Ilustrasi plus size. (Photo by Cottonbro from Pexels)

Sebagai perempuan gemuk, saya hafal sekali dengan berbagai stigma yang melekat. Mulai dari makannya pasti banyak, nggak bisa merawat diri, nggak pernah olahraga, hingga susah dapat pasangan. Kalaupun ada lelaki yang suka, siap-siap aja dapat tudingan bernada meragukan dari sekelilingmu. Semisal, “Yakin dia nggak cuma mau mainin kamu?”

Duh, sedih banget, ya? Kesannya perempuan gemuk nggak berhak bahagia kayak perempuan lainnya. Bahkan, ada stigma yang bawa-bawa sosok ibu, orang yang mestinya kita hormati. Salah satunya, “Ya ampun, kamu masih gadis tapi bodinya udah kayak emak-emak!”

Sebentar… tarik napas dulu, gaes.

Ini udah kebangetan sih. Ironisnya, ucapan-ucapan seperti itu kadang dilontarkan oleh orang-orang terdekat yang ngakunya ‘sayang’ atau ‘sekadar mengingatkan’. Begitu juga di tempat umum. Sungguh, tak ada ruang publik yang benar-benar nyaman.

Baca juga: Kesannya Peduli ‘Moms’, Nyatanya Malah ‘Mom-shaming’

Ketika naik angkutan umum, contohnya bus TransJakarta, KRL, atau bahkan MRT, pernah beberapa kali kejadian. Saat itu belum pandemi. Pas lagi penuh-penuhnya, ada orang menawarkan tempat duduk. Yah, nggak muna lah, pastinya senang ditawari. Apalagi, memang sedang capek banget.

Eh, begitu duduk, orang tersebut langsung sotoy ngomong, “Udah berapa bulan, bu?”

Jawabnya enteng saja sebenarnya, terlebih lagi-lagi menyinggung sosok ibu. “Nggak kok, cuma gemuk aja.” Pastinya, orang yang memberi tempat duduk itu merasa menyesal, hihihi…

Kemudian, saat kawinan sepupu. Ketika duduk menemani tiga keponakan usia TK dan SD yang sudah ngantuk banget malam itu, ada seorang perempuan paruh baya yang mendekat dan berkata, “Lucu-lucu, ya. Umurnya berdekatan?”

“Iya, bu.” Jawab singkat saja.

“Ngurusnya repot dong, ya?” tanya dia lagi.

“Engg…nggak tahu, bu.”

Ketika menjawab dengan jujur bahwa mereka adalah keponakan, bukan anak, si ibu tadi tampak kaget. Lagian, pede amat si ibu.

Baca juga: 3 Hal Penting Agar Kamu Tak Menjadi Pelaku Body Shaming

Di sisi lain, seorang teman dari sebuah komunitas hobi kebetulan bertubuh mungil. Wajahnya yang selalu tampak ceria dan awet muda sempat bikin banyak lawan jenis di komunitas tersebut tertarik. Namun, para penggemar tampaknya merasa kecewa, begitu tahu dia ternyata sudah menikah dan ibu dua anak.

Secara terang-terangan, beberapa dari mereka ngomong, “Sumpah, nggak nyangka. Nggak kelihatan, soalnya kayak masih gadis.”

Nah itu juga tuh, ucapan-ucapan yang ngawur. Perempuan bertubuh gemuk dianggap bodi kayak emak-emak. Perempuan mungil dianggap masih lajang. Jelas banget, stigma membodohi kita. Parahnya, hal-hal seperti itu sering kali dipakai untuk menyudutkan perempuan, meski si pelaku ngakunya hanya untuk bercanda atau basa-basi. Yaelah, nggak kreatif amat, woi!

Teman yang sempat menjadi objek pembicaraan itu pun merasakan perubahan sikap dari orang-orang di sekelilingnya. Dia pun bertanya, “Kenapa sih, kok mereka kayaknya kaget banget?” Yah, namanya juga pikiran-pikiran sempit akibat melanggengkan stigma. Pikiran-pikiran yang menempatkan perempuan sebagai objek. Begitulah cara kerja budaya patriarki.

Baca juga: Cek, Orang Lain yang Baperan atau Guyonanmu yang Toksik?

Itu mengapa yang sering menjadi korban adalah perempuan yang kelebihan berat badan. Belakangan, kita kenal istilah body shaming. Padahal, di luar sana, sudah ada #FatAcceptance yang merupakan gerakan masyarakat akar rumput untuk mengubah perilaku sosial terhadap orang-orang dengan kelebihan berat badan. Gerakan ini sudah dimulai sejak 1970 di Amerika Serikat.

Intinya kurang lebih sama dengan perlakuan masyarakat terhadap orang yang berbeda warna kulit ataupun disabilitas: memanusiakan manusia.

Banyak perempuan yang begitu punya anak, badannya nggak bisa seramping dulu. Ini penyebabnya beragam, mulai dari pengaruh genetik (metabolisme) hingga nggak sempat berolahraga karena mungkin memang sibuk dengan segala beban yang ditanggung akibat ketimpangan dalam pembagian kerja domestik.

Berbeda, kalau mereka punya privilese berlebih. Bisa mempekerjakan asisten rumah tangga, sehingga punya banyak waktu untuk mengurus diri sendiri.

Artikel populer: Jangan Berlebihan, Perempuan Serba Bisa Bukan Pencapaian

Jadi, kalau masih saja melempar stigma bahwa perempuan gemuk adalah perempuan yang malas merawat diri, tentu itu tidak adil. Lagi pula, memangnya kenapa dengan ‘bodi emak-emak’? Kenapa pula perempuan yang badannya ramping – yang kerap dianggap seperti ‘masih gadis’ – seolah menjadi sebuah prestasi?

Ya lagi-lagi, kita bisa lihat bagaimana kuatnya budaya patriarki dalam masyarakat kita. Bahkan, bisa membuat perempuan merasa insecure dengan tubuh mereka sendiri. Sedih amat ya, kemampuan perempuan dilihat dari bagaimana ia ‘menjaga penampilan atau berat badan’. WTF!!!

Kapan ya, perempuan bisa bebas dari stigma?!

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini