Meramal Masa Depan Dangdut Koplo Via Vallen & Nella Kharisma

Meramal Masa Depan Dangdut Koplo Via Vallen & Nella Kharisma

Via Vallen dan Nella Kharisma (Instagram)

Via Vallen dan Nella Kharisma. Belakangan ini, nama dua gadis asal Jawa Timur itu mendadak populer. Apalagi setelah keduanya dilibatkan dalam kampanye politik Gus Ipul dan Puti Guntur Soekarno sebagai tim khusus. Saya jadi penasaran. Siapa sebetulnya kedua mbak fenomenal ini?

Via Vallen dan Nella Kharisma disebut-sebut sebagai pedangdut koplo. Namun, citra yang mereka tampilkan jauh berbeda dengan stereotip pedangdut koplo yang selama ini saya bayangkan.

Mereka tidak menjual goyangan dan tampilan sensual, melainkan hadir imut-imut manis bak artis K-Pop. Lirik lagu-lagu mereka pun tidak ‘menjurus’. Temanya populer dan sederhana, seputar kisah cinta dan patah hati.

Bukan hanya itu. Via Vallen dan Nella Kharisma dijunjung oleh kelompok fans yang fanatik. Jumlah followers di akun Instagram mereka mencapai jutaan. Lagu mereka pun diputar di mana-mana. Rasanya sudah berkali-kali saya mendengar lagu “Sayang” Via Vallen yang diputar di pom bensin dan swalayan di Bandung.

Memori saya langsung menelusuri perjalanan musik dangdut yang saya ingat sejak masih anak-anak hingga saat ini. Dulu, dangdut dianggap musik kelas bawah, sehingga tidak pernah diputar di mal atau swalayan yang dianggap lebih banyak didatangi kelompok menengah. Pendengarnya berbeda dengan pendengar musik populer.

Menggemari dangdut – apalagi kalau sampai punya idola penyanyi dangdut – dianggap bukan sesuatu yang cool. Dandanan yang berlebihan pun sering dicibir sebagai dandanan yang ‘dangdut banget’.

Tetapi dangdut adalah penutur kisah. Ia mewakili cerita-cerita yang tumbuh di tengah masyarakat yang menghidupkannya. Ketika kuliah di Jatinangor, saya sering naik bus antarkota yang menyajikan video-video karaoke lagu dangdut.

Saya pun senang menyimak lirik lagu dangdut yang naratif. Ada budaya gosip dalam lagu “Bisik-Bisik Tetangga”, dialog antara pasangan suami-istri yang tujuh tahun tak dikaruniai anak dalam “Mandul”, atau kegelisahan menanti lamaran mandor dalam “Bang Mandor”.

Kemudian, entah kapan persisnya, lahirlah dangdut ajep-ajep yang disebut sebagai dangdut koplo. Konon, jenis dangdut yang satu ini lahir, tumbuh, dan berkembang sebagai hiburan masyarakat di daerah Pantura. Karena itulah, dangdut ini sering juga disebut sebagai dangdut Pantura.

Seperti dangdut-dangdut yang sudah dikenal sebelumnya, lirik-lirik dangdut koplo bercerita dengan naratif mengenai masyarakatnya. Bedanya, bahasa dan tema yang dipilih cenderung lebih vulgar dan asosiatif. Penyanyi-penyanyinya wajib tampil seksi dan bergoyang sensual, tetapi enerjik-akrobatik.

Di salah satu video Youtube, saya pernah melihat penyanyi dangdut koplo memanjat tiang tenda panggungnya dengan ketangkasan dan stamina atlet yang terlatih. Saya pikir penyanyi-penyanyi dangdut koplo ini seharusnya di-endorse oleh merek multivitamin penambah stamina.

Namun, ketika Inul Daratista mempopulerkan ‘goyang ngebor’, dangdut koplo dan cabang-cabangnya mulai berjaya di industri musik Indonesia.

Kesuksesan Inul diikuti oleh pedangdut dengan goyang-goyang bernama yang lainnya. Sebut saja Anissa Bahar dengan ‘goyang patah-patah’, Uut Permatasari dengan ‘goyang ngecor’, dan salah satu yang paling sukses adalah Dewi Perssik dengan ‘goyang gergaji’.

Dangdut koplo dan cabang-cabangnya pun mulai mendapat tempat di belantika musik populer Indonesia. Perlahan tetapi pasti, dangdut tak lagi dipandang sebagai musik kelas bawah. Penyanyi-penyanyinya mulai berbagi panggung setara bintang-bintang pop.

Acara-acara dengan tema dangdut pun mulai meraup banyak penggemar. Mama saya ikut tersihir. Ia kini rutin menyimak kontes dangdut yang disiarkan setiap malam di televisi dan mulai hafal nama penyanyi-penyanyi dangdut yang hadir sebagai juri dan bintang tamu.

Ketika membahas fenomena ini dengan suami saya, ia tiba-tiba teringat kepada tango Argentina. Seperti dangdut, tango Argentina lahir sebagai ekspresi berkesenian masyarakat kelas bawah.

Kesenian ini dimulai oleh budak-budak Afrika di Argentina yang mempengaruhi kebudayaan lokal, kemudian berkembang sebagai hiburan rakyat dan pekerja di daerah slum.

“Mungkin dulu tango Argentina sama kayak dangdut koplo,” kata suami.

“Oh, ya? Sekarang kayaknya berkelas gitu, beda banget,” tanggap saya.

“Kalau kamu perhatikan, tango itu pada dasarnya erotis, lho. Seluruh badan kan nempel. Dulu, musik tango dimainin di klab remang-remang.”

Suami lalu bercerita mengenai seorang komposer bernama Astor Piazolla. Sejak remaja, Piazolla bermain di klab-klab tango. Namun, ketika hendak mengejar kariernya di dunia musik klasik, ia berusaha membuang jauh-jauh masa lalunya sebagai musisi tango. “Menjadi musisi tango adalah ‘kata kotor’ dari masa mudaku di Argentina,” ujar Piazolla.

Tersebutlah Nadia Boulanger, profesor musik dan guru komposisi terbaik di Paris pada zamannya yang mengajar Astor Piazolla. Saat menerima komposisi yang ditulis Piazolla, ia sadar ada yang kurang all out dalam karya tersebut.

Nadia Boulanger mencoba mengorek kiprah bermusik Piazolla. Karena tak dapat menghindar lagi, dengan sangat malu Piazolla akhirnya mengakui masa lalunya sebagai musisi tango.

Bukannya menganggap hina, di luar dugaan Nadia Boulanger justru berkata, “Astor, kamu menulis komposisi dengan baik. Tapi saya tidak menemukan Piazolla yang sesungguhnya di situ. Piazolla yang sesungguhnya ada di musik tango, jangan kamu lupakan.”

Peristiwa tersebut membawa perubahan besar pada dunia musik tango. Astor Piazolla kembali kepada akarnya: tango. Lahirlah Nuevo Tango sebagai pengembangan tango tradisional yang sudah ada pada masa itu.

“Kalau begitu, mungkin suatu saat nanti dangdut koplo juga bakal jadi musik kelas atas, seperti tango sekarang,” komentar saya, setelah mendengarkan cerita suami. “Mungkin,” sahutnya.

Saya kembali menyusun ingatan atas perkembangan musik dangdut sejauh yang saya tahu. Mulai dari tema yang diangkat, segmen, sampai kostumnya. Ayu Ting Ting adalah salah satu pedangdut pertama yang saya ingat muncul dengan gaya cute ala K-Pop dan menjadi idola yang cool untuk penikmat musik populer.

Kini, Via Vallen dan Nella Kharisma tampil sebagai icon yang lebih benderang. Mungkin, merekalah yang menjadi titik tolak dangdut kontemporer yang akan berkembang beberapa tahun ke depan.

Vyanisty, Nella Lovers, mana suaranya?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.