Vagina kok Jadi Bahan Candaan?

Vagina kok Jadi Bahan Candaan?

Ilustrasi (Foundry via Pixabay)

Sejak kasus VA marak diberitakan, netizen seakan berlomba-lomba melontarkan candaan seksis tentang ukuran dan bentuk vagina perempuan-cis yang dikaitkan dengan harga tertentu. Risih nggak sih dengernya? Risih banget. Nggak ada lucu-lucunya juga.

Memangnya apa yang lucu dari ocehan yang mengobjektifikasi tubuh perempuan-cis dan non-biner, terutama vagina, sebagai komoditi?

Oh ya, kata ‘cis’ di sini merujuk kepada orang yang terlahir dengan rahim dan vagina, kemudian memanggil dirinya perempuan. Begitu sebaliknya, orang yang lahir dengan penis, lalu menyebut dirinya laki-laki.

Belakangan, candaan yang cenderung mengolok-olok vagina oleh lelaki-cis semakin meresahkan. Disama-samain dengan ikan lah, kue apem lah. Padahal, tanpa vagina, mereka mungkin nggak bakal ada di dunia.

Ukuran dan bentuk vagina masing-masing orang memang berbeda. Tapi, kita nggak bisa langsung mengetahui bentuknya hanya karena seseorang memasang tarif jasa layanan seks.

Baca juga: Bahkan untuk Urusan Vagina, Kita Dijajah dan Dibodoh-bodohi

Yang namanya organ tubuh seperti vagina, pasti mengalami pelebaran akibat penetrasi, penggunaan produk menstruasi seperti cawan dan tampon, atau ketika proses melahirkan. Pelebaran ini pun dapat kembali ke ukuran sebelumnya karena adanya hormon estrogen yang membantu organ ini menjadi elastis dan lembab.

Karena itu, orang yang telah menopause mengalami pengecilan dan kekeringan, terutama jika jarang melakukan aktivitas seks. Sama seperti laki-laki yang sudah tua akan memasuki fase disfungsi ereksi, yang mana ia tak dapat memulai atau mempertahankan ereksi.

Nah, kalau kamu terus mengolok-olok ukuran dan bentuk vagina, selain menunjukkan bahwa banyak lelaki-cis yang seksis di Indonesia, ini juga menguatkan indikasi gagalnya sistem pendidikan kita, terutama terkait biologi-anatomi.

Saya sempat tertawa ketika ada lelaki-cis yang melontarkan candaan seksis beberapa waktu lalu. Bukan karena candaannya, melainkan betapa rapuhnya kejantanan para lelaki-cis hari ini. Namun, menertawakan kerapuhan itu juga sama bahayanya, karena itu juga sebuah bias dalam diri.

Baca juga: Kenapa Takut dengan Vagina?

Tentu, ini bukan untuk menjatuhkan siapapun. Tapi coba deh kalau dibalik, bagaimana kalau jutaan perempuan-cis hetero di sana mengolok-olok ukuran dan bentuk penismu? Kecil, misalnya.

Sebuah studi menyatakan bahwa monyet jantan yang paling keras berbunyi mencari pasangan betina adalah mereka yang memiliki testis paling kecil. Sama dengan peribahasa “tong kosong nyaring bunyinya” alias ‘omdo’, omong doang.

Nah, kalau kamu nggak mau disamakan dengan monyet jantan atau tong kosong, ada baiknya kamu berhenti mengolok-olok ukuran dan bentuk vagina orang.

Terlebih, dengan narasi soal keperawanan yang berkembang di masyarakat bahwa lelaki-cis hanya menginginkan istri yang merupakan perempuan-cis perawan karena dianggap suci dan memiliki vagina lebih sempit. Kemudian, pamer bahwa ia merasa hebat di ranjang.

Maap, ngapain situ pamer segala? Situ pikir banyak perempuan-cis yang tertarik dengan, apa kejantanan? Yang ada bukan jantan, tapi kamu cuma ngebet aja.

Baca juga: Laki-laki Sadar Nggak sih Kalau Kalian juga Sering Dilecehkan?

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Western Carolina terhadap 387 lelaki-cis heteroseksual menunjukkan, laki-laki yang kerap bercanda seksis dan homofobik adalah mereka yang memiliki masalah dengan kejantanannya. Sebab, untuk menunjukkan bahwa dia lebih jantan, dia harus menjatuhkan orang lain, yakni perempuan atau kelompok-kelompok minoritas seksual lainnya.

Selain itu, Dr Alicia Walker dalam berbagai penelitiannya telah berbicara dengan laki-laki yang memiliki ukuran penis kecil. Dari berbagai laki-laki yang dia temui, banyak yang tidak ke dokter selama 10 tahun karena takut harus telanjang, banyak yang nggak berani mendekati seseorang karena takut nggak diterima sebagai pasangan romantis, dan bahkan banyak yang mencoba bunuh diri hanya karena ukurannya yang kecil.

Saya tidak bermaksud menghubungkan bahwa laki-laki yang paling nyaring mengolok-olok vagina adalah orang yang memiliki penis kecil. Nggak lah ya.

Artikel populer: Agar Penjahat Kelamin Tak Lagi Berani Main-main

Tapi, jika kamu memang memiliki masalah kesehatan mental yang belum teratasi karena dirimu sendiri, kenapa tidak memperjuangkan hak kesehatan mentalmu daripada mengolok-olok ukuran dan bentuk vagina perempuan?

Mengagungkan ukuran penis besar dan mengolok penis kecil juga bentuk kejantanan yang nggak sehat. Dan, ini telah menjadi masalah kesehatan mental banyak laki-laki. Mulai sekarang, berhentilah menganggap penis besar sebagai parameter kejantanan laki-laki sejati.

Di zaman yang makin mengedepankan kesetaraan akan sulit mencari pasangan yang mau menerima dirimu, jika kamu masih suka bercanda seksis. Jika kamu ingin orang menerima kamu apa adanya, sebaiknya menerima orang lain apa adanya pula. Bukan karena ukuran vaginanya.

Untuk perempuan, mungkin kamu punya preferensi ukuran penis kamu sendiri, itu nggak masalah. Kamu bisa simpan preferensi itu untuk kamu sendiri aja. Nggak perlu kasih tahu banyak orang, karena kamu sedang tidak mencari pasangan lelaki-cis hetero bak iklan lowongan kerja.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.