X-Men Mestinya Ganti Nama Jadi X-Women

X-Men Mestinya Ganti Nama Jadi X-Women

X-Men: Dark Phoenix (FOX)

Sebelum masuk ke pembahasan film X-Men: Dark Phoenix, mesti diakui bahwa X-Men termasuk seri film Marvel yang membingungkan. Jika nekat langsung nonton Dark Phoenix tanpa tahu cerita sebelumnya, penonton bakalan pusing dan bertanya-tanya.

X-Men kok nggak ada Wolverine? Terus kenapa tiba-tiba James McAvoy sebagai Profesor X muda jadi botak kayak Dr Bernard Mahfoudz? Deadpool mana Deadpool?”

Untuk merunutkannya, kita bisa mulai dari trilogi asli film X-Men yang diawali pada tahun 2000, yaitu X-Men, X2, dan The Last Stand. Lalu dibuatlah prekuel berjudul First Class. Menceritakan bagaimana Charles Xavier mengumpulkan mutan-mutan generasi awal yang ditampung di rumah gedongnya.

Untuk memperpanjang umur waralaba serial ini, dirilis lah Days of Future Past yang gunanya untuk melanjutkan cerita First Class, tapi justru mengeset ulang cerita trilogi aslinya. Gara-gara Wolverine kembali ke masa lalu dan mengubah alur waktu, cerita X-Men, X2, dan The Last Stand akhirnya tidak berlaku lagi. Jadi, trilogi ini bisa di-skip. Kecuali, kamu pengagum Hugh Jackman.

Sebagai gantinya, kita mendapatkan sekuel berjudul Apocalypse yang ceritanya lebih segar karena dirombak total. Ditambah, kehadiran Sophie Turner sebagai Jean Grey muda.

Baca juga: Membayangkan ‘Superhero’ Marvel Beraksi di Indonesia

Selain cerita rombongan mutan di atas, X-Men juga punya cerita edisi X-Men Origins. Sebagai maskot X-Men, Wolverine sudah punya tiga film solo, yaitu Wolverine, The Wolverine, dan Logan.

Deadpool bisa juga dibilang edisi X-Men Origins. Namun, setelah melihat dua film solonya, sepertinya Deadpool dibuat hanya untuk mengolok-olok alur cerita X-Men yang njelimet.

Sampai di sini, kita sudah mention beberapa film, seperti First Class, trilogi X-Men, tiga film Wolverine, Days of Future Past, Apocalypse, dan dua film Deadpool. Maka, Dark Phoenix adalah film ke-12 dari semesta sinematik X-Men versi FOX. Hingga nanti kita bakalan bertemu dengan The New Mutants pada 2020.

Di Indonesia, penayangan X-Men: Dark Phoenix molor dari jadwal. Mungkin pihak bioskop ingin memberikan ruang kepada film Lebaran karya anak bangsa. Namun, malah terkesan dimanja. Menurut saya, itu langkah yang tak perlu. Lagipula, sejak hari pertama tayang, Dark Phoenix justru banyak menuai kritikan pedas dan dilempari tomat busuk oleh penonton di luar negeri.

Kenapa? Mungkin saya tahu jawabannya.

Baca juga: Ketika Film ‘Superhero’ Indonesia Punya Dua Kubu ‘Universe’ seperti Marvel dan DC

Pasca kesuksesan studio sebelah melalui Wonder Woman versi Gal Gadot yang dihujani pujian, Marvel sepertinya tidak mau kalah. Maka, lahirlah film tentang jagoan cewek bernama Captain Marvel. Saking kuatnya, ia digadang-gadang sebagai tokoh utama di Marvel Cinematic Universe setelah Robert Downey Jr pensiun sebagai Tony Stark a.k.a Iron Man.

Namun, film Captain Marvel tidak bisa memuaskan semua orang. Ditambah pemerannya, yaitu Brie Larson, dicap sebagai SJW menyebalkan di dunia maya.

Terlepas dari itu, cerita kebangkitan Captain Marvel jelas mengajarkan para perempuan untuk menjadi tangguh. Pesan moralnya terpampang nyata ketika adegan Carol Danvers yang selalu bangkit setiap jatuh. Teladan perempuan yang pantang menyerah.

Lalu, Marvel melalui FOX mengeluarkan Dark Phoenix. Phoenix sendiri adalah makhluk mitos berbentuk burung yang selalu bisa bangkit dari kematian. Bagi penggemar serial Game of Thrones, tentulah film ini bisa jadi pengobat rindu kepada Sansa Stark. Setelah sukses menjadi contoh tokoh perempuan fiksi yang berjaya di Utara Westeros, Sophie Turner sekali lagi ingin menunjukkan kekuatan terpendam seorang perempuan.

