Ilustrasi (Photo by Jusdevoyage on Unsplash)

Voxpop Indonesia pernah menayangkan artikel berjudul Social Distancing, Semoga Tidak Malah Bikin Kerumunan Baru di Tempat Lain” yang ditulis oleh Adhityawarman Menaldi. Artikel itu kurang lebih membahas makna social distancing kaitannya dengan upaya mencegah penyebaran virus Corona sekaligus menegakkan kembali sandaran kursi kesadaran kita sebagai anggota unit terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga.

Social distancing bisa kembali memperkuat nilai-nilai kebersamaan dalam keluarga yang selama ini kadang terabaikan, katanya. Komunikasi antara suami dan istri, orangtua dan anak-anak, serta anggota keluarga lainnya di dalam rumah bisa terjalin lebih intens.

Namun, FYI aja nih, bagi sebagian mahasiswa yang tinggal jauh dari rumah keluarga dan menetap di indekos, social distancing tentu menimbulkan perkara tersendiri. Setidaknya itu yang saya alami dan beberapa teman. Meski demikian, ada maknanya juga kok kalau social distancing ini dapat dijalani dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Awalnya, kami menyambut gembira keputusan kampus – sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta – ketika mengeluarkan kebijakan perkuliahan online atau kuliah dari rumah. Kebayang kan, tidak perlu capek-capek untuk ngampus dan bisa kuliah sambil berleha-leha di kos-kosan.

Baca juga: Virus Corona: 10 Alasan Mengapa Anda Tidak Perlu Panik

Tetapi, lambat laun, mulai muncul masalah. Tinggal di rumah, eh kos-kosan, membuat kami yang terbiasa saling berjumpa harus menahan diri untuk tidak berinteraksi secara langsung. Beberapa teman kemudian mulai mengeluh.

Mereka – meskipun baru beberapa hari mematuhi imbauan itu – merasa terisolasi karena hanya melihat dirinya sendiri di depan cermin. Mau terus-terusan main gawai yang selama ini diandalkan sebagai bentuk pelarian dari rasa sepi? Lama-lama bosan juga.

Lebih ekstrem, pikiran jadi gelisah karena nggak punya teman ngobrol. Beberapa malah curhat pengen ajak ngobrol sesama anak kos, tapi semuanya sibuk ngobrol dengan pacarnya aktivitasnya masing-masing. Duh..

Kondisi itu kemudian mendorong beberapa anak kos untuk nekat bertemu, sekadar ngopi ataupun mengumbar cerita lepas. Dengan anggapan bahwa virus Corona tidak membuat kaum muda sakit, karena biasanya yang kena adalah orang lanjut usia atau yang punya riwayat penyakit sebelumnya. Sebuah pikiran yang sempit sebetulnya dan butuh pencerahan dari kakak-kakak di Twitter yang mendadak expert, eh?

Baca juga: Agar Tidak Tertular Virus Corona di Kendaraan Umum, Ini Caranya

Tetapi beruntung, ada teman yang getol mengingatkan bahwa sebaran virus ini tidak mengenal usia, jenis kelamin, agama, suku, apalagi pilihan politik. Semua orang bisa kena. Dan, semua orang yang terpapar berpotensi menulari orang lain, meskipun tidak menunjukkan gejala apa-apa.

Social distancing dengan kuliah di rumah bagi para mahasiswa, tentu bisa menyelamatkan orang lain. Jadi bukan untuk diri sendiri saja. Seorang teman bahkan sampai mengancam untuk melapor ke dosen, jika tahu ada yang berani keluyuran nggak jelas. Sebuah kepedulian yang sebetulnya diutarakan dengan cara yang ngeri-ngeri sedap.

Nah, terlepas dari amalan pribadi masing-masing orang, perlu disadari bahwa anak-anak kos seperti kami sebenarnya juga bisa menemukan makna lain dari social distancing. Meskipun, tempat tinggal kami jauh dari orangtua dan harus menghabiskan banyak waktu perkuliahan dari kos-kosan. Berikut beberapa hal yang sempat saya catat.

Pertama, tinggal sendiri di kos juga bisa menguatkan relasi kita dengan orangtua dan keluarga di rumah. Seorang kawan yang berasal dari Sulawesi bercerita bahwa hampir tiap hari dia melakukan kontak dengan keluarganya dan saling menanyakan kabar. Kawan yang manja dan mudah panik ini merasa bahwa dukungan moril keluarga sangat terasa baginya di tengah pandemi COVID-19 ini.

Baca juga: Level Hoaks Kesehatan di Atas Politik: Sehat Harus, Bodoh Jangan

Selama ini, dia menelepon orangtuanya hanya untuk meminta uang, tapi sekarang dia menjadi sangat merindukan orangtuanya dan baru sadar betapa pentingnya keluarga.

Kedua, kesadaran lain yang terbentuk di dalam diri anak kos adalah menjaga kebersihan lingkungan atau paling tidak kamar sendiri.

Mahasiswa akhirnya lebih punya banyak waktu untuk membersihkan dan merapikan kamar yang biasanya berantakan. Selain itu, pakaian yang kotor langsung dicuci tanpa membiarkannya bertumpuk-tumpuk. Juga ada tindakan untuk membereskan sampah tanpa menunggu petugas kebersihan dari RT/RW setempat. Sungguh, revolusi dimulai dari tempat tidurmu!

Ketiga, perkuliahan online, walaupun terdapat beberapa kendala yang menyertainya, pada satu sisi memberikan efek partisipasi aktif dari para mahasiswa untuk menyampaikan gagasannya. Terutama, bagi mereka yang selama ini jarang bicara atau hadir dalam kelas.

Mahasiswa mau tak mau harus memberikan pendapatnya, baik lewat aplikasi semacam video conference ataupun grup WhatsApp, supaya bisa dinilai oleh dosen. Bahkan, mahasiswa diminta untuk berdiskusi dahulu dan sesudah itu hasil percakapan online-nya dikirim ke dosen.

Artikel populer: Fix, Sholat Jumat di Rumah Aja daripada Nanti Nggak Bisa Sholat Lagi

Memang sih, masing-masing mahasiswa punya pengalaman kuliah online yang berbeda-beda. Namun, dari cerita di atas, setidaknya kita bisa mendapat pelajaran untuk benar-benar memanfaatkan teknologi sebaik mungkin. Jadi, bukan main game aja yang onlen-onlen, bisa buat belajar juga, ehm.

Keempat, beberapa teman mahasiswa juga lebih banyak terlibat dalam grup-grup WA keluarga untuk memberikan informasi seputar pandemi. Sebelumnya, mereka memang hanya jadi silent reader akibat kalah saing sama om dan tantenya soal update harga barang maupun hoaks informasi soal politik.

Kini, didorong oleh rasa sayang pada keluarga, semuanya pun berusaha untuk memberikan informasi yang lengkap dan benar sekaligus menangkal informasi-informasi bohong. Nah, gitu dong! (jangan lupaaa transferan naik dua kali lipat yaaa…)

Ya begitulah, makna lain social distancing bagi anak-anak kosan, terutama kalangan mahasiswa. Jadi, bersatulah seluruh mahasiswa se-Indonesia! Mari bantu hentikan penyebaran virus ini dengan lebih sadar diri. Biar bisa cepat kembali turun ke jalan, hihi…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini