mengenal Friendster. Tapi waktu itu nggak seru-seru amat. Saling add friend dan bercakap secara virtual dengan teman sekelas sendiri yang jumlahnya hanya belasan, yang hanya sebelahan bilik warnet.

Selanjutnya, mulai nyoba portal live chatroom bernama Bergaul. Di situ, kita bisa berkirim pesan pribadi ke salah satu pengguna yang kita minati.

Tahun 2007, masih jarang orang punya hape berfitur kamera VGA, apalagi di kampung. Username pun menjadi penting, ibarat foto profil yang harus mengesankan citra diri.

Misalnya, Sekar_gryffindorhouse mengesankan doi penyuka Harry Potter aliran Gryffindor garis keras. Kalau kalah di pertandingan Quidditch langsung rusuh.

Baca juga: Lelucon seputar Instagram

Kala itu, media sosial berkontribusi mengajarkan saya pisuhan-pisuhan keminggris. Alhasil, mulai merasakan sensasi bermedia sosial, berekspresi sebebas dan sepuasnya, juga ber-wekaweka. Media sosial juga menjadi platform mencari kenalan yang sehobi dan berbagi kesenangan melalui obrolan.

Memasuki SMA, Bergaul tak lagi diketahui nasibnya, terutama sejak media sosial makin beragam menawarkan kenyamanan. Persaingan antar platform mulai ketat, menjadikan inovasinya kian pesat.

Friendster menemui sakaratul maut dan MySpace ngehitz sebagai jejaring sosial yang mengedepankan fitur berbagi karya musik. Kemudian, Last.fm hadir sebagai platform para pecinta lagu dan musik yang paling ciamik. Tapi, semua sirna tatkala Facebook jadi kembang desa.

Saya sempat menduga Facebook akan bernasib sama dengan pendahulunya, ketika Twitter mulai banyak pengguna. Ternyata, Facebook mengakali dengan permainan online dan menanamkan gengsi sosial di dalamnya.

Komputer pun menyala siang-malam demi lembur di Caffeland dan giat berternak di FarmVille. Semata-mata agar bisa sesumbar prestasi kenaikan level di dinding Facebook.

Mengawali karir mahasiswa, Facebook justru makin ramai. Bukan lagi oleh berbagai permainan, melainkan isu-isu politik, doa bersama, dan tak ketinggalan barang dagangan. Para pegiat Facebook tampaknya lebih banyak aktivis, akademisi, relawan partai politik, para bakul, dan buzzer.

Beberapa waktu lalu, Marx, eh Mark Zuckerberg diseret ke parlemen AS dan dituntut sejumlah LSM Indonesia perihal skandal keamanan data pribadi pengguna. Konon, beberapa di antaranya milik pengguna Indonesia.

Namun, Facebook tetap primadona sebagai ruang debat politik hingga pemikiran. Di tengah diskusi soal gelombang revolusi industri 4.0, ternyata debat politik praktis masih lebih seru dibandingkan isu yang sebetulnya mewakili realitas bisnis platform online tersebut.

Melalui asuhan Facebook, Instagram pun semakin menggenjot fitur. IG kian ramai tak hanya sebagai media sosial, namun juga pasar.

Industri-industri kegirangan, karena meluasnya akses pasar dan iklan cuma-cuma lewat beauty vlogger. Perempuan bersaing paras, sementara industri bersaing produk. Mulai dari produk kosmetik, hape selfie expert, hingga ratusan aplikasi editor foto.

Artikel populer: Tanda-tanda Mulai Bosan dengan Instagram dan Alasan Mengapa Tetap Bertahan

Sebagai media eksistensi diri di jaman ini, IG melatari gagasan bahwa akta kelahiran kini tak cukup sebagai penanda kelahiran bayi. Lalu, dibuatlah akun IG bayi, bahkan sejak masih dalam kandungan. Jadinya foto scan USG yang dipakai mengisi gambar profil.

Kini, semboyan ngehitz “hidup tak seindah cocote Mario Teguh” juga telah tergantikan oleh “hidup tak seindah feed Instagram”.

Konon, Path yang dibidani oleh alumni Facebook tak mampu lagi bersaing fitur dengan start up media sosial lainnya, karena mengingkari prinsip utamanya, yakni menambah jangkauan pertemanan menjadi 500. Begitu kata om Nukman Luthfi, pengusaha internet marketing sekaligus konsultan digital di Indonesia.

Tapi, berkaca pada karier start up media sosial yang cemerlang saat ini, seperti Twitter, Facebook dan anaknya, Instagram, prinsip sesungguhnya yang dilanggar oleh Path adalah prinsip media sosial jaman ini. Bukan soal keintiman berelasi, melainkan prinsip menebar gengsi sosial dan selebihnya adalah media pertarungan argumentasi.

Jika media sosial yang dulu dikenal sebagai platform mencari kenalan yang sehobi dan berbagi obrolan ataupun karya, kini berubah menjadi media eksistensi diri di ruang publik. Dan, ruang publik jumlahnya tak dibatasi dalam jumlah 150 atau 500 pengguna.

Pada 2015, Path yang gaungnya paling besar di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, diakuisisi oleh Kakao dengan keyakinan pengguna yang besar sebagai potensi pertumbuhan start up-nya.

Path sempat sadar bahwa prinsip media sosial adalah eksistensi diri, lalu mencoba dengan melebarkan sayap pertemanan dan mengembangkan aplikasi selfie. Tapi, itu tampaknya sudah sangat terlambat.

Facebook dan Instagram telah jadi jawara di dua fasilitas yang menopang prinsip eksistensi, yakni wadah pertarungan gengsi sosial dan debat opini.

Atau, mungkin berakhirnya karier Path sebenarnya karena kalkulasi efisiensi korporasi. Kalau itu sih biar para analis bisnis dan akademisi saja yang mengedukasi kami-kami para netizen haus eksistensi ini.

Jadi, kamu masuk tim gengsi sosial atau debat opini?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.