Obrolan dengan Ukhti-ukhti Penikmat Musik Punk

Obrolan dengan Ukhti-ukhti Penikmat Musik Punk

Ilustrasi (muslimgirl.com)

Sudah lama saya membaca riset Hikmawan Saefullah kalau Punk tidak mati, bahkan menjadi Islami di Indonesia. Saya juga pernah iseng ‘mewawancarai’ beberapa teman ukhti penikmat musik Punk hanya untuk menemukan fakta tambahan bahwa gerakan Punk Islami macam itu bukanlah sesuatu yang perlu dianggap spesial alias biasa saja.

Tapi, ketika kemarin seorang teman (masih) kaget menemui Sum 41 di daftar lagu saya sambil berujar heran, “Gila, ukhti dengerin Punk juga!” – saya jadi merasa perlu membagikan hasil obrolan dengan teman-teman ukhti yang lebih khusyuk mendengarkan Punk sekaligus lebih Islami dari segi keseharian itu.

Para ukhti yang saya wawancarai berusia dua puluh hingga tiga puluhan tahun. Ada yang masih JoFiSa alias Jomblo Fi Sabilillah, ada pula yang sudah berkeluarga hingga memiliki anak. Pekerjaan mereka pun beragam, dari pelajar Ma’had, dosen, hingga ustazah pesantren Tahfidz.

Mereka sudah lama mendengarkan musik Punk, sejak SMP atau SMA. Ketika awal berkenalan, sebenarnya mereka pun tidak menyadari kalau genre musik begituan namanya Punk. Bahkan setelah tahu pun, mereka tidak lantas repot mempelajari sejarah Punk dan segenap gerakannya.

Meskipun menyukai musiknya, mereka juga tidak mengikuti fanbase grup Punk manapun sebagai anggota. Menikmati lagu-lagu Superman is Dead sejak indie tanpa perlu menyebut diri Lady Rose, misalnya.

Terhadap Punk Islami di Indonesia pun, mereka tidak tahu dan sejauh ini tidak tertarik untuk mencari tahu. Intinya, mendengarkan Punk karena suka musiknya, that’s it.

Apakah lantas para ukhti ini tidak cukup Punk untuk menikmati musik Punk? Entahlah. Yang jelas, mereka tidak merasa perlu pengakuan orang lain, apalagi untuk dianggap anak Punk atau bukan. Kalaupun ada yang justru menganggap pilihan musik mereka aneh sebagai ukhti, mereka tidak terlalu mempedulikan omongan itu.

Beberapa orang yang mempertanyakan pilihan musik para ukhti itu memang tidak salah, meskipun jelas kurang mengenal banyak manusia. Sekalipun tidak terlibat dalam gerakan Punk, menikmati musik Punk pun sedikit banyak mempengaruhi seseorang.

Bisa dibilang bukan pengaruh Punk yang begitu spesial, tapi kekuatan musiklah yang besar. Maksudnya, genre lain juga punya potensi untuk memiliki pengaruh yang sama.

Pilihan musik seseorang terbukti secara ilmiah dipengaruhi dan mempengaruhi kepribadian, pola pikir, bahkan pandangan ideologinya. Sudah banyak penelitian tentang ini, tapi tulisan favorit saya sekaligus yang paling lengkap adalah risetnya Peter J. Rentfrow dan Samuel D. Gosling dari University of Texas.

Membaca riset enam seri itu menjadikan saya bisa memaklumi teman-teman yang masih kaget menjumpai lagu Punk di daftar musik seorang ukhti.

Mungkin baginya seorang ukhti cocoknya mendengarkan lagu-lagu Pop Islami, yang nadanya lembut menenangkan ditaburi kata-kata mutiara, bukan lagu Punk yang upbeat dan liriknya penuh protes kemarahan.

Apalagi, ketika para ukhti itu masih bertahan dengan gamis longgar dan jilbab lebar yang meneduhkan, sungguh sangat kontras mendengarkan band Punk yang citraan anti kemapanannya begitu nyata, bahkan dari visual rambut mohawk, tato, dan tindik di mana-mana.

Tapi tentu saja, definisi kemapanan tidak sesempit itu. Teman-teman ukhti saya memang tidak berdandan sebagaimana anak Punk, tapi menurut saya spirit Punk – yang tercipta dari pengaruh pilihan musik itu – hadir dalam keseharian mereka.

Mereka yang tidak mengukur keimanan seseorang dari panjangnya kain penutup kepala, sebagaimana mereka yang tidak mengukur seberapa Punk seseorang dari tingginya mohawk dan banyaknya tato.

Sekalipun tidak hobi demo di jalan setelah banyak mengonsumsi musik Punk, para ukhti ini bukan berarti hidup tanpa protes. Dengan profesi berbeda, mereka sama-sama tidak takut mengkritik sistem, meskipun tidak lantas mesti latah mengutip ideologi kiri agar tampak keren seperti pendahulu Punk di Indonesia.

Bentuk kritik yang disampaikan pun sederhana saja, seperti menulis cerpen Islami beraroma psikopat di tengah arus nikah-nikahan. Atau, nekat menggunakan media musik untuk mengajar para hafiz Quran sekalipun dilarang.

Pilihan perlawanan yang bisa dibilang biasa saja, tidak cukup heroik, persis seperti lirik-lirik sederhana musik Punk yang mereka dengarkan. Tapi, sebagaimana mereka memilih mendengarkan Punk karena “suka aja!” – kritik sistem dari mereka pun dilakukan karena “ya memang harus gitu!”

Jadi, bukan cuma biar tampak rebel sebab rebel itu keren, hipster, dan anti mainstream yang sangat seksi buat pencitraan media sosial. Faktanya, mereka justru jarang berbagi info musik apa yang mereka dengarkan, jika hanya ingin dianggap spesial dan berbeda di mata dunia.

Dan, memang begitulah sewajarnya kita menghadapi pilihan musik seseorang: B aja. Mau situ ukhti dengerin Punk atau situ anak Punk tapi fans JKT48, menurut saya semua sama. Tidak ada yang lebih punk satu sama lain.

Kalau memang mau bersaing mana yang lebih Punk ala kontestasi kebenaran, lebih baik situ ikut fans club agama-agama Puritan. Sebab terhadap musik, marilah kita merdeka dari klaim kebenaran selera absolut.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.