‘Uninstall’ Feminisme atau Tidak? Sebuah Saran

‘Uninstall’ Feminisme atau Tidak? Sebuah Saran

Ilustrasi (Darwin Laganzon via Pixabay)

Sama halnya dengan komunisme, feminisme adalah sebuah khazanah pengetahuan.

Semula adalah gerakan yang merespons persoalan sosial di zamannya, yakni kesenjangan hak-hak perempuan dan laki-laki. Gerakan demi gerakan lantas dipengaruhi pemikiran filsafat dan sosiologi.

Ini yang bikin feminisme mengalami perdebatan sejak akhir abad 18, membuatnya menjadi sebuah disiplin dalam rumpun ilmu sosial hingga sekarang. Feminisme pun memiliki perangkat analisis yang semakin kaya, menyesuaikan konteks persoalan di zamannya.

Tapi, oleh kelompok tertentu, term feminisme sering kali dikira begitu sederhana dalam tafsir tunggal. Beberapa pihak mengira feminisme semata perkara kebebasan perempuan. Beberapa yang lain bahkan berprasangka hanya seputar otoritas tubuh perempuan.

Padahal, anasir itu baru mewakili satu dari beragam perjuangan feminis. Para feminis sendiri memiliki keyakinan berbeda-beda soal sumber utama ketertindasan, apakah lantaran struktur politik, budaya patriarki, atau struktur kelas beserta sistem ekonominya?

Tatkala menolak suatu ide, masing-masing dari mereka tetap menghargai hasil pemikiran seseorang dengan berusaha menelaah, mempelajari, hingga mencari celah kritiknya. Dibuktikan dengan karya-karya yang demikian banyak.

Baca juga: Memahami Anti Feminis-feminis Club

Meski begitu, tak semua corak feminisme itu santer. Beberapa ide yang mendominasi sering kali mengaburkan ide-ide lain. Ibarat teh celup, seolah-olah teh celup hanya SariWangi. Sebab produk tersebut punya modal besar untuk mendominasi iklan.

Pidato Eni Lestari di sidang umum PBB, misalnya, nggak bisa seviral pidato He for She Emma Watson. Mbak Eni adalah TKW asal Cilacap, Jawa Tengah dan ketua International Migrant Alliance. Berangkat dari pengalamannya, ia gigih memperjuangkan hak-hak buruh migran, khususnya perempuan.

Gerakan perempuan menolak tambang seperti yang dilakukan ibu-ibu Kendeng atau regu perempuan di Bengkulu juga nggak pernah seviral gerakan #MeToo.

Jika ada kelompok yang parno kalau-kalau para feminis mengancam kedaulatan negara, kemudian mengajak ‘uninstall’ feminisme, mungkin kelompok itu belum menyaksikan perjuangan ibu-ibu tersebut.

Di sisi lain, mungkin nggak semua orang yang mendaku feminis betul-betul serius mempelajari cikal bakalnya. Anak-anak muda yang baru beberapa kali ikut rumpi-rumpi feminisme dan terprovokasi, bisa saja langsung mendaku diri feminis.

Sama halnya dengan anak-anak muda yang beberapa kali ikut kajian Felix Siauw dan langsung terprovokasi, ujug-ujug mendakwa diri kaum surgawi.

Baca juga: Berhijrah Bukan Berarti Menjadi Hijaber-hijaber Snob

Yang membela khilafah belum tentu pernah membuka karya-karya Taqiyuddin An Nabhani. Begitupun yang mendaku feminis, belum tentu membuka minimal karya Rosemarie Tong, buku yang dianggap paling mendasar sebagai pengantar mengenal pergolakan feminisme.

Kalau muasalnya dari provokasi-provokasi, jadinya ya saling ngegas…

Oleh para mahasiswa Kajian Gender UI dan Kajian Gender UIN Jogja, babakan feminisme dikaji hingga dua semester penuh. Mulai dari pergerakan hingga metodologinya sebagai disiplin akademik. Itupun, untuk mampu mencari celah kritik terhadap satu pemikirannya, butuh sekitar satu semester pada pengerjaan tesis.

Lha, kan ngaco kalau membaca satu literatur pun belum, sudah kebelet membentuk serikat untuk mengecam. Karena ngaco, nggak perlu serius-serius amat ditanggapi.

Mari kita selow saja memandang feminisme sebagai sebuah khazanah pengetahuan, sebagai pergerakan kemudian.

Feminisme sebagai pemikiran dalam kajian ilmu sosial ibarat suatu rumus dalam disiplin eksakta. Bedanya, jika objek dari teori dalam disiplin eksakta berupa benda-benda atau angka-angka, dalam ilmu sosial adalah manusia-manusia.

Baca juga: Delapan Buku Fiksi Wajib Baca sebelum Usia 30

Jadi, legowo lah menerima istilah feminisme, ya gimana yaa, sudah terlanjur. Hukum Newton kan juga nggak bisa diganti namanya jadi lebih syar’i.

Dengan memandang feminisme selayaknya teori, kita pun bisa membuat antitesa yang sama ilmiahnya seandainya nggak sepakat sama nilai-nilai dari satu pemikiran tertentu. Niscaya, antitesa itu bakal dipertimbangkan di forum-forum kajian.

Chandra Mohanty, misalnya, intelektual India yang nggak sepakat-sepakat amat sama ide-ide feminis barat. Ia merancang perspektif feminisme yang dirasa lebih mewakili pengalaman perempuan di negara bekas jajahan.

Dari tesis Mohanty, kita diberitahu kalau identitas berbasis gender nggak cukup paripurna. Mustahil memimpikan seluruh perempuan di muka bumi bisa saling rangkul melawan satu dogma besar patriarki hanya lantaran kesamaan identitas gender.

Faktor historis dan politik memang turut mempengaruhi berbedanya pengalaman perempuan. Buruh pabrik sepatu bakal enggan meluangkan waktu untuk turut bersolidaritas mengkampanyekan “Tubuhku Otoritasku”. Mereka akan memilih bersolidaritas menuntut upah minimum – sekalipun CEO perusahaannya adalah perempuan – seandainya masih memiliki sedikit sisa waktu pada akhir pekan.

Artikel populer: Pengalaman Berteman dengan Ukhti-ukhti Anti Feminisme

Di level gerakan, nggak apa-apa juga kalau kita enggan menggunakan label feminis dalam perjuangan kemanusiaan. Pergerakan perempuan Indonesia era kolonial juga nggak menggelorakan label feminisme, namun berkembang begitu pesat.

Putri Mardika dibentuk sebagai sayap gerakan perempuan Boedi Oetomo supaya perempuan juga terlibat dalam perjuangan melawan kolonial. ‘Aisyiyah juga dibentuk tahun 1917 untuk memberdayakan kapasitas perempuan lewat organisasi.

Bahkan, gerakan perempuan Indonesia juga telah membentuk aliansi Kowani (Kongres Wanita Indonesia) tahun 1928. Ibu-ibu kita telah mengangkat berbagai isu sosial, dari melawan kolonialisme, poligami, kesetaraan upah, kuota perempuan, tanpa gembar-gembor istilah feminisme.

Yaa meskipun gerakan-gerakan perempuan itu nggak selalu akur satu sama lain. Maklum, pengetahuan dan pengalaman kontekstual yang diperoleh seseorang atau suatu kelompok berbeda-beda.

Jadi, feminis atau bukan, saya kira nggak penting-penting amat sebenarnya. Yang penting adalah ikut mewujudkan Indonesia tanpa penindasan ataupun tanpa-tanpa lainnya yang lebih masyuuuk aqal.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.