Untukmu yang Suka Tanya atau Pamer Jurusan Kuliah

Untukmu yang Suka Tanya atau Pamer Jurusan Kuliah

Ilustrasi kuliah (Image by engin akyurt from Pixabay)

Ada dua tipe manusia berpendidikan tinggi yang sering saya jumpai. Pertama, yang suka tanya “jurusan apa” dalam basa-basinya. Kedua, yang suka mengatakan sendiri jurusannya tanpa ditanya.

Kepada tipe pertama, kenapa sih suka tanya jurusan kalau lagi kenalan? Padahal, tidak sedang wawancara kerja. Lagipula, ada banyak pertanyaan basa-basi lainnya. Misalnya, tanya dong “kenapa Hamtaro suka makan biji kuaci”.

Dulu, waktu kuliah, kepada temannya pacarnya teman, temannya selingkuhan teman atau siapapun yang jauh dari lingkar pergaulan, saya suka bohong kalau ditanya jurusan. Kadang jawab PGPAUD, kadang PGTK, lain waktu tata boga.

Sampai kebohongan itu akhirnya diuji. Sewaktu berbincang dengan pemilik kedai mie, ia bertanya soal jurusan. Saya mengaku kuliah di Peternakan UGM, karena semata-mata habis baca artikel soal ternak sapi. Tapi, ternyata, si pemilik kedai mie adalah mahasiswa di situ. Ia langsung bertanya, “Angkatan berapa?” Saya cuma menjawabnya dengan seulas senyumm…

Tak lama, muncul ide lain, yaitu mengaku sebagai lulusan SMK yang sedang cari kerja. Sandiwara seperti itu lebih mudah dan amat menentramkan sewaktu ngobrol dengan kenek bus, mas-mas ojek, juru parkir, juru sedot WC, dan segenap Bangsa Indonesia.

Baca juga: Panduan untuk Mahasiswa agar Tak Sekadar Jadi Buruh IPK

Dengan sandiwara itu, nggak perlu pusing kalau dikasih teka-teki sederhana namun sukar. Misalnya, “Kok bisa ya mbak, saya sudah hidup hemat, giat, dan gigih bekerja puluhan tahun, tapi masih saja serba kekurangan?”

Seandainya mengaku sebagai mahasiswa, tentu tidak bisa seenak udel menjawab, “Sabar dan bersyukurlah wahai Bapak, ini ujian.” Jawaban yang tidak mencerminkan intelektualitas kemahasiswaan. Saru dan nggak mutu.

Jadi, bukannya berniat menipu, cuma merasa malu karena tidak mampu mempertanggungjawabkan peran kesarjanaan itu (alasan yang masuk akal untuk terlihat sok ideologis).

Kini, tanpa ditanya, saya mengaku alumni HI, jurusan yang mungkin banyak disesali. Banyak yang merasa salah pilih jurusan setelah lama kuliah.

Disiplin ilmu yang lahir karena persengketaan negara-negara itu diramu dari berbagai disiplin ilmu yang lebih tua: filsafat, sosiologi, sejarah, hukum, dan ekonomi. Maka, menyebalkan sekali kalau orang hanya mengaitkan HI dengan ASN di Kemenlu dan pegawai kantor imigrasi. Ini dari mana riwayatnya?

Sampai sekarang kita gemar menyandingkan profesi dengan program studi. Padahal, kuliah itu konon perkara ilmu pengetahuan, bukan ketenagakerjaan.

Baca juga: Balada Perempuan Desa yang Berpendidikan Tinggi

Belajar di HI lama-lama juga membuat saya sadar, betapa ndakik-ndakik (melangit) jurusan ini bagi anak kampung seperti saya. Untuk apa memikirkan nuklir di Korea Utara, pengungsi di Eropa, identitas kelompok se-Asia Tenggara, membanding-bandingkan Asean dan Uni Eropa, lha wong persoalan di desa itu akses jalan dan sawah kekeringan.

Apa hubungan perang dagang Amerika dan Tiongkok atau sidang G20 dengan harga satu mendoan di angkringan?

Hanya mereka yang mau sangat repot meneliti yang mampu menjelaskan. Maka, betapa menyiksanya gelar akademik ini ketika menyadari kapasitas dan amalan tidak sebanding dengan ijazah. Kenyataan rasa temulawak, pahit.

Sebenarnya, banyak juga teman-teman yang merasa jurusannya tidak sesuai dengan minat. Mereka akhirnya mewadahi diri dalam komunitas-komunitas. Semakin bergiat di komunitas, semakin membusuk kertas revisi dan kartu bimbingannya dimakan rayap. Kasus sepert ini punya kemiripan dengan musim kemarau, selalu ada setiap tahunnya. Eksis di setiap angkatan.

Jadi, mohon jangan terlalu suka mengungkit latar belakang pendidikan orang, biarlah itu jadi beban personal masing-masing (jika bukan dosa sosial masing-masing).

Baca juga: Suara-suara Sarjana yang Bekerja Tak Sesuai Jurusannya

Semoga yang tadi tidak terjadi padamu ya, terutama adik-adik mahasiswa baru. Maka, sebelum uang registrasi diserahkan, coba renungkan apakah benar telah memilih jurusan secara bijak lantaran kehendak hati? Bukan karena desakan orangtua, peluang pasar tenaga kerja, akreditasi program studi ataupun gengsi.

Bagaimanapun, itu akan mempengaruhi informasi di bio Instagram-mu ke depannya. Sebagaimana kita tahu, kebanyakan akun Instagram mahasiswa tidak hanya melampirkan keterangan yang diduga seperti rute maskapai penerbangan, semisal Ternate-Yogyakarta, Makassar-Surabaya, melainkan juga program studi yang sedang ditempuh. Tak lupa, disertai emoticon toga di sampingnya.

Bahkan, ada juga orang yang menyertakan nama lengkap beserta gelar-gelarnya. Formal sekali. Kurang pas foto 3×4 aja tuh.

Khusus adik-adik peserta SBMPTN yang lolos maupun tidak, tradisi seperti itu sesungguhnya tidak perlu ditiru. Bukannya apa-apa, kita kan tidak Instagraman untuk keperluan mengunggah makalah penelitian atau resensi jurnal. Itu Instagram, bukan situs Academia.edu.

Hal ini sama anehnya dengan kebiasaan menyertakan gelar di undangan kawinan. Itu acara puncak resepsinya berupa diseminasi riset, apa ya?

Artikel populer: Maudy Ayunda Galau soal Harvard-Stanford, Kita Galau soal Apa?

Teruntuk yang suka pamer-pamer begitu, ketahuilah bahwa jurusan, gelar, dan almamater sungguh bukan jaminan citra sosial. Mau kamu jurusan Bisnis, Hukum, Kedokteran, bahkan jenjang magister sekalipun, apa hubungannya dengan feed Instagram? Kecuali, jika memang akun itu didedikasikan untuk mendakwahkan pengetahuan di bidang kuliahnya.

Kalaupun kamu kuliah di jurusan favorit di kampus bergengsi, apa perlunya mempublikasi? Biarkan orang menilai reputasi mahasiswa bukan dari jurusan dan kampusnya, dari prestasi dan jabatan organisasinya, cukup dari caranya bermasyarakat serta kontribusi sosialnya.

Untuk itu, tidak perlu juga terlalu kepo bertanya “Nanti lulusnya jadi apa”. Bagi mahasiswa ilmu Filsafat, itu serupa bentuk teror. Menjadi filsuf bukanlah sebuah jenjang karier di negeri kita, negeri perburuhan. Beruntunglah Zizek tidak lahir di Indonesia, lebih-lebih di jaman Orba.

Tapi, kalaupun kamu masih saja suka menyandingkan jurusan kuliah dengan pekerjaan, silakan. Kamu memang cocok jadi HRD perusahaan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.