Valentine Bukan Budaya Kita, lalu Budaya Kita Apa? Nge-julid?

Valentine Bukan Budaya Kita, lalu Budaya Kita Apa? Nge-julid?

Ilustrasi (Markus Spiske via Unsplash)

Hari Valentine sudah tiba, saatnya bersayang-sayangan sama pasangan. Kasih cokelat, kasih bunga, kasih ucapan romantis. Tapi jangan kasih ledekan tersadismu ke teman yang belum punya pasangan atau gebetan.

Toh, nggak ada salahnya juga menjomblo. Jadi jomblo itu bukan kriminal dan sejauh ini, walaupun anggota dewan yang terhormat lagi doyan bikin RUU, belum terdengar lontaran ide dari mereka untuk bikin RUU Perjombloan.

Coba bayangkan kalau RUU Perjombloan beneran ada, bisa habis stok kreativitas anak muda. Jomblo itu manusia super kreatif. Mereka memiliki imajinasi yang tinggi. Lagipula, kalau sekadar mengingatkan merayakan Valentine, nggak perlu sama pasangan atau gebetan. Serius!

Menurut Good Housekeeping, penerima kartu Valentine yang paling umum adalah guru. Orang-orang juga membeli banyak kartu untuk anak-anak dan ibu mereka, dan sembilan juta orang Amerika menghabiskan uang untuk hewan peliharaan mereka.

Tuh!

But, wait! Amerika??

Itu kan negara barat bin liberal, buat apa dijadikan referensi? Lah kan perayaan Valentine memang impor dari luar.

Tanggal 14 Februari semula dikenal sebagai hari raya Santo Valentine, seorang imam suci Katolik yang dieksekusi mati oleh Kaisar Romawi Claudius II, tepat pada tanggal tersebut sekitar abad ketiga Masehi.

Santo Valentine adalah seorang imam yang menikahkan pasangan-pasangan muda. Hal ini bertentangan dengan kebijakan Claudius yang melarang pernikahan untuk pria muda, karena Claudius berpikir mereka adalah prajurit yang lebih baik ketika mereka tidak terikat hubungan percintaan.

Maka, dihukum mati lah Santo Valentine dan untuk mengenangnya muncul Hari Valentine yang disebut juga sebagai Hari Kasih Sayang.

Jadi, jelas dong kalau itu bukan budaya kita.

Tapi tenang, kita ini sebetulnya bangsa yang sangat berbudaya. Kalau memang perayaan Hari Kasih Sayang bukan budaya kita, masih banyak kok varian budaya lain yang bisa dibanggakan!

Eh tapi, rasanya kok hambar juga ya, kalau nggak merayakan Hari Kasih Sayang. Sebab, sayang itu kan universal. Apakah budaya kita tak mengenal kasih sayang? Lantas apa? Nge-julid? Baiqlaa…

Padahal ya, Mahatma Gandhi pernah bilang, “Tidak ada budaya yang dapat hidup, jika mencoba untuk menjadi eksklusif.”

Eh, tapi Gandhi kan orang India. Ah siyaaaap…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.