Ilustrasi perempuan. (Photo by Gianne Karla Tolentino from Pexels)

Pernah mendengar istilah perempuan sejati, perempuan KW, atau perempuan bohongan? Istilah perempuan sejati sering dikaitkan dengan kemampuan dalam melahirkan secara vaginal. Sedangkan perempuan KW sering digunakan oleh banyak orang untuk merujuk pada transpuan. Dua istilah itu meliyankan sesama perempuan.

Belum lagi, membanding-bandingkan antara ibu rumah tangga dan perempuan yang bekerja di luar rumah. Ini membuat perempuan merasa bersalah karena memilih salah satu, atau memilih keduanya tapi tidak bisa seimbang.

Tentu pengalaman setiap perempuan berbeda. Tak bisa dipungkiri ada yang lebih beruntung, ada yang tidak memiliki privilese. Apapun itu semestinya jangan menjatuhkan keberagaman pengalaman perempuan, baik yang mampu melahirkan secara vaginal atau sesar maupun yang lahir memiliki rahim atau tidak.

Wujud dan pengalaman perempuan yang beragam tersebut seharusnya dinormalisasi, bukan malah meliyankan dan menjatuhkan – atau membuat perempuan lain merasa tidak punya tempat di dunia ini.

Baca juga: Jangan Berlebihan, Perempuan Serba Bisa Bukan Pencapaian

Sementara itu, lelaki sering kali ikut menjatuhkan perempuan. Misalnya saat proses PDKT. Lelaki yang belum cukup sadar akan keberagaman perempuan sering bilang, “Kamu nggak kayak perempuan lain.” Dia ngomong begitu sebetulnya biar kamu klepek-klepek. Seolah-olah kamu kalah bersaing dengan perempuan lain. Seakan-akan kamu beruntung mendapatkan dia dan mengalahkan perempuan lain.

Sekarang gini deh. Kalau memang suka, dia hanya perlu menyebutkan kualitas dirimu yang dia suka, bukan malah fokus membanding-bandingkan kamu dengan perempuan lain. Contohnya nih, bilang saja, “Aku senang sama kamu, karena kamu pintar.” Itu lebih enak didengar daripada ngomong, “Kamu nggak kayak perempuan lain yang bodoh.”

Tak jarang karena perkataan “nggak kayak perempuan lain” itu, perempuan berlomba-lomba untuk menjadi seperti lelaki. Mulai dari pakaian, pergaulan, hingga pemikiran. Merasa keren menjadi satu-satunya teman perempuan di antara pertemanan lelaki. Padahal, pertemanan lelaki itu kerap menjatuhkan perempuan.

Baca juga: Cerita Hidup Bersama Pasangan yang Beda Agama

Bahkan, sering terlintas bahwa perempuan lebih cerewet dan suka bergosip ketimbang lelaki, sehingga lebih baik berteman dengan lelaki. Nyatanya pertemanan lelaki juga sama cerewetnya dan suka bergosip. Tak apa-apa kalau lebih senang berteman dengan sesama perempuan, toh bisa saling memahami pengalaman masing-masing.

Lantas, mengapa pikiran tadi bisa muncul? Ya karena internalisasi nilai-nilai patriarki. Berpikir bahwa untuk mendapatkan validasi, perempuan beranggapan harus seperti lelaki. Berusaha untuk tidak merasakan sakit seperti lelaki alias sok kuat, hingga berpikir tentang perempuan seperti lelaki. Ini misoginisme terinternalisasi.

Padahal, kesetaraan bukan tentang perempuan menjadi seperti lelaki. Lagi pula setiap perempuan memiliki kebutuhan dan pengalaman tubuh yang berbeda-beda. Buat apa kita berusaha mengkotak-kotakkan perempuan dan membandingkan mana yang kedudukannya lebih tinggi?

Baca juga: Pada Mulanya adalah Kata, lalu Berakhir Jadi Mansplaining

Herannya tak pernah dengar istilah lelaki KW. Tapi ada istilah pria sejati. Itu digunakan untuk membuat lelaki merasa lebih jantan dan superior. Salah satunya melalui iklan rokok. Masyarakat pun tak mempertanyakan lelaki apakah memilih untuk menjadi bapak rumah tangga atau lelaki karier. Oh, apakah ada istilah pria karier? Pastinya yang selalu dipertanyakan pilihan hidupnya adalah wanita karier.

Jadi, perempuan dikotak-kotakkan untuk memenuhi standar tertentu dalam masyarakat dan negara. Di negara yang kapitalis dan patriarkis, segala cara dipakai untuk mendomestikasi perempuan di rumah dan memberikan upah murah kepada pekerja perempuan. Hingga hari ini, pajak untuk perempuan yang telah menikah dan bekerja lebih besar dari pekerja lelaki, karena lelaki dianggap sebagai kepala keluarga dan ‘pemberi nafkah utama’. Perempuan dianggap sebagai ‘pemberi nafkah tambahan’, padahal beban kerja antara perempuan dan lelaki itu sama.

Artikel populer: Menjawab Pertanyaan “Lebih Cantik kalau Pakai Jilbab atau Lepas Jilbab?”

Negara yang patriarkis juga membuat seolah-olah perempuan yang tak bisa melahirkan, termasuk transpuan, sebagai kelompok yang dianggap liyan dan sering kali tidak diakui. Terlebih, istilah perempuan KW digunakan oleh masyarakat untuk mengukuhkan kebencian terhadap transpuan.

Apa sih manfaatnya menjatuhkan perempuan karena tidak punya vagina, tidak mens, dan tidak melahirkan? Dia tidak akan berubah menjadi lelaki hanya karena kita mengatakannya sebagai perempuan KW. Kita malah berkontribusi memperburuk mentalnya, dan tindakan itu bukan cerminan masyarakat yang sehat.

Sudah tidak zamannya lagi membuat ‘perlombaan’ di antara perempuan dan lelaki. Lebih baik kita mulai memahami bahwa kebutuhan setiap orang berbeda-beda dan mengangkat keunikan setiap manusia. Tak perlu menjadi siapa pun, kecuali diri sendiri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini