Wahai Netizen yang Budiman, Mending Merasa Tidak Tahu atau Paling Tahu?

Wahai Netizen yang Budiman, Mending Merasa Tidak Tahu atau Paling Tahu?

Ilustrasi (Image by mohamed Hassan from Pixabay)

Dari hari ke hari, semenjak polarisasi terjadi begitu tajam antara pilihan politik A dan B, linimasa media sosial dipenuhi oleh orang-orang yang mengerti segala hal.

Ada seorang kawan yang dulu begitu polos, tak banyak bicara di kelas, menonjol dalam pelajaran pun tidak. Tapi, ia punya kemampuan bermusik, begitu lihai memetik gitar. Sebelum terlibat dalam parade kebencian, linimasa media sosialnya hanya berisi video-video musik nan keren. Belakangan, sejak perseteruan antar pendukung capres mengemuka, ia menjelma menjadi serba tahu.

Ketika isu tentang meninggalnya ratusan petugas KPPS beberapa waktu lalu, kawan ini tiba-tiba bersalin rupa bak seorang dokter. Menganalisis bagaimana kelelahan tak bakal mungkin berakhir pada kematian.

Tak lama setelah itu, saat merebak isu tentang dugaan kecurangan hasil pemilu, ia kemudian berubah menjadi ahli statistik. Segala hitung-hitungan ia lakukan demi mempertegas suatu hal yang dianggap kecurangan.

Baca juga: Netizen yang Kafah Harus Tahu Sosok Squidward, Temannya Spongebob

Dan, yang paling sering dilakoninya adalah menjadi seorang pengamat politik ulung. Saya tak tahu sudah berapa banyak buku dan jurnal politik yang ia baca, tapi segala macam analisis politik dikemukakan olehnya, lengkap dengan prasangka-prasangka yang lebih mirip teori cocoklogi, eh konspirasi.

Jika diperhatikan, yang seperti ini banyak memenuhi linimasa media sosial kita. Bahkan, ada seorang ustaz yang mendadak fasih berbicara ihwal kelautan, perikanan, sawit, pesawat, hingga persoalan mafia pangan. Bagi dia, pokoknya semua salah Jokowi pemerintah.

Fenomena ini memang tak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi. Media menjelma sebagai ruang publik yang menghendaki siapa saja untuk menuangkan pendapat, ide, serta kritikan terhadap suatu hal. Tak peduli latar belakangnya mumpuni atau tidak.

Ketika informasi bisa diakses dengan sekali klik, ketidaktahuan seolah menjadi aib. Istilah ‘kudet’ atau kurang update boleh jadi lahir dari fenomena semacam ini.

Baca juga: Arguasme Rame-rame

Dalam buku Sapiens: A Brief History of Humankind, Yuval Noah Harari menulis bahwa ketidaktahuan punya andil dalam perkembangan sains modern. “Revolusi sains bukanlah revolusi pengetahuan. Di atas segalanya, revolusi sains adalah revolusi ketidaktahuan,” tulisnya.

Sejarawan asal Israel itu menjelaskan tentang tiga tahap sains modern. Tahap pertama, menurutnya, sains modern didasari oleh sebuah perkataan Latin “ignoramus” yang berarti “kami tidak tahu”.

Kesediaan untuk mengetahui ketidaktahuan, bagi Harari, adalah muasal dari sains modern. “Sains modern mengasumsikan kita tidak mengetahui segala hal.” Dan, yang lebih penting, “Sains modern menerima bahwa segala hal yang kita pikir kita tahu bisa saja terbukti salah.”

Seperti semula banyak orang merasa tahu dan yakin bahwa perempuan paruh baya yang menjadi tim sukses capres dikeroyok oleh orang tak dikenal. Padahal, operasi plastik. Pada saat itu, mereka seakan tak memiliki kesediaan untuk menerima ketidaktahuan. Tak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar.

Baca juga: Suka dengan Teori Konspirasi Illuminati? Ini Sarannya

Dalam konteks di atas, kelihatannya tak ada lagi spesialisasi, yang ada hanya pemaksaan menjadi generalis. Semuanya harus dikomentari, tak peduli paham atau tidak, asal terlihat ‘kritis’ dan paham ‘isu’.

Aku tahu bahwa aku tak tahu apa-apa

Orang kadang menganggap hoaks bermula dari ketidaktahuan terhadap sebuah kebenaran. Ketidaktahuan itu membuat seseorang membagikan kabar bohong dan palsu. Tak salah memang, tapi jangan-jangan justru sikap merasa paling tahu yang menjadi awal dari merebaknya hoaks.

Begini, orang-orang seperti kawan saya tadi, membagikan berita palsu bukan semata-mata karena ia tak tahu. Tapi, lebih dari itu. Dalam dirinya ada semacam rasa ingin diakui, rasa ingin dianggap benar dan pintar. Kemudian, meyakini sepenuhnya bahwa apa yang dibagikannya adalah sebuah kebenaran. Tabayyun hanya menjadi ‘senjata’ standar ganda.

Begitupun dengan mereka yang dalam kehidupan nyata sering kali memberikan informasi palsu. Orang-orang ‘sok-tahu’ ini hanya ingin dianggap paling tahu. Tak lebih dari itu.

Artikel populer: Delapan Buku Fiksi Wajib Baca sebelum Usia 30

Sebaliknya, jika dalam diri seseorang ada sikap menerima ketidaktahuannya, yang terjadi adalah ia tak bakal gampang menyebarkan informasi tanpa mengetahui kebenarannya. “Saya tak tahu, maka saya tak akan ikut menyebarkannya,” begitu kira-kira.

Di sebuah desa di pesisir Maluku Utara, orang-orang tak merasa harus tahu tentang kampanye masing-masing kandidat yang terpental dari substansi, seperti misalnya isu tentang PKI pada satu pihak. Bagi mereka, harga kopra yang jeblos sudah cukup relevan untuk menjadi alasan menentukan sebuah pilihan.

Padahal, jika ditarik lebih luas, kehidupan bergerak karena ketidaktahuan. Bahwa harapan kadang menjadi bahan bakar terakhir untuk kita yang tertatih-tatih dalam menjalani hidup. Tapi rasanya, harapan tak bakal bisa begitu digdaya, jika di dalamnya tak bersemayam ketidaktahuan – pada masa depan.

Terakhir, saya ingin mengutip ucapan Socrates yang dikisahkan oleh muridnya, Plato. Ia pernah ditanya tentang apa yang ia ketahui, dan Socrates menjawab, “Aku tahu bahwa aku tak tahu apa-apa.”

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.