Ilustrasi (Image by Kirill Averianov from Pixabay)

Belakangan ramai di media sosial perihal unggahan katalog susunan pengurus organisasi mahasiswa di beberapa kampus yang memblur foto pengurus perempuan, sedangkan yang laki-laki tidak.

Bahkan, ada yang diblur sampai tidak jelas fotonya, mirip sensor di TV. Lah, kirain cuma pakaian renang Shizuka di film kartun Doraemon dan bikininya Sandy si tupai dalam kartun Spongebob saja yang ikut diblur?

Lalu, ada yang bilang bahwa itu keinginan dari para pengurus perempuan. Netijen baper dan feminis tubir paling open minded sedunia katanya pro kebebasan, tapi kok malah nyinyirin pilihan perempuan yang memblur fotonya sendiri?

Aiiih, tunggu dulu…

Ini bukan baperan dan tubir-tubiran, wahai para pejabat organisasi mahasiswa… Ini adalah persoalan simbol-simbol perempuan yang dibuang dalam sejarah. Bagaimana bisa foto lelaki yang terang benderang ditampilkan bersama foto perempuan yang diblur? Apa namanya kalau bukan seksis dan misoginis?

Lagian, kalian ingin memperkenalkan pengurus organisasi mahasiswa atau menampilkan para pembuat bakso boraks di TV sih? Bukankah sudah menjadi konsekuensi bagi pejabat organisasi mahasiswa ketika wajahnya dikenal oleh seluruh warga kampus? Itu yang pengurus cowok aja sampai mesem-mesem begitu.

Baca juga: Kamu Bercandanya Seksis dan Itu Nggak Ada Lucu-lucunya

Jika memang ada beberapa perempuan yang nggak mau dirinya ditampilkan, mengapa harus semua perempuan diblur? Bahkan, ada perempuan yang tidak berhijab ikutan diblur? Solidaritas?? Jika memang atas nama solidaritas, mengapa laki-laki tidak ikut dalam solidaritas yang sama dengan memudarkan dirinya sendiri?

Semua orang yang pernah kuliah tahu kok bahwa pengurus organisasi mahasiswa semacam BEM atau lainnya dididik penuh solidaritas. Kalau memang separuh pengurus yang notabene perempuan nggak mau fotonya dipajang, ya mending nggak usah ada foto katalog ala-ala foto tahunan angkatan. Lagian, jadi kelihatan nggak kompak. Melihatnya bikin mata sepet.

Yang ada, malah sibuk klarifikasi kan? Sibuk menjelaskan bahwa itu pilihan dan permintaan dari pengurus perempuan sendiri. Tapi, di sisi lain, banyak mahasiswi di kampus terkait yang buka suara di media sosial perihal seksisme dan misoginisme atas nama agama di kampus yang seharusnya plural.

Mulai dari perempuan non-muslim yang dipaksa pakai mukenah ketika ospek hingga aturan bahwa jam setengah tujuh malam kampus harus bersih dari perempuan.

Wah… wah…

Baca juga: Kelihatannya Sepele, tapi Tanpa Sadar Kita Jadi Misoginis, Cek Ya!

Seandainya dari awal bilang bahwa ini masalah ideologi, tentu kita tidak akan berdebat sebatas blur-bluran foto semata. Kita akan berdebat bagaimana para terpelajar di kampus negeri memaksakan ideologi mereka kepada orang lain. Ayoo!

Menyensor wajah atau seluruh tubuh perempuan, padahal itu bukan foto erotis, tentu persoalan yang serius. Selain memudarkan jejak digital keterlibatan perempuan dalam organisasi, itu juga upaya mereduksi perempuan di ruang publik.

Sebenarnya ini bukan pertama kali keterlibatan perempuan dihapus dalam sejarah atas nama agama. Dalam tulisan Laura Miller yang membedah buku Witch Craze: Terror and Fantasy in Baroque Germany karya Lyndal Roper, seorang profesor sejarah di Universitas Oxford, disebutkan bahwa selama 300 tahun terjadi perburuan terhadap perempuan secara besar-besaran oleh gereja dan pemerintah.

Miller mengungkapkan bahwa angka detail yang sesungguhnya tidak dapat dihitung, namun selama masa perburuan diperkirakan ada lima juta perempuan yang dibakar hidup-hidup karena dituduh penyihir dan melakukan bidah.

Kebanyakan perempuan itu datang dari kalangan terpelajar yang mampu mengakses pengetahuan, ketika pada masa itu perempuan diharamkan untuk menyentuh kertas dan pena. Pada masa itu, ada doktrin yang kuat bahwa perempuan yang cerdas sangat berbahaya dan berpotensi mempelajari sihir.

Baca juga: Bahkan untuk Urusan Libido dan Orgasme Saja, Perempuan juga Diatur-atur

Doktrin ini menguat setelah rilis buku berjudul Malleus Maleficarum. Buku yang biasa diterjemahkan dengan judul Hammer of Witches itu bahkan menjadi buku terlaris kedua setelah Alkitab pada masa itu. Akhirnya, buku itu ditentang karena dirasa tidak sesuai dengan demonologi Katolik.

Tak hanya di Katolik, dalam literatur Islam pun kita minim sekali menemukan perawi hadits dan ulama perempuan yang masyhur dan mendapatkan ruang. Hasilnya apa? Sampai detik ini, kita masih defisit tafsir-tafsir hadits dan Al-Qur’an yang pro dan jeli dalam melihat pengamalan ketubuhan perempuan. Semua didominasi oleh pandangan laki-laki semata.

Lantas, apakah agama itu misoginis? Tentu tidak.

Yang menentukan adalah bagaimana ayat-ayat, firman, dan sabda ditafsirkan. Jika yang menafsirkan adalah laki-laki dengan pikiran misoginis, bagaimana kita bisa berharap tafsiran itu ramah terhadap perempuan? Jika perempuan tak diberikan kesempatan menafsirkan, bagaimana pikiran perempuan bisa hadir dalam penyelesaian masalah spiritual?

Faktanya hari ini tafsiran-tafsiran itu sering kali dijadikan dasar untuk mereduksi peran perempuan. Termasuk, soal blar-blur foto pengurus perempuan di sejumlah organisasi mahasiswa tadi.

Artikel populer: Akun Dakwah tapi Suka Julid ke Perempuan, Akutu Nggak Bisa Diginiin!

Kita tidak perlu akrobatik untuk menutupi praktik-praktik misoginis. Sebab patriarki memang tak pernah mengenal agama manapun. Tapi, kita tentu sudah lelah jika tafsir-tafsir agama terus menerus digunakan untuk mereduksi peran perempuan.

Kalian tidak perlu memaksa perempuan menutup wajahnya, toh Rasulullah terus menerus mendefinisikan wajah Aisyah, istri tercinta, agar kita yang tidak pernah bertemu dapat membayangkan wajahnya. Kalian tidak perlu membenci eksistensi perempuan, jika Yesus saja begitu mencintai sahabatnya yang bernama Maria Magdalena.

Jadi, kalau kalian misoginis, ya ngaku saja. Nggak usah kebanyakan ngeles, apalagi sampai bawa-bawa ayat. Sebab agama tidak hadir untuk melegitimasi kebencian terhadap perempuan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini