Ilustrasi lelaki. (Photo by Jeswin Thomas from Pexels)

Ketika perempuan membicarakan mainan seks (sex toy) di jagat digital, lelaki selalu protes. Intinya perempuan dianggap tidak peduli dengan kenikmatan pasangannya. Lho? Itu kan cara menikmati tubuh sendiri dengan sex toy, masa lelaki yang sering masturbasi dengan tangan, boleh? Aneh.

Banyak yang berpikir kalau perempuan memakai sex toy, lelaki bakal tersaingi bahkan tergantikan. Padahal, tak ada niat untuk menyaingi atau mengganti lelaki dengan sex toy. Ingat, sex toy bisa memberikan kenikmatan, lelaki bisa memberikan kehangatan. Lagi pula, perempuan pun punya tingkat kepuasan yang berbeda-beda.

Sebetulnya selain urusan kenikmatan, opini publik yang melihat perempuan sebagai pesaing lelaki selalu mengemuka. Contohnya ada yang bilang, “Perempuan lebih banyak yang bekerja, sehingga sudah tidak ada lowongan kerja untuk lelaki.”

Baca juga: Bagaimana kalau Pasanganmu Ternyata Suka Sex Toy?

Padahal, banyak perusahaan yang mempekerjakan perempuan bukan karena perihal kesetaraan, tapi perempuan dianggap sebagai tenaga yang lebih murah ketimbang lelaki. Perempuan sengaja dipilih karena dianggap sebagai pemberi nafkah tambahan, sehingga sering kali kerja perempuan tidak dianggap sebagai kerja.

Kemudian, seiring menguatnya gerakan perempuan belakangan ini, lelaki juga sering menganggapnya sebagai gerakan untuk menyerang lelaki. Perlu diketahui, menjelaskan tentang ketertindasan perempuan akibat superioritas lelaki bukanlah penyerangan yang mengada-ada, melainkan analisis dan bagaimana membongkar sistem yang telah memarjinalkan perempuan.

Mendapatkan hak yang sama di ranah privat maupun publik juga bukan upaya untuk menyaingi lelaki. Justru ketika perempuan mendapatkan haknya, ia memainkan perannya dalam kehidupan bermasyarakat maupun ranah personal.

Baca juga: Kenali Tiga Akar Feodalisme di Tempat Kerjamu

Dalam skenario terburuk bisa saja seorang suami – dalam konteks pasangan heteronormatif – jatuh sakit sehingga tak bisa bekerja. Jika demikian, siapa yang akan mencari nafkah untuk keluarga, kalau bukan istrinya? Sayangnya, sekalipun perempuan sudah bekerja, upahnya masih kecil daripada kolega lelaki yang menikah serta membayar pajak lebih besar.

Akan rugi bagi lelaki kalau perempuan tidak mendapatkan hak yang sama dan upah yang setara. Karena pasti ada suatu waktu tak bisa lagi menggantungkan hidup kepada satu orang, meskipun dia adalah suami sendiri. Bayangkan kalau ternyata suami yang terlebih dahulu pergi meninggalkan keluarga, tegakah melihat keluarganya tidak bisa bertahan hidup jika istri tak bekerja?

Kesetaraan gender bukanlah kompetisi antara perempuan dan lelaki. Pun, bukan perlombaan siapa yang paling tertindas. Ini tentang bagaimana menjawab permasalahan selama ini yang tidak memerhatikan pengalaman ketubuhan perempuan serta kelompok minoritas dan marjinal.

Baca juga: Lihatlah, Mereka bahkan Bergembira di Atas Derita Para Janda

Perempuan pun tidak ingin seperti lelaki, apalagi sampai bertinju dengan lelaki hanya untuk membuktikan dirinya setara. Setara tidak diukur dari standar hidup lelaki, melainkan pemberian akses kepada perempuan untuk membantu dia belajar, bekerja, dan beraktivitas di ruang publik maupun privat dengan aman dan nyaman.

Anggapan bahwa lelaki bisa tersaingi sebenarnya tidak jauh-jauh dari bagaimana kapitalisme membuat lelaki berada dalam hierarki, sehingga untuk mencapai titik tertentu, ia harus bersaing dengan lelaki lainnya. Perempuan pun dilihat sebagai ancaman. Padahal, tak perlu berpikir sesempit itu.

Setiap orang tentu diciptakan berbeda-beda. Ia memiliki keunikan dan keterampilan tersendiri. Keunikan dan kemampuan itu bisa digunakan untuk berpartisipasi dan berperan secara sehat dalam masyarakat.

Artikel populer: Bro, Masih Kepingin Banget Punya Penis Besar?

Jadi, wahai lelaki, jangan lagi merasa tersaingi oleh perempuan. Justru lelaki mesti ikut dalam gerakan perempuan melawan sistem kapitalistik yang tiada henti menindas perempuan dan lelaki. Pun, tak perlu merasa tersindir jika identitas dan kenyamanan hidupnya sebagai lelaki dikritik oleh perempuan.

Semestinya itu bisa menjadi bahan refleksi diri. Dengan begitu, bisa sama-sama membongkar tatanan yang membuat lelaki harus terus merasa tersaingi. Jika merasa kesempatanmu terebut oleh, katakanlah perempuan, seharusnya ini menjadi tantangan untuk meningkatkan diri dan menciptakan kesempatan itu sendiri. Sebab tidak ada kebaikan dari perasaan tersaingi hingga saling menjatuhkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini