Ilustrasi (Image by Etienne Marais from Pixabay)

“Masalah moral, masalah akhlak, biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu, peraturan yang sehat yang kami mau.” (Iwan Fals)

Bagi kawula muda kekinian mungkin lebih akrab dengan lagu-lagu Ardhito Pramono, tapi lagu Iwan Fals di atas selalu saya setel berulang kali, apalagi sangat relevan dengan situasi saat ini.

Rasanya bagian lirik itu menguliti kondisi masyarakat kita yang sering kali merasa paling berhak menghukum seseorang. Mulai dari politikus yang menjebak dan ikut menggerebek pekerja seks di hotel hingga sekelompok pendaki yang seolah-olah menjadi wakil alam, lantas berhak mem-vigilante pasangan di dalam tenda.

Sepertinya perilaku vigilante yang gemar menghakimi sudah mendarah daging di masyarakat kita, karena peristiwa sejenis kerap terjadi sebelumnya. Masih ingat bagaimana seorang penjual amplifier tak bersalah harus meregang nyawa karena dituduh maling dan dikeroyok, bahkan dibakar hidup-hidup oleh sekelompok orang?

Baca juga: Ayolah, Banyak yang Lebih Penting daripada Kebelet Kawin dan Ngurusin Orang Pacaran

Vigilante adalah seseorang yang menghukum orang lain dengan caranya sendiri. Asal usul istilah itu dari bahasa Latin ‘Vigiles Urbani’ yang semula disematkan kepada ‘penjaga malam’ yang bertugas memadamkan kebakaran dan menjaga keamanan pada zaman Romawi Kuno. Namun, di era yang surplus aturan hukum seperti saat ini, vigilante malah bisa merasuk ke siapa saja, tak peduli latar belakangnya apakah pejabat, pemuka agama, pendaki gunung, artis, ataupun pengguna media sosial.

Coba perhatikan bagaimana sikap ‘heroik’ pemuda yang belum lama ini menggerebek pasangan yang sedang bercumbu di ruang privat. Katanya, itu memalukan, tidak tahu tempat dan tidak bermoral. Perhatikan juga ketika seorang pekerja seks dijebak di hotel, mereka yang menjebak bahkan merasa menjadi ‘pahlawan’.

Dan, saat aksi ‘heroik’ mereka tersebar di media sosial, serentak banyak yang memburunya. Mungkin Jack Dorsey dkk, sang pendiri Twitter, tidak pernah menyangka bahwa praktik vigilante begitu laris di layanan jejaring sosialnya. Begitu juga dengan Kevin Systrom dan Mike Krieger, pendiri Instagram. Apa? Facebook?! Parah…

Baca juga: Kenali Mereka, Setan-setan yang Santun dan Berlagak Moralis

Rasanya sudah begitu penat dengan aksi-aksi ‘heroik’ atas nama ‘kedamaian’, ‘moral’, atau apapun itu, karena seenaknya menghakimi orang lain dengan caranya sendiri. Tapi, kita juga tidak bisa acuh mengenai sebab musabab munculnya para sosok vigilante saat ini.

Mungkin, beberapa orang menyangka bahwa ini faktor kurang pendidikan, lemahnya hukum, atau desakan berburu konten. Itu tidak salah, kita bisa saja berasumsi sedemikian rupa. Tapi, perlu dicatat bahwa setiap dari kita punya tendensi pada kebaikan dan sialnya potensi itu sering dilakukan dengan menganggap rendah sang liyan.

Semisal, anggapan banyak orang tentang pekerja seks sebagai sosok yang tidak bermoral, bahkan ada yang menyebutnya sebagai sampah masyarakat. Namun, di sisi lain, orang-orang tersebut tidak bisa memberikan solusi untuk mereka yang tidak memiliki akses dalam memenuhi kebutuhan hidup, kebutuhan dasar ekonomi keluarga yang menghimpit, dan sulitnya mendapatkan pekerjaan.

Baca juga: Teruntuk Kamu yang Merasa Terpuaskan ketika Pekerja Seks Digerebek

Begitu juga dengan anggapan orang bahwa praktik percumbuan sepasang kekasih di dalam tenda adalah perbuatan tidak bermoral dan merusak alam. Tetapi, sekali lagi, siapa yang berhak menghukum benar atau salah, bermoral atau tidak, cinta alam atau tidak? Praktik itu dilakukan di ruang privat dan tidak merugikan pihak lain.

Meski begitu, penghakiman dan pengadilan sepihak seakan lestari dalam masyarakat kita. Mengeneralkan soal moral, akhlak, dan segala macam kata gantinya yang jelas-jelas itu bukan urusan publik. Cara sporadis para vigilante yang mengambil keputusan sendiri jelas tidak memberi keadilan sedikitpun kepada orang yang tertuduh.

Ketika menghadapi sesuatu yang dianggap salah, semestinya perlu mempertimbangkan banyak hal. Jangan hanya karena tidak suka atau berbeda dengan keyakinanmu, lantas merasa patut melakukan penghakiman.

Artikel populer: Lucinta Luna Salah Apa?

Di sisi lain, kita memang dihadapkan dengan lemahnya penegakan hukum, bahkan sering kali kita menyaksikan betapa menderitanya maling ayam ketimbang koruptor yang merampok uang rakyat triliunan rupiah. Nah, kalau soal itu, baru kita bisa kritik soal kinerja pemerintah, anggota parlemen, aparat hukum, dan lain-lain.

Kita mesti segera keluar dari masalah vigilante kontra humanis ini. Keluar berarti menghentikan segala aktivitas vigilante dari diri kita dan orang-orang terdekat kita.

Pada hakikatnya, urusan selangkangan adalah persoalan individu dan ranah privat. Namun, jika itu disertai dengan kekerasan, perendahan harkat dan martabat, serta mengandung unsur ancaman, itu baru menjadi masalah publik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini