Uang Rp 50 Ribu, Apa Nggak Nikmat, coba?

Uang Rp 50 Ribu, Apa Nggak Nikmat, coba?

Ilustrasi (Firdaus Roslan via Unsplash)

Gara-gara mbak Titiek Soeharto – eh mbak atau ibu ya? – nanya ke ibu-ibu kalau bawa uang Rp 50 ribu ke pasar bisa dapet apa aja, saya jadi nyasar ke akun Instagram Faye Malisorn yang kabarnya putus sama Ivan Gunawan. Apa hubungannya coba? Ya jelas nggak ada, haha…

Tapi, gara-gara kepo nggak jelas gitu, malah jadi tahu harga produk kosmetik teranyar dari Ivan Gunawan. Lumayan mahal bagi saya yang lebih milih beli cilok ketimbang blush on yang harganya lebih mahal dari beras sepuluh kilo.

Eh tapi, kalau buat mbak Titiek bedalah. Apa sih yang mahal? Shu Uemura atau Lancome? Christian Louboutin? Charlotte Tilbury? Jangan bercanda. Apalah arti uang US$ 60-70 buat sebatang lipstick anyar seri Silky Satin produknya Christian Louboutin?

Dan, yang pasti, produk-produk semacam itu tidak akan kita temukan di pasar. Apalagi pasar tradisional yang becek, tempat tikus-tikus asyik main petak umpet. Elit borjuasi mana paham begituan, kalau bukan mau pilpres atau pilkada?

Bagi yang tinggal di Semarang, coba deh belanja di Pasar Jatingaleh, bawa duit Rp 50 ribu. Mayanlah, bisa beli beras sekilo Rp 10 ribu, cabe merah rawit tomat Rp 2.500, bawang merah putih Rp 2.500, kangkung seiket Rp 2.000, dan sayur asem-aseman satu bungkus Rp 3.000.

Jangan lupa beli tempe satu papan Rp 5.000, tebel kok. Terus, ikan peda seperempat Rp 7.000, dan minyak goreng ½ liter Rp 6.000. Nah, jadi deh, sayur asem, oseng kangkung, sambal, sama goreng tempe plus ikan asin. Seger-seger.

Apa nggak nikmat, coba?

Eh, itu ternyata masih ada kembaliannya cyinn… Bisa buat beli mangga harum manis yang lagi murce cuma Rp 8.000 sekilo. Terus, bisa beli klepon juga buat ngemil sambil masak. Asoy, kan?

Baca juga: Saya juga Emak-emak, Lihatlah Saya Bisa Masak Apa dengan Uang Rp 100 Ribu

Tapi, kalau nggak mau capek masak, bisa juga beli makanan jadi. Dengan uang Rp 50 ribu? Sini, mampir ke warung penyetan saya. Bisa sekalian traktir pasangan pula, eh teman maksudnya.

Nasi ayam penyet seporsi cuma Rp 13 ribu. Minumnya es teh segelas jumbo Rp 3.000. Udah kenyang itu… Atau, kalau bosan ayam, ada cumi, udang, atau kerang. Seporsi sama kok harganya.

Kalau mau lebih murce lagi, ada yang paket hemat. Isinya nasi, tahu, tempe, ayam, plus es teh. Harganya cuma Rp 13 ribu! Lho, kok jadi promosi? Maapkeun yang mana daripadanya sodara, namanya juga ekonomi kerakyatan. Hihi…

Yah, kalaupun dibandingkan dengan uang Rp 50 ribu waktu babenya mbak Titiek berkuasa, jelas kalah. Tapi itu namanya apple to xiaomi, nggak apple to apple. Wooiii… Orde babe bukanlah sejenis mantan terindah, yang suatu waktu kita bisa WA doi, “Hi, apa kabar?”

Saya pun sempat merasakan hidup di jaman orde babe, yang katanya bahan makanan serba murah. Tapi, tetap aja susah kalau mau makan nasi lengkap dengan ayam dan telur.

Ketemu ayam tuh, ya paling pas lebaran, atau ayam peliharaan ada yang mulai batuk-batuk minta dikutuk jadi ayam goreng atau opor ayam. Seriusan, itu sekitar awal tahun 90-an kok, yang mana daripada harga beras nggak sampai Rp 500 sekilo.

Baca juga: Menjadi Manusia Bermental Tempe itu Sebetulnya Baik

Nyatanya, itu amat susah diperoleh untuk makan kami sekeluarga. Masih kebayang bagaimana gembiranya ibu saat seorang pengepul beras berteriak di depan pintu rumah, “Bu Kho Tjwaaaaannnn, kiyeh, ana beras jatah muraaaahhhh.”

Yup, jaman segitu, yang namanya PNS pasti dapat jatah beras tiap bulan. Nggak tahu kalau PNS sekarang. Nah, kalau buat PNS rendahan, jelaslah beras jatah adalah harta tak ternilai buat menyambung hidup.

Tapi, kalau buat PNS golongan ABS alias Asal Bapak Senang, apalah artinya beras jatah yang penampakannya nggak kalah butek sama isi dompet di tanggal tua. Belum lagi, betapa asyiknya ulat-ulat itu berenang di antara bulir-bulir beras.

Nah, si pengepul beras tadi, ngumpulin beras dari para pegawai golongan tinggi untuk dijual ke rakyat jelata dengan harga yang murah.

Biasanya, kalau ada uang lebih, setelah membeli beras jatahan seberat 20 kilo, ibu pergi ke warung untuk membeli beras yang sedikit agak bagus sebanyak 10 kilo. Lho, kurang memangnya? Bukan, ya untuk dicampur dengan beras jatahan, yang sebelumnya ramai-ramai kita bersihkan dari segala macam hewan yang berkembang biak di dalamnya.

Itu kalau ada uang lebih. Kalau nggak ada, ya terima aja itu beras jatahan cyynnn…

Artikel populer: Ternyata Sandal Jepit yang Paling Pancasilais di Republik Ini

Sebagian tetangga kanan kiri juga begitu. Walaupun yaa, ada juga yang makan beras jatah dicampur dengan nasi aking, saking yang namanya beras itu tak terbeli. Padahal, nasi aking itu jelas tak layak makan, lebih layak kepada fungsi awalnya, yaitu sebagai pakan bebek.

Itulah kenapa, pada jaman itu, swasembada pangan diklaim berhasil. Tapi entah kenapa, sekadar makan nasi dari beras sekelas IR 64 saja, kami susah. Nggak kayak jaman sekarang. Bisa beli beras Rojo Lele, Pandan Wangi, hingga Mentik Wangi. Harga sih relatif, tapi barang mudah didapat.

Itu baru beras lho ya. Maap-maap nih, waktu itu apa-apa memang tampak murah, tapi daya beli masyarakat kita ampun deh susahnya.

Jadi, jangan bikin ilusi dengan segala jargon orde babe yang katanya aduhai sejahteranya, tapi nyatanya bayar SPP yang cuma Rp 3.000 aja bisa nunggak sampai berbulan-bulan. Nggak bisa ikut ujian, kalau belum lunas. Rapor pun ditahan. Sedih akutu.

Sekarang? Sekolah negeri gratis mbak ‘eeeee…

Isih penak jamanku, tho?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.