Karakter Fizi di serial Upin & Ipin (Les' Copaque Production)

Tokoh Fizi dalam serial Upin & Ipin sempat menuai kritik setelah – dalam sebuah episode – mengucapkan kalimat yang menyita atensi. Dalam adegan tersebut, Fizi menyebut kurang lebih “jika tak ada ibu, tak ada surga”. Hal itu tentu menjadi pukulan berat bagi Upin dan Ipin mengingat orangtua keduanya telah berpulang.

Meski cuma serial anak-anak, tokoh Fizi kemudian dihadirkan dalam video pendek sambil terisak meminta maaf kepada Upin dan Ipin. Alangkah cerdasnya sang kreator: meningkatkan engagement kepada pemirsa sekaligus mengajarkan satu hal penting, yaitu meminta maaf.

Sherina, dalam film Petualangan Sherina (2000), memiliki adegan bernyanyi dan menari bersama kawan-kawan sekelasnya. Dalam lagu yang dinyanyikan saat film hampir selesai, ada lirik yang berbunyi, “Setiap manusia di dunia pasti punya kesalahan, tapi hanya yang pemberani yang mau mengakui.”

Masalahnya, mengakui kesalahan dan meminta maaf bukan hal yang menyenangkan. Oleh karenanya, tindakan ini nggak populer-populer amat dilakukan. Tak jarang, orang yang punya kesalahan bahkan tak merasa dirinya salah, lalu pergi begitu saja, sementara pihak yang tersakiti menyimpan sedih setengah mati. Ini persis dengan penggalan lirik lagu yang lain, yaitu lagu Keke Bukan Boneka yang dinyanyikan Kekeyi:

“… kau bosan, pergi dan menghilang.”

Baca juga: Menjadikan Patrick Sebagai Panutan Hidup. Ya, Patrick Star!

Omong-omong soal lagu Kekeyi, kita semua semestinya bertepuk tangan. Dalam waktu terbilang singkat, video klip Keke Bukan Boneka sempat menjadi nomor 1 di trending YouTube, mengalahkan lagu baru Lady Gaga yang berkolaborasi dengan Blackpink.

Lahirnya lagu Keke Bukan Boneka bukan sesuatu yang ujug-ujug. Disebutkan, lagu ini terinspirasi dari kisah pengalaman nyata Kekeyi yang sebelumnya diketahui menjalani hubungan pacaran setting-an bersama pesinetron Rio Ramadhan. Dalam satu sesi wawancara, Kekeyi yang kadung emosi berucap, “Aku bukan boneka!”

Takdir tak ada yang tahu. Kemarahan ternyata bisa jadi cuan. Menggandeng teman-temannya, jadilah video klip sebuah lagu. Dahsyat, Keke!

Sayangnya, Kekeyi tumbuh dan berkembang di negara dengan netizen yang bacotannya jadi salah satu hal paling tajam di dunia. Lagunya yang sederhana tak luput dari kritikan pedas di media sosial. “Ih, lagunya lebih mirip lagu odong-odong dan nggak layak naik rekaman!” begitu katanya. Beberapa orang mengunggah videonya di lini masa hanya untuk diberi komentar julid sambil tertawa.

Setelah itu, Kevin Aprilio dan rekan satu band-nya, Widy, meng-cover lagu Kekeyi di YouTube. Sontak, lagu Keke Bukan Boneka yang tadinya dihina-hina kayak melodi di mainan anak-anak itu jadi terasa syahdu, bagaikan single terbaru Vierratale. Tak sedikit orang berkomentar bahwa seharusnya Keke bersyukur lagunya bisa di-cover oleh penyanyi beneran, mengingat dirinya sendiri bukan penyanyi.

Baca juga: Kelas Pekerja Bukan Boneka

Sebelum meng-cover, Kevin meminta izin kepada Kekeyi lewat pesan singkat di DM Instagram. Ia mengunggah tangkapan layar percakapan dengan Keke yang – sayangnya – malah menjadi senjata baru bagi tukang hujat Kekeyi. Di sana, Kevin menyapa Keke dengan panggilan “Sis” atau “Sister”, yang justru dibalas dengan polos oleh Keke: “Nama aku Keke, bukan sister.” Hadeeeh.

