Sebab Semua Jadi Pakar Politik, Begini Ulasan Receh soal Capres dan Cawapres

Sebab Semua Jadi Pakar Politik, Begini Ulasan Receh soal Capres dan Cawapres

Ilustrasi (Ryo Taka via Pixabay)

Konon, Kamis malam sering dianggap sebagai malam keramat bagi politisi. Meski hingar bingar politik sudah terdengar sebelumnya, tapi baru terasa genting pada malam tersebut.

Berita saling klaim pun beredar di media sosial, terutama Twitter. Untuk platform yang satu ini, namanya pasti naik daun kalau lagi membahas isu politik.

Orang Indonesia yang terbiasa bikin status singkat, lebih nyaman memakai Twitter. Namun, belakangan, Twitter pun mengalami perubahan. Yang tadinya hanya 140 karakter, kini menjadi 280 karakter.

Supaya apa? Supaya receh dan nyindirmu lebih panjaaang.

Berbicara soal klaim, orang-orang kita lebih suka mendahului kehendak pemimpin. Mereka menganggap sebagai A1, pusat segala informasi. Barangkali biar dianggap keren begitu.

Sebagai contoh, detik-detik menjelang pengumuman cawapres Jokowi. Beberapa selebtwit politik ramai-ramai mengunggah fotonya bersanding dengan Mahfud MD sembari ngetwit dengan kepsyen:

“Inilah Saatnya.”

“JokowiMahfud2019.”

“Selamat Pak Mahfud MD.”

Padahal, seperti kita ketahui, Jokowi belum mengucapkan nama yang menjadi pendampingnya, hanya mengucap inisial M. (Saya juga deg-degan sih, hihi..)

Tapi ternyata menjelang pertandingan semifinal Piala AFF U-16 antara Indonesia-Malaysia, prediksi berubah total. Klaim salah semua. Jokowi memilih Ma’ruf Amin, seorang alim ulama yang juga menjadi petinggi MUI.

Yang malu, ramai-ramai menghapus postingan sebelumnya. Yang tak malu, sepi-sepi menuliskan sebuah tweet, “Legawa dan ini pilihan terbaik bagi Jokowi.”

Yah, namanya politisi berbungkus selebtwit, pencitraan nama akun perlu dipertimbangkan dengan baik. Tapi, rekam jejak digital masih ada. Selama Info Twitwor masih gentayangan, maka tweet-tweet itu masih tersimpan dengan baik. Netizen kok dilawan.

Foto: Ist/jpnn

Dan, ini juga yang dialami kelompok Prabowo Subianto. Pendukungnya ramai-ramai mengultimatum Prabowo supaya mengikuti rekomendasi ijtima ulama. Bahkan, akan cabut dukungan dan yang lebih mengerikan dijatuhi putusan melawan kehendak Tuhan. Gimana? Nggak ngeri, Om?

Tapi pendukungnya lupa. Prabowo juga politisi. Walaupun sudah menyimpan sejumlah nama, ia masih bisa memasukkan nama lain untuk dijadikan cawapres yang mendampinginya. Betul kata orang, selama janur kuning belum melengkung, selama kardus belum diselotip.

Maka, terjadilah hal yang tak diharapkan. Di luar dugaan sebelumnya, Prabowo memilih Sandiaga Uno, wagub DKI Jakarta yang terkenal dengan jurus bangau terbang. Aneh? Ganjil? Tapi, ya itu pilihan.

Ingat, meski kamu sudah lama pedekate, bahkan hampir jadian, tapi… ah sudahlah… Semua itu hanya akan tersimpan dalam kenangan. Seperti kamu dan dia.

Bicara soal kenangan, Ma’ruf Amin sebetulnya orang yang ikut menjebloskan Ahok ke dalam penjara. Iya Ahok, sahabatnya Jokowi.

Kemudian, Sandiaga juga tak lepas dari kontroversi. Belum genap dua tahun memimpin Jakarta, eh malah mengabaikan janjinya untuk memajukan kotanya membahagiakan warganya. Ia lebih memilih mundur untuk maju menjadi cawapres mendampingi Prabowo.

Mungkin ia terinspirasi Jokowi, yang dulu juga belum usai memimpin Jakarta, tapi memilih untuk mengikuti pilpres 2014. Dan, Jokowi pun berhasil menjadi presiden. Barangkali, Sandiaga ingin mengikuti jejak Jokowi. Ehm.

Setidaknya, belakangan ini, Sandiaga sudah mulai menata kata. Mungkin belajar dari Anies Baswedan, sang ahli tata kata. Bahwa ini tidak cukup dengan jurus bangau terbang seperti Jakarta.

Lihat saja Kali Item. Sandiaga menyalahkan warga karena menamai Sungai Sentiong dengan sebutan Kali Item. Akhirnya, menurut dia, sungai itu benar-benar menjadi hitam. Beda cerita kalau menyebutnya Sungai Sentiong. Ini masalah tata kata, bukan tata kota!

Kini, Sandiaga terpaksa harus berpisah sama Anies Baswedan. Padahal, mereka adalah teman sejiwa, begitu mengharukan sekali ketika mereka memenangi Pilkada Jakarta. Eh, ini kok malah ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.

Foto: Twitter/@aniesbaswedan

Namun, dari semua nama-nama tersebut, kita sepertinya harus berempati kepada Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY. Mengapa demikian?

Begini.

SBY sudah turun gunung. Repot-repot manuver ke sana-sini. Mengenalkan anak sekaligus generasi penerusnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Setelah gagal di Pilkada Jakarta, beliau berusaha memasukkan nama AHY sebagai cawapres. Dan, cara yang paling rasional adalah mendekati juniornya, Prabowo.

Bak gayung bersambut. Prabowo memberikan pernyataan setia terhadap SBY. Tentu saja, SBY bungah. Ada tanda-tanda positif. Manuver pun kembali digiatkan. Baliho bertebaran di mana-mana seolah nggak mau kalah sama Cak Imin. Jujur, itu baliho yang bagus.

Tapi, SBY lupa. Selain mantan pensiunan tentara, Prabowo juga dianggap sebagai politisi. Pengalaman dua kali kalah saat pemilu, mengajarkan Prabowo satu kata. Waspada.

Dan, benar saja. Prabowo bertekad mengunci koalisi de facto antara Gerindra, PKS, dan PAN. Ia memilih nama Sandiaga Uno, pengusaha tajir.

Keluarga SBY pastinya syedih mendengar kabar itu. Sudah lamaran, eh menjelang akad nikah, lagi-lagi pilih yang lain. Duh…

Walaupun begitu, sebagai rakyat yang baik, saya memberikan saran yang membangun. Masa kritik doang yang membangun.

Alangkah baiknya, SBY beserta AHY membuat album baru. Asal tahu saja, rakyat Indonesia suka lagu-lagu galau. Soal lirik, SBY pasti lebih paham. Bukan begitu, rakyatku?

Mungkin salah satu lagu Sheila On 7 bisa menjadi inspirasi. “Aakuu pulangg.. Tanpa dendaam.. Kuterima kekalahaankuu..”

Nah, kalau soal judul, boleh saya kasih saran juga? Bagusnya sih satu kata saja. Apa itu?

Prihatin.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.