Wahai Suami, kok Ngebet Banget Sampai Istri Sendiri Diperkosa?

Wahai Suami, kok Ngebet Banget Sampai Istri Sendiri Diperkosa?

Ilustrasi (Skeeze via Pixabay)

Belakangan, kontroversi soal boleh atau tidaknya suami memaksa melakukan persetubuhan dengan istrinya, mencuat dalam sebuah bahasan tentang RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Pemerkosaan dalam pernikahan (marital rape) ini begitu nyata, terutama di negara-negara yang mengglorifikasi kultur pemerkosaan.

Ini terjadi lantaran banyak laki-laki kesulitan melihat perempuan sebagai manusia merdeka. Banyak laki-laki tidak dapat memahami mengapa perempuan tidak diklasifikasikan sebagai benda atau budak seks.

Tentu konsep perempuan sebagai manusia seutuhnya yang memiliki akal dan keinginan sendiri sangatlah bertentangan dengan logika bahwa istri adalah properti suami. Logika ini, salah satunya, justru bersumber dari aturan-aturan lain di beberapa negara barat. Bahwa perempuan adalah properti dengan keperawanan sebagai komoditas yang bisa dipindahtangankan.

Berdasarkan logika keperawanan sebagai komoditas, pada mulanya perempuan adalah properti milik ayahnya. Kemudian, setelah ditransaksikan dalam pernikahan, maka perempuan menjadi properti milik suaminya.

Sekarang paham ya, kenapa banyak ayah memperkosa anak perempuannya, bahkan ada yang sampai bertahun tahun. Juga, dalam beberapa kasus, selama bertahun-tahun suami memperkosa istrinya dalam keadaan tidak sadar dengan cara diam-diam menenggakkan obat ke istrinya ketika sedang tidur.

Baca juga: Bilang Suka Sama Suka, Nyatanya Memperkosa

Dalam Historia Placitorum Coronæ, Sir Matthew Hale menjelaskan bahwa perempuan dianggap telah memberikan persetujuan (konsen) yang tidak dapat dibatalkan, sehingga suaminya bisa menuntut hubungan seks kapan saja.

Hukum di Amerika dan Inggris Raya pada masa lampau (sudah tidak berlaku lagi) juga melihat perempuan sebagai entitas yang lebih rendah dari laki-laki dan hak-hak istri telah diambil oleh suaminya ketika mulai berumah tangga. Hukum-hukum dari Inggris itu kemudian banyak berdampak ke negara-negara lain di sekitarnya, termasuk negara bekas jajahan.

Sebab itu, jelas dong kenapa suami tak ingin disalahkan ketika memaksa istrinya melakukan hubungan seksual, dan menolak tuduhan melakukan pemerkosaan dalam rumah tangga. Karena perempuan cuma dianggap sebagai properti, dengan keperawanan sebagai komoditas utamanya. Lantas, bagaimana dengan persetujuan atau konsen, serta akal, pikiran, dan keinginan perempuan? Nggak penting.

Bagi mereka, cuma satu yang penting, yaitu melindungi perempuan sebagai properti milik suami. Maka, dibentuklah hukum terkait pemerkosaan. Pemerkosaan, berdasarkan hukum yang usang tersebut, dianggap sebagai pencurian properti. Kali ini, komoditasnya bisa dibedakan menjadi dua: keperawanan dan seksualitas.

Baca juga: Kamu Bilang Perempuan di Rumah Saja Biar Aman, tapi Nyatanya Tidak

Laki-laki yang berhubungan seks dengan perempuan yang telah bersuami (baik dengan atau tanpa konsen) dianggap telah melanggar hukum karena telah melakukan invasi terberat terhadap properti milik si suami.

Dengan logika ini, memperkosa istri orang adalah pencurian properti dari seorang suami, sementara memperkosa anak gadis adalah pencurian properti dari seorang ayah. Maka, beberapa hukum terkait kasus pemerkosaan sesungguhnya dibuat untuk melindungi properti laki-laki dibandingkan melindungi perempuan itu sendiri.

Itulah mengapa sebagian orang berpikir bahwa perempuan yang sudah diperkosa, ya tinggal dikawinkan saja dengan si pelaku. Toh, komoditasnya sudah diambil pula.

Nah, orang-orang yang nggak ngerti konsep tersebut dianggap sudah mabuk kesetaraan, konsen, dan relasi kuasa. Mereka kurang kebarat-baratan, karena nggak bisa memahami logika hukum negara-negara barat yang ketika itu merendahkan menempatkan perempuan sebagaimana mestinya.

Baca juga: Perempuan juga Berhak Blak-blakan soal Seks

Konsep kesetaraan pun dinilai tidak masuk akal. Bagaimana bisa istri memiliki hak yang setara dengan suami? Jadi, kalau ada dua manusia yang memutuskan untuk hidup bersama dalam organisasi terkecil bernama keluarga, maka keduanya memiliki hak yang sama sebagai manusia karena dilindungi undang-undang salah satunya harus lebih rendah, terutama kalau dia perempuan. Gitu kan?

Karena itu, istri kerap menjadi budak seks suami. Lha, siapa peduli kalau dia lelah sehabis bekerja? Kalaupun dia lelah abis nyuci, ngepel, masak, ngegosok, dan momong anak, juga bukan merasa urusan suami. Pokoknya istri harus nurut apa kata suami. Titik! Masa harus percaya tulisan-tulisan progresif soal wacana gender dalam Islam atau yang membahas hadis melalui interpretasi feminis?

Lalu, konsep soal konsen alias persetujuan. Lho, masa berhubungan seks harus ada persetujuan kedua pihak? Sontoloyo! Bahkan sebuah artikel di Voxpop bilang bahwa ngeseks itu sama dengan ngopi. Tidak ada yang boleh memaksa seseorang untuk minum kopi, juga tidak boleh ada yang memaksa seseorang untuk berhubungan seks.

Bagaimana kalau yang satunya sedang tidur, mabuk, atau pingsan? Hmmm… kalau orang lagi tidur, mabuk, atau pingsan, apakah kamu akan paksa mereka minum kopi dan menenggakkan kopi ke mulutnya? Menurut artikel tersebut, jawabannya tidak.

Lantas, ada yang bilang, “Ngeseks kok disamakan dengan ngopi, beda dong! Pokoknya kalau seks boleh dipaksa, kalau ngajak ngopi nggak boleh maksa. Udah gitu aja.”

Udah nih? Udah ngopi?

Artikel populer: Karena Seks Memang Harus Bebas

Terakhir, istri yang dianggap nggak paham mengapa suami boleh memaksa hubungan seksual dengan istrinya sendiri, biasanya percaya bahwa pemerkosaan adalah masalah kekuasaan. Pemerkosaan adalah kejahatan yang rumit karena menyangkut kekuasaan sekaligus kekerasan. Pemerkosa menggunakan organ seksual sebagai tempat dan salah satu alat kekerasan.

Namun, pemerkosaan bukanlah semata-mata karena dorongan seksual, melainkan ketimpangan kuasa. Ada pemahaman bahwa tubuh wanita adalah penggoda, kotor, dan bukan milik perempuan semata. Sebab itu, perempuan dianggap tidak berhak atas seksualitas mereka sendiri.

Ya itu nyata sih, perempuan yang menginginkan seks dibilang binal. Perempuan yang menikmati seks katanya tidak normal. Perempuan yang masturbasi, menonton film porno, dan menikmati tubuh mereka sendiri dianggap menjijikkan. Perempuan seolah-olah hanya menjadi pemuas nafsu dan pelayan laki-laki.

Bagi mereka, gawat betul kalau perempuan bebas menikmati seksualitasnya sendiri. Nanti siapa lagi yang harus menjaga serta mengangkat ego dan maskulinitas laki-laki yang rapuh ini?

Ah, dasar rapuh!

5 COMMENTS

  1. bagus banget tulisannya, soal laki2 dengan fragile masculinity, ini susah dipahami laki2 di Indonesia bahwa dg tidak menguasai perempuan pun mereka tetap laki-laki lho

  2. Setuju bgt… gmn ceritanya wanita kok jadi budak seks… klo beneran laki2 tuh melindungi wanita… bkn malah dijadikan boneka seks doang…
    Waktu nikah kan diminta dari ortunya, bikin janji atas nama tuhan bakal jaga si wanita biar bahagia… yang namanya dipaksa mana bisa happy…

  3. Menurut gw aga sedikit nyeleneh si. Author ga sadar bahwa dalam keluarga ada yg namanya HAK dan KEWAJIBAN. Dimana istri memiliki hak sekaligus kewajiban. Dan kalau tidak dijalankan dg benar, pertanggungjawabannya bukan hanya pada suami. Tp pada Tuhan.
    Disini author cuma menitik beratkan pada pada hak perempuan yg harusnya sama dg hak laki2. Dan cara pandang mengenai itupun aga sedikit keliru.
    Wanita harusnya sadar, dalam berumahtangga, ada KEWAJIBAN yg harus dilakukan seorang istri thp suami.

  4. Dalam Islam sangat jelas kapan istri boleh menolak hubungan badan….saat menstruasi…saat sakit…saat lelah banget dan sangat tidak disarankan mencari cari alasan untuk menolak….bahkan saat dia memasak klo suaminya meminta sedang dia tdk ada halangan wajib dilayani….begitu juga berlaku untuk istri bila ingin berhubungan….

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.