Wujud Sesungguhnya Sabyan Gambus

Wujud Sesungguhnya Sabyan Gambus

Sabyan Gambus (Youtube/Official Sabyan Gambus)

Sabyan Gambus sedang menjadi topik pembicaraan masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak muda. Mulai dari warung kopi pinggir jalan, kafe di tengah kota, sudut kampus, kantin pesantren, hingga ranah dunia maya.

Cara sederhana untuk melihat kepopuleran grup musik tersebut bisa dengan mengamati video-videonya di Youtube. Akun resmi Sabyan Gambus telah di-subscribe lebih dari 3 juta orang. Video ‘Ya Habibal Qolbi’ yang mereka unggah bahkan telah ditonton lebih dari 203 juta kali.

Kepopuleran video tersebut bahkan melampaui lagu ‘Sayang’-nya Via Vallen yang ditonton lebih dari 159 juta kali. Kini, Sabyan Gambus melalui lagu ‘Ya Habibal Qolbi’ siap menyaingi kepopuleran lagu Siti Badriah berjudul ‘Lagi Syantik’ yang sudah ditonton lebih dari 262 juta kali.

Itu baru satu video. Video lain berjudul ‘Deen Assalam’ sudah ditonton lebih dari 108 juta kali, kemudian ‘Ya Asyiqol’ telah disaksikan lebih dari 105 juta kali. Jika jumlah views tersebut kita hitung semua, jumlahnya melebihi total penduduk Indonesia. Waw!

Belum lagi, dari video yang diunggah netizen, dalam arti bukan akun resmi Sabyan Gambus. Ya coba saja dihitung sendiri, tapi yang pasti akun-akun ini turut membantu mendongkrak popularitas grup musik anak-anak muda tersebut.

Para penonton bahkan tak peduli apakah video itu berasal dari akun resmi atau bukan. Yang penting, Sabyan. Satu lagu Sabyan yang diunggah dari akun tak resmi rata-rata ditonton ribuan kali, bukan ratusan apalagi puluhan.

Sabyan Gambus dibentuk sejak 2015. Semula, mereka hanya grup musik gambus yang mengisi acara-acara hajatan di kampung. Karena show mereka yang hanya berskala kampung, nama mereka pun hanya ramai diperbincangkan saat musim hajatan, selebihnya tidak.

Namun, popularitas yang dulu ‘kelas kampung’ tersebut kini telah merangsek ke level nasional. Video ‘Ya Habibal Qolbi’ dan ‘Rohman Ya Rohman’ menjadi tonggak kepopuleran Sabyan Gambus sekaligus vokalisnya, Khoirunnisa alias Nissa, pada akhir 2017.

Popularitas Sabyan Gambus menyadarkan sebagian masyarakat Indonesia tentang potensi anak-anak muda, yang bisa dibilang tidak biasa ketika orang-orang sedang menggandrungi musik dansa elektronik (EDM) dan dangdut koplo.

Namun, apapun dan bagaimanapun karier Sabyan Gambus, yang perlu dipahami sekarang adalah fakta bahwa grup musik itu menjadi fenomena sosial di tengah masyarakat kita. Bukan cuma di dunia musik, lagu-lagunya yang bertema religi juga menjadi fenomena dalam keberagamaan masyarakat kita.

Sementara itu, kita pun tahu bahwa belakangan ini terjadi dikotomi dalam masyarakat kita. Ada semacam polarisasi di kalangan umat Islam Indonesia antara Islam moderat, Islam radikal, dan lainnya. Hal itu terjadi seiring adanya kubu-kubu dalam kontestasi politik.

Namun, Sabyan adalah sesuatu yang luar biasa. Di tengah polarisasi masyarakat yang begitu kuat, Sabyan menjadi entitas yang disukai dan mampu menyatukan umat melalui musiknya.

Satu alasan dasar mengapa Sabyan bisa diterima semua golongan karena pada dasarnya mereka merupakan representasi dari kebanyakan umat Islam di Indonesia. Diakui atau tidak, secara naluriah masyarakat kita doyan hiburan, namun pada saat yang sama tidak mau kehilangan identitas.

Dan, entitas yang dapat menggabungkan dua kebutuhan dasar psikologis masyarakat kita adalah Sabyan Gambus.

Sebetulnya ada Habib Syech Assegaf yang juga memiliki karakter mirip Sabyan. Namun, Habib Syech identik dengan NU, sehingga membuat ia sulit diterima oleh kalangan non-NU.

Sabyan juga membuat kita menyadari satu hal bahwa terlalu gegabah untuk membagi umat Islam di Indonesia menjadi kelompok moderat dan radikal, Hizb Allah dan Hizb Syaithon. Ternyata masih ada wajah keberagamaan lain yang menjadi magnet dalam masyarakat kita yang beragam. Dan, mereka menjadi idola.

Pada awal 2018, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melakukan penelitian tentang bentuk keagamaan pada anak muda Indonesia. Hasilnya, ada hibridasi identitas di kalangan anak muda muslim.

Sabyan adalah bentuk praktik keberagamaan yang terbentuk dari hibridasi identitas tersebut. Sah-sah saja mengatakan bahwa mereka adalah pemuda-pemudi Islami atau pendakwah Islam damai, sebab sebutan itu cocok-cocok saja dengan mereka.

Sabyan tidak pernah sekalipun (setidaknya sampai hari ini) menjelek-jelekkan kelompok tertentu. Mereka bisa dibilang wajah Islam damai di Indonesia dalam arti yang sesungguhnya. Mengapa?

Belakangan banyak kelompok di akar rumput yang kerap berteriak Islam damai, tapi justru seringkali mendakwahkan ‘Islam damainya’ dengan cara yang kurang damai. Dan, Sabyan tampak masih istiqomah menjaga kedamaian itu sesuai lagu ‘Deen Assalam’ yang sudah ditonton lebih dari 108 juta kali di Youtube.

Itu membuktikan bahwa pada dasarnya masyarakat kita yang beragam ini cinta damai dan toleran. Hanya saja kepentingan politik telah mengoyaknya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.