BTS lewat single “Dynamite” memecahkan rekor di Youtube dengan lebih dari 100 juta penayangan hanya dalam tempo 24 jam. (Big Hit Entertainment)

Apa masa-masa yang paling berkesan dalam hidupmu? Kalau saya, salah satunya ketika menjadi ‘penggemar baru K-pop’. Tapi, sebelum kamu berpikir tulisan ini hanya berisi pujaan dan pujian terhadap oppa dan eonni, santai saja – kamu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tak bisa disebut benar.

Ada banyak alasan kenapa seseorang mencintai kelompok penyanyi dan penari asal Korea Selatan yang bahkan tak pernah ditemuinya. Saya menyukai Super Junior karena iseng menonton video musik “Bonamana” setelah merasa kangen kepada seorang teman yang hobi memuji semua member-nya. Alhasil, jadi hafal satu per satu nama member SuJu, kemudian mempelajari bahwa mereka adalah grup berisi 13 member yang kini tampil tak lagi lengkap dengan beberapa alasan.

Dengan bekal rasa suka yang berulang, akhirnya jadi tahu pula bahwa Super Junior memiliki beberapa sub-grup yang tak semuanya aktif, tapi member-nya punya kesibukan masing-masing. Pada tahun pertama jatuh hati dengan Super Junior, saya langsung berdiri di baris terdepan Super Show 4, saat konser tur Super Junior itu berlangsung di Jakarta.

Baca juga: K-popnomics: Bagaimana Kita Bisa Belajar dari Industri Musik Korea

Lantas, apakah kehidupan fangirling dilimpahi segalanya soal idola? Iya dan tidak.

Iya, karena saya mengisi hidup dengan segala hal tentang para member Super Junior. Sampai-sampai punya hard disk yang isinya semua video musik dan reality show yang mereka bintangi – lalu sempat menangis semalaman dan bertengkar dengan pacar kala itu karena dia tak sengaja memformat isi disk. Ya bagaimana, liriknya menyentuh hati. Kerja keras mereka luar biasa dan patut dicontoh. Apa yang mereka lakukan hingga berhasil debut adalah pencapaian yang menggembirakan.

Tapi bisa juga tidak melulu soal itu, sebab kebanggaan tak selamanya menjadi sesuatu yang baik. Ia justru menjadi perisai besar dari pikiran jernih. Seorang penggemar grup tertentu pasti pernah membenci grup lain yang ‘kabarnya’ bersikap tak baik terhadap grup kesayangannya. Padahal, kebencian bisa dimulai dan disebarkan dari apa saja. Sayangnya, kabar tersebut sering kali ditelan mentah-mentah.

Baca juga: Sebelum Kamu Ikut-ikutan Tren 10 Langkah Perawatan Wajah Ala Korea

Sama halnya ketika seorang idol lain tampak akrab dengan member grup favorit, spekulasi yang beredar pun bisa banyak. Semisal, anggapan bahwa mereka berkencan. Jika ada satu hal saja yang tak sesuai harapan penggemar, itu bisa memantik problem. Diskusi panjang, saling benci, atau perang antar fandom. SNSD dan Super Junior, misalnya, meski berasal dari satu agensi yang sama, para pendukungnya bukan sekali dua kali bertengkar.

Tak hanya perkara hubungan antara grup favorit dan idol lain, kemampuan bias (member grup kesukaan) juga menjadi penting bagi penggemar K-pop. Pada masa-masa awal mencintai grup, rasa ingin melindungi ‘at all cost‘ seperti menyala-nyala dengan hebat di dada, melenyapkan sebagian besar pikiran yang logis. Kritik dan saran berupa pendapat bisa terlihat seperti ujaran kebencian yang menyerang pribadi idol kesukaan. Sang idol di Korea mungkin tak bereaksi, tapi yang jelas penggemarnya tak mungkin tidak militan.

Baca juga: Banyak Cara Bersolidaritas: Ganyang Rasisme dengan Ddu-du Ddu-du

Ini menjawab pertanyaan kenapa tagar yang berhubungan dengan idola K-pop kerap trending di Twitter. Bagi penggemar, media sosial dan internet adalah jembatan paling nyata untuk ‘mencapai’ idola. Tak heran, cinta mereka seperti tumpah ruah di sana: foto profil Korea, membalas twit orang dengan menyertakan link MV terbaru grup idola untuk menambah views, menyebarkan cuplikan fancam bias, hingga membagi tutorial voting idola di beberapa chart musik.

Kecintaan mereka, kami, saya, dan dia pada K-pop rasanya serupa dengan kecintaanmu pada klub sepak bola, penyanyi dalam negeri, hingga tokoh politik. Cinta bisa berubah jadi fanatik, tapi ia bisa juga diimbangi sikap netral dan dewasa sering waktu.

Artikel populer: Benang Merah Kematian Goo Hara, Sulli, dan Perempuan di Negeri Ini

Dalam hal menjadi penggemar K-pop, sikap itu muncul pelan-pelan, butuh waktu alias tidak bisa instan. Itulah kenapa kamu mungkin menemukan ‘penggemar baru K-pop’ yang sedikit menyebalkan, gampang tersulut, hingga terlalu keras kepala memuja idolanya.

Kalau dirasa mereka cukup mengganggu, tegur saja baik-baik. Toh, ke depan, ia mungkin bakal menertawakan sikapnya sendiri. Soalnya, kadang-kadang, kami hanya sedang dibutakan cinta karena, hey, cinta memang bisa terasa sedalam itu sampai-sampai kamu ingin melindungi senyum orang yang kamu cintai, kan?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini