Ilustrasi. (Image by Christian Dorn from Pixabay)

Belakangan muncul sengketa perihal grup Warkopi, yang tentu memicu pro dan kontra di kalangan netizen. Warkopi meniru grup Warkop DKI, mulai dari kemiripan wajah sampai nama grup yang cuma ditambah satu huruf. Konten dari grup ini juga persis dengan beberapa adegan di film-film yang diperankan Warkop DKI.

Awalnya Warkopi dipuji, tapi ketika semakin ramai dan mendapat tanggapan dari Indro Warkop dan Lembaga Warkop DKI, mereka dicerca karena dianggap tidak kreatif dan merupakan imitasi dalam konteks yang peyoratif.

Personel Warkopi adalah orang-orang yang viral di Tiktok karena memiliki kemiripan wajah seperti anggota Warkop DKI. Semula fans Warkop DKI mendukung mereka untuk kolaborasi. Lalu, mereka bertemu dan akhirnya dibuat grup bernama Warkopi yang ternyata juga memiliki manajemen artis.

Dalam corak estetika yang berkembang pada era postmodern, maksud dibuatnya seni tiruan dibagi menjadi dua, yaitu parody dan pastiche.

Hari ini, masyarakat telah mengenal parodi, namun maknanya tidak sekadar seni tiruan. Parodi adalah seni tiruan yang dimaksudkan untuk mengkritik atau bahkan menghina. Biasanya dilakukan oleh komedian untuk mengkritik politisi, misalnya seperti yang pernah dilakukan seniman Butet Kartaredjasa dan Sujarwo di sebuah program TV.

Baca juga: Sebab Humor Adalah Cara Agar Kita Tak Lupa Berpikir

Sedangkan pastiche adalah kebalikannya, yaitu tiruan yang dibuat dengan maksud untuk selebrasi dan memuji. Contoh paling kelihatan dari pastiche banyak dilakukan oleh Warkop DKI sendiri.

Misalnya, film Manusia Enam Juta Dollar (1981) yang merupakan bentuk pastiche serial TV Amerika berjudul The Six Million Dollar Man (1973-1978). Film lainnya, Chips (1982) yang merupakan pastiche dari CHiPs (1977-1983), yang juga serial TV Amerika. Dua film yang disajikan secara komedi oleh Warkop DKI ini menunjukkan bahwa pastiche pun bisa disajikan dalam format humor.

Awalnya, netizen menganggap Warkopi sebagai sebuah pastiche, grup yang merupakan selebrasi dari Warkop DKI. Bahkan dianggap sebagai the next reborn. Namun, sejak dikritik keras oleh Indro Warkop dan Lembaga Warkop DKI sebagai pemegang hak eksklusif dari Warkop DKI, tak sedikit juga netizen yang kontra dan menganggap kemunculan Warkopi sebagai sebuah tiruan yang berorientasi buruk, dalam istilah seni disebut sebagai epigon.

Baca juga: Kita Memang Butuh ‘Garis Lucu’ dalam Beragama

Dalam filsafat estetika klasik, oleh Plato, seni disebut sebagai mimesis, yaitu tiruan dari kenyataan. Seni yang pada dasarnya merupakan tiruan ini ketika kembali ditiru, dimaknai sebagai epigon. Istilah “epigon” diambil dari istilah Yunani “epigonoi” yang bermakna penerus. Dalam estetika, istilah “epigon” dimaknai pengikut dan peniru yang membuatnya lebih rendah dari yang asli.

Dalam hal ini, Warkopi merupakan sebuah kelompok yang meniru secara persis, mulai dari nama, cara berpakaian, sampai cara berperilaku dari anggota grup komedi Warkop DKI yang dapat dilihat dari beberapa film.

Industri Budaya

Seni yang berkembang dalam lingkup industri budaya pada dasarnya tidak bisa berdiri sendiri tanpa sokongan dari segi hukum dan ekonomi. Itulah kenapa kemunculan grup ini mendapatkan tanggapan keras yang melayang langsung dari Indro Warkop dan Lembaga Warkop DKI sebagai pemegang hak eksklusif atas kekayaan intelektual Warkop DKI.

Baca juga: Jika Bukit Algoritma Jadi Latar Tayangan Komedi Situasi

Melalui konferensi pers, Hanna Sukmaningsih selaku ketua Lembaga Warkop DKI dan anak dari almarhum Kasino, memberi pernyataan resmi. Poinnya adalah grup Warkopi tidak menghargai Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yang secara eksklusif dipegang oleh lembaga.

Lembaga Warkop DKI merupakan lembaga yang dibentuk oleh anggota Warkop DKI sebagai lembaga yang memegang hak eksklusif dari brand Warkop DKI yang dilindungi oleh hukum. Kekecewaan ini juga didukung oleh pernyataan Satrio selaku putra dari almarhum Dono, dan Hada selaku putri dari Indro. Sebagai anak dari anggota Warkop DKI, mereka merupakan ahli waris dari Warkop DKI.

Warkop sendiri merupakan sebuah brand yang dilindungi oleh UU No 28/2014, dimana dalam pasal 4 dijabarkan adanya hak moral dan hak ekonomi. Secara hak moral memang terjadi pelanggaran, salah satunya tidak ada izin secara langsung. Hal inilah yang disebut Lembaga Warkop DKI sebagai “tidak memiliki etika”.

Artikel populer: Menjadikan Patrick Sebagai Panutan Hidup. Ya, Patrick Star!

Yang kedua, terjadi pelanggaran hak ekonomi karena Warkopi beserta manajemennya telah melakukan kegiatan komersial, antara lain film pendek yang ditayangkan di media internet, seperti Youtube, serta diundang ke stasiun TV nasional.

Seni tiruan memang sering mendapatkan masalah jika sudah berkenaan dengan hukum, sekalipun membawa-bawa istilah pastiche ataupun parodi. Di negara yang penegakan hukumnya ketat soal HAKI, seni tiruan harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari pemegang hak ataupun ahli waris.

Memang betul, penegakan hukum dan hukum tertulis merupakan dua hal yang berbeda, namun saling berkaitan. Jika penegakan hukum sengaja dilonggarkan, hukum berupa undang-undang yang sudah susah payah dirancang akan terasa percuma.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini