Ilustrasi. (Image by Mote Oo Education from Pixabay)

Dalam semesta Bikini Bottom, ada satu momen penting yang dirayakan pada 25 Januari dengan penuh sukacita. Sepanjang hari, para biota laut akan bertingkah aneh, berperilaku kontradiktif dengan kebiasaan sehari-hari. Itulah Hari Kebalikan alias Opposite Day. Episode yang tayang perdana pada 11 September 1999, di musim pertama serial animasi Spongebob Squarepants itu, konon terinspirasi dari permainan anak-anak yang berguna melatih ketangkasan berpikir.

Sementara, dalam semesta manusia – terutama di Indonesia – Hari Kebalikan selalu dirayakan setiap waktu, tanpa perlu menunggu momentum sakral. Kilasan kabar buruk yang mencederai akal publik begitu mudah kita jumpai. Misalnya, ada aparat penegak hukum yang ketahuan pesta narkoba, seorang pemuka agama yang tega mencabuli jemaatnya, pejabat yang konon berpihak pada perempuan malah menolak RUU-PKS, dan sebagainya.

Baca juga: Spongebob Itu Pendidikan Politik Paling Asyik, yang Apatis Jadi Ikut Aksi

Agaknya kita terbiasa merayakan Hari Kebalikan pada segala hal, kecuali pada pola didik dalam relasi keluarga. Sebab, selalu ada hierarki dan batas-batas yang tak elok jika diterabas, selalu ada delik ancaman apabila mendobrak norma kesopanan. Pokoknya, hanya orang tua yang punya peran mengedukasi, dan bukan sebaliknya.

Buku-buku bertema parenting dicetak setiap tahun dalam jumlah eksemplar tak terbilang, dan konon termasuk dalam jajaran produk cepat laku ketimbang buku sastra atau filsafat yang berat-berat. Lokakarya dengan pembahasan serupa juga selalu ramai kunjungan. Tapi, sedikit orang tua yang rela mengesampingkan ego untuk belajar walau satu ‘ayat’ pada anaknya.

Begitu juga si anak, yang merasa ngeri duluan walau sekadar untuk mengingatkan. Tak ada yang mau menghabiskan sisa usianya menjadi patung seperti Malin Kundang yang dikutuk karena durhaka, bukan?

Baca juga: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Memang tidak semua keluarga terjebak dalam relasi tak sehat semacam itu. Tapi selalu ada momen ketika anak merasa ragu-ragu untuk memberi tahu. Orang tua pun merasa gengsi untuk menerima ilmu. Itu lazim terjadi, namun internet menjadi laboratorium sosial yang bisa dijadikan ajang pembuktian.

Di internet, ruang di mana segala jenis anonimitas mendapat tempat, terjadi saling ejek antar generasi yang begitu sengit. Yang muda melontarkan olok-olok “Dasar, Boomer!”, sementara yang tua tangkas cocotnya dengan ejekan “Dasar, generasi micin!”.

Maksud saya, yang menjadi persoalan sekarang bukan lagi perkara ketimpangan pengetahuan (knowledge gap) antar generasi. Kita punya segudang data mutakhir yang dapat menunjang perkara itu, tapi tak penting lagi. Yang lebih genting adalah bagaimana membina kehidupan ideal di jagat maya. Saling menjaga. Atau, dalam adagium Sunda “Saling asah, saling asuh, saling asih”.

Baca juga: Peringatan untuk Orangtua sebelum Marah-marah dan Viral di Media Sosial

Jangan pernah lupa, pasal-pasal karet dalam UU ITE membuat orang bisa ditangkap bukan saja karena ia melakukan tindak kejahatan, tetapi juga karena kebodohan, karena kepandiran. Menyebar hoaks, misalnya, meski diniatkan untuk berbagi informasi dan tanpa kehendak mencelakai, bisa diganjar telikung penjara.

Mari kita mengenang sejenak pada masa-masa pemilu. Saat itu, tak sedikit kawan yang mengeluh karena mengemban tugas maha berat sebagai ahli verifikasi data di grup WA keluarga. Kabar burung bertebaran dan mereka menjadi juru penentu soal faktualitas. Meski sudah diingatkan untuk melakukan cek validitas sebelum membagikan informasi, om dan tante masih gemar menyebarkan misinformasi. Ketika kesabaran sudah mencapai ambang batas, keluar dari grup WA keluarga memang pilihan cerdas.

Artikel populer: Nanya-nanya Sumbangsih Anak Muda, Memang Nasib Ini di Tangan Orang Tua?

Atau, bagaimana dua orang tua yang sempat viral karena mungkin tidak mampu mencermati gaya hidup di era kiwari – mereka yang buta dalam transaksi daring alias mereka yang gagal dalam literasi digital. Seorang ibu yang berseru “blog.. goblog” kepada kurir dan si bapak yang marah karena anak bocahnya top up gim daring sampai menghabiskan uang ratusan ribu rupiah.

Bisa jadi, orang-orang terdekatmu mengalami hal serupa di kemudian hari. Itu bukan sesuatu yang mustahil. Semisal itu terjadi, mungkin barulah kita sadar soal pentingnya saling mengedukasi, yang tua pada yang muda, begitu juga sebaliknya. Simbiosis mutu terjaga. Ini bukan Hari Kebalikan, sebagaimana dalam serial Spongebob di atas, ini semata-mata demi kebaikan.

Sebab, ketika viral dan blunder terlaksana, hanya ada dua pilihan: video klarifikasi atau tanda tangan di atas materai. Kalian pilih yang mana?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini