Untuk ‘Moms’ yang Merasa Cemas dengan K-Pop

Untuk ‘Moms’ yang Merasa Cemas dengan K-Pop

Blackpink (YG Life)

Meninjau sejarah perseteruan ibu-ibu moral keeper dan K-Poper selama ini, saya pikir petisi penolakan Blackpink pada iklan Shopee bukan hanya tentang jadwal penayangan iklan ketika acara anak. Bisa dibilang persoalan jam tayang iklan itu hanyalah momentum untuk agenda “Anti K-Pop” yang lebih besar.

Faktanya, Blackpink bukan girlband K-Pop pertama yang ditolak – dalam bentuk apapun – di Tanah Air. Sebelumnya, senior mereka, SNSD, juga pernah dihujat sebagai ancaman moralitas bangsa oleh ibu-ibu moral keeper lainnya.

Jadi, dalam seteru ini, Blackpink bukanlah target utama para pendukung petisi, tapi K-Pop secara umum. Bolehlah berargumen kalau yang ditentang bukan K-Pop, tapi ketidaksesuaian K-Pop dengan norma dan budaya kita.

Sayangnya, kalau dipikir-pikir, poin protes ibu-ibu ini terhadap K-Pop bisa dibilang tidak berkembang alias sedari dulu itu-itu melulu yang dibahas: baju pas-pasan, tidak menutup paha, mengumbar aurat, atau gerakan dan ekspresi provokatif.

Padahal, semua itu adalah komposisi yang selalu ada dalam industri hiburan manapun, mau K-Pop, Hollywood, Bollywood, bahkan Nusantara poenya.

Jadi, kalau narasi penolakan yang dibawa ‘cuma’ soal buka-bukaan pakaian yang dianggap nggak beradab, ya ini adab menurut siapa dulu nih? Hehe. Kalaupun dibilang tidak sesuai nilai Pancasila, ya tafsir Pancasila mana dulu nih? Hehe.

Baca juga: 5 Film Korea Layak Tonton untuk Menghadapi Tahun Politik

Dear Moms, sebenarnya saya pun setuju dengan poin petisi soal mengumbar aurat. Apalagi, sebagai muslim, saya paham itu dilarang dalam syariat Islam dan meyakini selalu ada kebaikan dalam syariat.

Tapi, saya nggak mau serta-merta menggunakan justifikasi moralitas atau syariat untuk kebaikan. Sebab, mereka yang nggak suka akan langsung protes; itu kan aturan buat muslim, kenapa dipaksain buat non-muslim?

Masih mending kalau cuma begitu. Seringnya di zaman sekarang, ketika kebaikan nggak disampaikan dengan baik, dia justru berakhir sebagai olok-olok. Moms pasti nggak rela dong kalau syariat menjadi olok-olok?

Kalau kata salah satu ulama favoritku, Dr Majid ‘Irsan Al-Kilani, maksiat nggak bisa diatasi hanya dengan menasihati masyarakat kalau (maksiat) itu nggak sesuai syariat. Lebih dari itu, nasihat harus disertai dengan memberi ‘pengetahuan’ tentang urgensi keadilan dan keharusan memerangi kezaliman sebagai inti dari ketidaksesuaiannya terhadap syariat.

Edukasi ini tujuannya buat menghilangkan ‘kebutuhan’ yang mendorong manusia ke dalam kesesatan yang menjerumuskan mereka dalam perbuatan maksiat itu. Jadi, ada unsur kesadaran dan kerelaan personal hingga akhirnya mengakhiri kemaksiatan.

Misalnya begini. Larangan mengumbar aurat dalam syariat, sependek pengetahuanku sebenarnya memiliki muatan nilai kemanusiaan universal yang bisa banget diperjuangkan tanpa harus menjadi muslim. Nilai-nilai ini jauh lebih ‘menjual’ ketimbang melulu berbincang perihal moralitas dalam kerangka syariat yang debatable.

Baca juga: K-popnomics: Bagaimana Kita Bisa Belajar dari Industri Musik Korea

Nah, pada kasus girlband K-Pop dan ‘perempuan dalam industri hiburan’ lainnya, poin perlawanan objektifikasi tubuh perempuan (yang sempat disebut di petisi) sebenarnya bisa lebih pas untuk dikampanyekan. Tapi, nggak cuma jargonistik biar diterima kelompok feminis ya, Moms.

Campaign atau petisinya harus beneran research-based, bahkan kalau kelak diperlukan mesti berani advokasi para perempuan yang sebenarnya korban kapitalis itu juga.

Sebab faktanya, keluar dari jerat perjanjian industri (misalnya nggak ada consent terkait komodifikasi tubuhnya) tidak bisa semudah ‘hijrah’ pekerjaan, Moms. Apalagi kalau dia sudah consent dan terlanjur nyaman, lalu menolak edukasi perlawanan karena; ya mau kerja apa lagi kalau nggak begitu?

Tentu saja, perjuangan model begini bakalan panjang dan sulit. Ini tidak semudah menuduh K-Poper nggak beradab karena terlalu sering terpapar paha mulus, Moms, hehehe.

Meneliti komodifikasi tubuh perempuan di industri hiburan juga akan sangat sensitif dan melelahkan, baik yang terpapar sinar macam industri idol group multinasional hingga yang di pelosok panggung Pantura.

Tapi, berdakwah di jalur ini bukannya nggak mungkin, dear Moms yang ingin menyelamatkan nasib anak bangsa. Bahkan, Insya Allah manfaatnya bakal banyak banget lho untuk kemanusiaan.

Soalnya, banyak sekali sisi gelap perempuan di industri hiburan. Hak mereka sebagai pekerja, rawan dilecehkan (eits… jangan langsung nyolot “salah sendiri pake pakaian begitu!” ya Moms), hingga relasi kuasa yang penuh tekanan. Belum lagi secara psikis banyak tuntutan yang membuat tingginya angka bunuh diri.

Artikel populer: Seandainya Para Putri Disney Menanti Pangeran di Indonesia

Intinya banyak sekali permasalahan perempuan di industri hiburan. Sayangnya, ini jarang diangkat Moms, karena ya seringnya perempuan masih dilihat sebagai komoditas industri, bukan manusia yang berdaulat. Ketika diangkat pun, justru perempuan (sebagai korban) yang disalahkan dan bukan sistem industrinya.

Sementara itu, gerak apapun yang dianggap ‘menghambat’ kerja komoditas industri akan dihentikan sama pemilik modal. Namanya big boss nih Moms, sekali sapu mah selesai semua urusan. Padahal itu soal sapu-menyapu gerakan perlawanan yang terstruktur lho, Moms. Apalagi yang masih jauh banget dari rapi macam kita ini, hehe.

Oh ya, Moms, saya bilang begini bukan karena menikmati musik K-Pop, lho. Tapi biar argumentasinya lebih maknyus aja gitu. Soalnya berdasarkan hasil kepo, sebetulnya Moms punya kapasitas untuk memberikan gagasan yang lebih mantul. Apalagi, ini bisa menjadi momentum untuk dakwah cerdas.

Kalau kata Al-Ghazali, orang yang membela syariat dengan cara yang tidak benar akan lebih membahayakan syariat itu daripada orang yang menyudutkannya dengan cara yang benar.

Jadi begitu ya, Moms… Mohon maaf bukannya sok tahu, hanya sekadar mengingatkan. 🙂

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.