Baca juga: Andaikan Jon Snow dan Tony Stark Curhat ke Cermin Lelaki

Jean Grey punya masa lalu yang buruk. Terlahir sebagai mutan, semasa kecil ia pernah tak sengaja membuat orang tuanya cilaka dua belas. Sampai akhirnya, ia didatangi oleh Charles Xavier yang mengajaknya sekolah sebagai program wajib belajar 12 tahun dari pemerintah.

Andaikan saja Profesor Albus Dumbledore nggak kalah gercep dari Profesor X, mungkin Jean Grey sudah jadi murid Hogwarts dan masuk asrama Slytherin.

Di sekolah khusus mutan, Jean bergaul dengan sesama spesiesnya. Bahkan, ia punya pacar bernama Scott alias Cyclops yang kemana-mana pakai kacamata. Kalau di Indonesia, Cyclops ini seperti Ian Kasela vokalis band Radja. Jangan-jangan kalau cematanya dilepas, mata Ian Kasela juga bisa mengakibatkan ledakan optis.

Menurut cerita aslinya, Jean Grey terlibat cinta segitiga dengan Scott dan Logan. Namun, gegara Wolverine mengubah masa lalu, jodoh pun berubah: Jean jadi milik Scott seorang. Atau, jangan-jangan Marvel sengaja menghilangkan unsur cinta segitiga dalam ceritanya karena takut dituduh kampanye Illuminati?

Selain Jean, tokoh perempuan yang menonjol di film ini adalah Raven. Seorang mutan yang bisa mengubah bentuk fisik diri sendiri sesukanya. Kalau di Indonesia, Raven mirip Pak Wiranto yang jago menyamar.

Artikel populer: Terheran-heran dengan Bintang Hollywood yang Ngomong Bahasa Indonesia

Dalam misi penyelamatan, Raven tampil sebagai pemimpin. Ia juga vokal menyuarakan kritik kepada Profesor X yang menurutnya melenceng dari niat awal. Bahkan, ia tak segan-segan mengatakan bahwa X-Men sebaiknya ganti nama jadi X-Women. Alasannya, para anggota perempuan X-Men justru yang paling berkontribusi dalam tim.

Selain Jean Grey dan Raven, anggota X-(Wo)Men yang punya banyak jasa adalah Storm, si mutan pengendali cuaca. Pawang hujan di Xavier’s School for Gifted Youngster. Kalau di Indonesia, Storm bisa kerja di BMKG. Bukan cuma sebagai orang yang meramal cuaca, justru jadi pengatur cuaca itu sendiri.

Can you imagine it?

Storm (sebagai pembawa acara ramalan cuaca): “Hari ini kayaknya enak hujan aja kali ya. Setelah dua hari yang lalu cuaca panas terus. Nanti dikasih petir secukupnya deh. Kalau menurut penonton gimana? Mau kita adakan voting?”

Namun, ada baiknya saran dari Raven itu dipertimbangkan oleh Marvel. Nanti, The New Mutants bisa pakai nama X-Women saja. Soalnya, setelah Jean Grey jadi Dark Phoenix, kesaktiannya tidak ada yang menandingi.

Berhubung Dark Phoenix beda semesta dengan Captain Marvel, jadilah mereka secara paralel bisa menjadi perempuan paling kuat di masing-masing semesta. Tak perlu terlibat gimmick kompetitif ala cewek.

Nah, cowok yang nggak suka Captain Marvel atau Dark Phoenix, bisa jadi karena nggak mau ada cewek yang lebih kuat daripada cowok. Mungkin bukan salah karakteristik superhero ceweknya, tapi memang penontonnya aja yang misogini.

3 COMMENTS

  1. Andaikan saja Profesor Albus Dumbledore nggak kalah gercep dari Profesor X, mungkin Jean Grey sudah jadi murid Hogwarts dan masuk asrama Slytherin.

    Di sekolah khusus mutan, Jean bergaul dengan sesama spesiesnya. Bahkan, ia punya pacar bernama Scott alias Cyclops yang kemana-mana pakai kacamata. Kalau di Indonesia, Cyclops ini seperti Ian Kasela vokalis band Radja. Jangan-jangan kalau cematanya dilepas, mata Ian Kasela juga bisa mengakibatkan ledakan optis. Hahahaha

  2. Really? misogini? Hardcore golongan kiri sudah sampai indonesia rupanya. Heran tulisan sampah begini keterima dimari

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.