Tukang ‘Spoiler’ Pengkhianat Budaya Pop? Nyatanya, Hidup Kita Butuh ‘Spoiler’

Tukang ‘Spoiler’ Pengkhianat Budaya Pop? Nyatanya, Hidup Kita Butuh ‘Spoiler’

Ilustrasi (Photo by sebastiaan stam on Unsplash)

Belakangan ini marak status, cuitan, maupun meme tentang hujatan kepada mereka yang melakukan spoiler atau tindakan membeberkan sesuatu yang ada dalam cerita. Tindakan itu dianggap menyebalkan, karena spoiler bisa merusak imajinasi dan hasrat untuk mengetahui keseluruhan jalan cerita beserta elemen-elemen kejutannya.

Rasa tidak ingin tahu terlebih dahulu seakan menjadi tahapan yang sakral sebelum mencapai klimaksnya, yaitu saat nanti mengetahui sendiri bagaimana jalan ceritanya.

Sebagai contoh, pemutaran film Avengers: Endgame. Terlebih, film ini menjadi puncak dari 22 film superhero Marvel Cinematic Universe (MCU), yang mana di film tersebut diceritakan tentang matinya…. Kasih tahu nggak, ya?

Ah, netizen kejem bener. Hukuman sosial sudah menanti untuk para tukang spoiler. Hukuman tersebut tak hanya berupa celaan atau caci-maki, tapi juga dianggap merugikan publik karena tukang spoiler telah menyia-nyiakan uang, waktu, dan tenaga yang disisihkan sejumlah orang agar bisa menyaksikan film kesayangan, misalnya.

Ada juga aksi unfriend dan unfollow dari mereka yang merasa dirugikan oleh tukang spoiler, nggak peduli apakah pelakunya itu ternyata keluarga atau kawan baiknya sendiri di dunia nyata.

Baca juga: Seandainya ‘Infinity Stones’ di Film Avengers Jatuh ke Tangan Tokoh-tokoh Ini

Mengapa para pelaku spoiler diperlakukan seperti ‘pengkhianat budaya pop’? Semacam manusia bermoral rendah yang tidak punya empati terhadap publik yang tergila-gila dengan hiburan beserta elemen kejutannya?

Bahkan, ada kredo baru yang berbau etis bahwa mereka yang tidak melakukan spoiler, artinya bisa menahan hawa nafsu. Mulai ada dikotomi baik-buruk dalam persoalan spoiler ini, dan arah argumentasinya tampak kian spiritual.

Sukar sekali untuk melacak awal mula budaya anti-spoiler dalam budaya pop. Mungkin itu tumbuh organik saja di tengah masyarakat penyembah budaya pop. Atau sebaliknya, ditanam oleh para pemilik modal agar semakin banyak orang datang ke bioskop, filmnya semakin laris, uangnya pun kian mengalir.

Dulu, pernah ada imbauan anti-spoiler ketika perilisan film The Sixth Sense. Dalam pengumuman di koran terkait pemutaran film tersebut tertulis, “Jangan bocorkan ending film ini pada siapapun! Tidakkah hal demikian menimbulkan penasaran?” Tentu saja, dalam konteks tulisan semacam itu, sangat bertalian antara aspek imbauan anti-spoiler dan kalimat promosi.

Baca juga: Agar Kamu Nggak Kecewa-kecewa Amat, saat Nonton Film dari Sebuah Novel

Situasi euforia budaya pop kontemporer rupanya agak lain. Imbauan antispoiler itu tidak dalam bentuk kalimat sebaris seperti yang ada saat perilisan The Sixth Sense, melainkan ditanam sedemikian rupa agar seolah-olah membudaya. Seakan benar bahwa penyebar spoiler sudah semestinya dikucilkan dari masyarakat karena tidak berbudaya, tidak mampu menahan hawa nafsu, dan punya selera humor yang tidak hanya rendah, tapi menjijikkan.

Padahal, budaya anti-spoiler sangat bertentangan dengan realitas keseharian manusia itu sendiri. Sebab, pada dasarnya, manusia justru menantikan sejumlah spoiler untuk memberi petunjuk bagi langkah hidupnya ke depan.

Hingga hari ini, kelindan antara ‘hidup yang misterius’ dan ‘hidup yang terpampang jelas’ terus menjadi gejolak yang tidak ada habisnya. Pada satu sisi, manusia menjalani hidupnya karena mengharapkan kejutan demi kejutan. Tapi, di sisi lain, kejutan itu kadang terlalu menakutkan, sehingga lebih memilih untuk hidup dalam keamanan dan kenyamanan dengan sebuah visi ke depan yang terang benderang.

Baca juga: Filosofi ‘Shazam!’ untuk Kamu yang Merasa Hidup kok Begini Amat

Kita cenderung suka spoiler dalam hidup ini, semacam bocoran-bocoran kecil mengenai alur perjalanan kita ke depan. Itu mengapa, meski dianggap purba dan irasional, ternyata masih banyak orang yang mengintip astrologi, percaya pada tarot, dan lainnya.

Versi modern dan rasionalnya juga ada: Kita mengikuti psikotes minat dan bakat, bertanya nasihat pada teman atau orangtua, berjuang demi dana pensiun, hingga mengasuransikan hidup kita hingga dua puluh tahun ke depan.

Bahkan, pada titik ekstrem, kita memeluk agama dan membaca kitab suci sebagai spoiler terhadap nasib kita setelah mati, beserta hal misterius lain yang sukar dijelaskan.

Lantas, apakah upaya pencarian spoiler tersebut bisa disamakan dengan fenomena spoiler film Avengers: Endgame, misalnya? Bisa iya, bisa tidak. Sebab, budaya pop sering kali tidak punya kaitan dialektika-materialistik dengan kehidupan nyata.

Artikel populer: Seumpama Nietzsche Hidup Lagi dan Jadi Dosen di Indonesia

Budaya pop adalah budaya pop dengan segala euforia dan irasionalitasnya, yang justru menjadi semacam pelarian dari kehidupan nyata. Dalam dunia yang lahir dari budaya pop, kita bebas menentukan penjahat kita sendiri. Tidak perlu jauh-jauh mencari penjahat yang melanggar hukum, tapi cukup penjahat yang merusak kenyamanan publik. Dalam hal ini, tukang spoiler. Gitu kan?

Seorang kawan pernah berkata, “Kita mencintai budaya pop, karena ada aspek ‘ketegangan yang terukur’. Budaya pop asyik, karena kita menikmati ketakutan, kengerian, kegilaan, tanpa harus khawatir akan hal paling mencemaskan umat manusia: kematian. Pada tegangan-tegangan itu, manusia merasa bisa bergerak bebas, menciptakan nilai yang berbeda sama sekali dengan kehidupan yang sebenarnya.”

Yah, dalam budaya pop, mungkin bisa bebas menghujat tukang spoiler. Tapi, dalam kehidupan sebenarnya, bisakah kita hidup tanpa spoiler?

2 COMMENTS

  1. Ada etika yang menngatur budaya ‘Spoiler’, yaitu mencantumkan tagar [SPOILER] di awal paparan. Jadi pembaca/pemirsa ada pilihan.
    Yang norak tuh penulis yang sengaja kasih ‘Spoiler’ utuk tujuan humor/hiburan diri sendiri, so selfish.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.