Di lagu Kekeyi, bagian reff-nya terbilang cukup menarik. Bunyinya: “Keke bukan boneka, boneka, boneka.” Namun, sepotong bagian ini tak lepas juga dari masalah. Dianggap mirip sekali dengan irama (dan lirik) lagu Aku Bukan Boneka yang dipopulerkan Rinni Wulandari atau yang dulu dikenal dengan nama Rini Idol. Isu plagiarisme pun mencuat.

Menurut pengamat musik Bens Leo, Keke telah melanggar Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Apalagi, lagu Keke Bukan Boneka dan Aku Bukan Boneka memiliki kesamaan judul dengan tema dan lirik yang juga mirip.

Video klip Keke Bukan Boneka sempat di-take down YouTube karena dugaan pelanggaran hak cipta. Belakangan muncul lagi dan penontonnya malah jadi makin banyak. Ketika di-take down tertulis: “Video ini sudah tidak tersedia karena ada klaim hak cipta dari Rini Idol – Aku Bukan Boneka.”

Tahu apa yang terjadi saat itu?

Baca juga: Netizen yang Kafah Harus Tahu Sosok Squidward, Temannya Spongebob

Netizen berubah haluan. Jika semula mereka menertawakan ‘keanehan’ Kekeyi, setelah itu berbalik muncul perasaan kasihan. Pendukung palsu Kekeyi mendadak ada di mana-mana. Komentar-komentar turut prihatin bertebaran, lalu berkembang jadi opini marah-marah pada Rinni.

“Kan yang mirip cuma sedikit, kenapa harus matiin rezeki Keke? Iri bilang, Bos!”

Rinni jadi sasaran. Beberapa menilainya pansos, bahkan menyebutnya sebagai penyanyi tak laku dan tak produktif. Padahal, kalau saja sebelum komen mereka googling dulu, mereka mungkin tahu kalau hampir setiap tahun Rinni mengeluarkan album, sejak ia masih menjadi penyanyi solo hingga tergabung dalam Soundwave yang mendapat gelar runner-up dalam ajang The Remix.

Dan, andai netizen ini menahan diri sebelum komen, pastilah mereka akhirnya membaca klarifikasi dari Rinni di Instagram sehingga bisa tercerahkan dengan baik, alih-alih menebar kebencian.

Bukan cuma para pendukung palsu Kekeyi dan tukang marah-marah ke Rinni, bacotan netizen memang benar-benar mengerikan. Tempo hari, sebuah utas di Twitter tersebar tentang alasan-alasan paling ngakak perihal orang-orang yang di-block artis atau selebgram. Namun, saat dibaca, ketahuilah: tidak ada yang bisa dipakai untuk ngakak sama sekali.

Malah, utas tadi menunjukkan kebiasaan jelek bacotan netizen; betapa mereka terbiasa berkomentar atas hal-hal yang tidak perlu dikomentari. Maksudnya, ngapain sih kita komen di foto orang – dalam hal ini artis – cuma untuk bilang alisnya ketinggian dan lain-lain?

Artikel populer: Tante Ernie dan Prasangka yang Tak Pernah Berhenti

Interaksi via media sosial sesungguhnya adalah komunikasi normal seperti saat dua manusia bertemu. Bedanya, tak ada tatap muka di sana. Akibatnya, perasaan bebas itu pun muncul seenaknya. Seseorang mungkin merasa aman memberi komentar apa saja pada orang lain karena merasa orang tersebut tidak bakal bisa membalasnya atau mengajukan protes.

Mereka, orang-orang bacot tukang hujat, berlindung dari balik layar hape atau laptop, merasa hidupnya baik-baik saja setelah tanpa sadar komentarnya menyakiti orang lain. Anehnya, saat mereka di-block, mereka akan berpikir artis atau selebgram tadi hanya kelewat baper dan terlalu serius.

Kekeyi, Rinni, dan banyak sekali selebgram serta artis lainnya adalah manusia biasa yang kebetulan pernah masuk televisi dan punya karya yang didengar banyak orang. Namun, saya rasa hal itu tidak menjadikan mereka kebal dikata-katain. Mereka berhak merasa sedih dan sakit hati oleh komentar tidak bertanggung jawab dari orang-orang yang cuma berani ngomong di media sosial.

Sungguh deh, selain Fizi, seharusnya netizen-netizen kebanyakan omong dan hobi menghujat ini mulai introspeksi diri dan meminta maaf atas semua kata-kata jahat yang lahir dari jempolnya. Heran, udah gede tapi kok kalah sama anak TK??

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini