Muda Belum Tentu Kaya, Tua Habis Harta: Milenial

Muda Belum Tentu Kaya, Tua Habis Harta: Milenial

Ilustrasi (Tim Gouw/unsplash.com)

Saya bukan dokter atau tenaga medis, hanya orang yang cukup peduli dengan isu kesehatan kamerad-kamerad milenial atau generasi Y yang kian hari menghadapi beban kerja berat.

Pekerjaan milenial yang kontemporer dan berbasis IT sering menuntut lebih dari generasi X yang kebanyakan PNS atau berprofesi mainstream lainnya. Beratnya beban kerja berimbas pada kesehatan mental dan fisik. Stres.

Gen-X masuk jam 08.00 dan pulang jam 16.00, delapan jam kerja. Kalau milenial banyak yang bekerja melebihi 8 jam. Dalam beberapa kasus, programer, penulis, seniman, dan pekerja industri kreatif yang diisi milenial, menabrak jam biologis tubuh. Normalnya, saat tubuh seharusnya istirahat pada jam 9 malam, milenial masih atau bahkan baru mulai kerja.

Gen-X, orang tua milenial, sekarang sudah memasuki masa pra-pensiun. Artinya sudah tua. Beberapa bahkan ada yang mengidap penyakit pra-pensiun yang dipicu oleh gaya hidup orang sukses (kalau tidak mau dibilang gaya hidup OKB). Misal jantung koroner, ginjal, diabetes, kolesterol, dan yang paling ringan hipertensi. Masalah kesehatan yang kerap ‘dibanggakan’ Gen-X.

Bagaimana dengan Gen-Y atau milenial yang menginjak fase produktif bekerja? Apakah mereka juga terancam masalah kesehatan di kemudian hari kalau kerjanya di start up yang lekat dengan kopi, rokok, makanan cepat saji, dan maraton tidak tidur 2 hari?

Meski tidak disadari karena asyik bekerja, temuan Kementerian Kesehatan perlu diperhatikan sebagai early warning bagi milenial. Pada 2013, Kemenkes merilis sebanyak 7,9% stroke diderita penduduk usia 25-34 tahun. Penyakit jantung mengambil porsi 39% untuk kategori usia di bawah 44 tahun.

Sedangkan hipertensi, menurut National Basic Health Survey, memiliki prevalensi 48,2% untuk usia di bawah 44 tahun, angka yang cukup tinggi dibandingkan dengan prevalensi nasional yang sebesar 25,8%.

Apa yang terjadi?

Paling gampang menunjuk hidung perubahan zaman dan gaya hidup yang semakin menuntut cepat. Rapid lifestyle macam ini terjadi hampir di semua sisi. Milenial yang bekerja dengan target (personal achievement atau company achievement) mengharuskan mereka mempersingkat waktu makan, istirahat, olahraga, dan bersenang-senang.

Itu belum termasuk stres yang dialami dan sering meminta kompensasi lebih. Pun demikian, kompensasi stres dilakukan dengan pelarian yang tidak sehat seperti mengonsumsi minuman beralkohol dan dugem.

Milenial mungkin menjadi generasi yang kurang memperhatikan kesehatan fisik dan psikis. Bagi mereka, profesionalitas kerja adalah segalanya. Dan uang, dianggap menyelesaikan masalah. Stres nggak apa-apa, yang penting kaya.

Riset kesehatan dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan pada 2014 menyebutkan setidaknya 1 juta orang mengalami gangguan kesehatan mental berat. Sedangkan 19 juta lainnya mengalami gangguan ringan. Nah, dari 20 juta penderita, banyak di antaranya masih usia produktif, antara 18-38 tahun.

Selain beban kerja dan sederet achievement tak masuk akal, gaya hidup sehat mulai ditinggalkan. Hal ke dua yang bisa disalahkan adalah konsumsi fast food. Ini erat kaitanya dengan pencapaian prestasi kerja yang menuntut duduk di workplace dalam waktu lama lebih diutamakan hingga mengesampingkan asupan gizi, istirahat, dan refreshing.

Pada 2016, World Instant Noodles Association (WINA) sebagai representasi konsumsi makanan cepat saji, melansir, konsumsi mie instan di Indonesia mencapai 14,8 miliar bungkus. Angka ini naik dari tahun sebelumnya yang mencapai 13,2 miliar bungkus. Pada 2017, naik lagi menjadi 16 miliar bungkus. Apa artinya?

Hipotesis ‘sedikit makan banyak kerja’ menjadi semakin bisa diterima. Terlebih menyedikitkan waktu makan, fast food dan instant food seolah menjadi solusi terbaik mempersingkat waktu.

Dilansir vemale.com, Neil Shah, pimpinan The Stress Management Society, mengatakan bahwa tekanan yang dialami generasi usia 20-an pada zaman sekarang sangat berbeda dengan apa yang dialami oleh pendahulu mereka dalam 20-30 tahun terakhir.

Selain masalah keuangan, pekerjaan dan kurang tidur, masalah yang sering mengganggu, antara lain percintaan dan body image. Stres ini mungkin tak bisa dihindari, namun masih bisa diimbangi dengan melakukan berbagai kegiatan positif yang menyenangkan.

Normal kah?

Mengacu pada UU No 13 tahun 2003, jatah kerja per pekan adalah 40 jam. Bagi yang 6 hari kerja, maka dapat 7 jam per hari. Dan, yang 5 hari kerja, dapat 8 jam per hari.

Tapi bagaimanapun, bicara industri kreatif dan pekerja milenial, jam kerja ini kerap omong kosong. Meski 8 jam kerja per hari, tapi kalau belum dapat achievement, ya belum pulang. Pantang pulang sebelum padam. Padam lampu dan jaringan internetnya.

Entah itu dihitung lembur atau tidak. Meski dapat uang lembur, tetap saja aktivitas kerja berkaitan dengan stamina dan jam biologis tubuh yang menggiring pada kelelahan fisik dan psikis.

Seperti saya sampaiken di atas, sudah waktunya istirahat tapi masih harus kerja. Ini belum termasuk yang sudah pulang, tapi masih ‘membawa tidur’ pekerjaan. Masih memikirkan pekerjaan saat di ranjang, kapan orang yang di sebelah, eh? Itulah kenapa milenial adalah golongan kaum yang kurang tidur atau tidurnya tidak berkualitas.

Mengalami kurang tidur terdengar tidak normal. Tapi banyak kasus dialami milenial yang terkesan memaksakan diri tidak tidur demi lembur, lama-kelamaan hal itu dianggap kewajaran.

Bekerja di salah satu start up, seorang kawan cerita pada saya bahwa dia sering membuat content marketing untuk satu pekan ke depan. Dan itu diselesaikannya dalam dua hari tanpa tidur. Pada hari ketiga, dia izin tidak masuk, lebih tepatnya izin untuk tidur seharian.

Pola kerja rapelan ini dilakukannya tanpa mengimbangi pola hidup sehat. Hidupnya adalah kantor-kos-kantor-kos. Ditambah makan mie instan goreng dobel pake telor dadar dan nasi setengah porsi, wadaw…

Pada usia muda, stres tinggi tanpa diimbangi pola hidup sehat memang belum terlihat akibatnya. Berkaca pada Gen-X yang juga ‘gila kerja’ pada zamannya, masalah kesehatan baru muncul setelah usia kepala empat. Pertanyaannya, apakah milenial juga ingin seperti itu? Lebih cepat?

Tips

Milenial dengan usia produktif dan tenaga prima, tidak semestinya aji mumpung. Selagi masih muda, tenaga dan pikiran harus dimaksimalkan mengumpulkan pundi-pundi uang supaya hidup enak. Muda kaya raya, tua masuk surga. Masa?

Bagaimana kalau yang terjadi, muda kaya raya, tua habis harta untuk cuci darah, pengobatan stroke, jantung, lever, dan lain-lain? Tentunya itu tidak lucu. Lebih tidak lucu lagi, muda belum tentu kaya, tua habis harta.

Bagaimanapun milenial tetap mendambakan pensiun tenang seperti pendahulunya Gen-X dan baby boomer yang gendong cucu ongkang-ongkang tanpa dipusingkan biaya rumah sakit. Setelahnya bisa mati dengan tenang, bukan dengan utang.

Tapi ada hal yang bisa dilakukan oleh milenial untuk sekadar mengurangi stres kerja. Pertama, wahai milenial, antum engkau digaji untuk 7-8 jam kerja, fokuskan pikiran dan tenagamu hanya dalam rentang waktu itu. Selebihnya, lepaskanlah. Sesuai argo, hehe…

Tidak mudah memang seperti merelakan mantan yang nikah duluan, terlebih banyak motivator nganu-nganu dengan konsep 10.000 jam untuk menjadi profesional, menuntut kita, sekali lagi, tidur dengan masih memikirkan kerjaan esok.

Kedua, kualitas lebih penting dari kuantitas. Sehubungan dengan kesehatan mental, pelarian terhadap stres bermacam-macam. Bisa tidur, karaoke, hang out bareng temen, dan bercinta traveling. Meski sebentar, fokuskan pikiran untuk menikmati relaksasi. There is no work in holiday, kalau kata orang bijak.

Menggilalah, tertawalah, atau orgasmelah pulaslah saat tidur. Sehat mental (waras) lebih penting dari kuat fisik. Kalau anda sudah stres berat, bahkan tabulasi data di excel pun bisa salah koma. Runyam.

Ketiga, evaluasi. Pikirkan kembali apakah dalam bekerja anda mencari uang atau passion? Bullshit memang nasihat yang satu ini: “Lupakan passion, realistis saja kamu butuh uang.”

Jika menganut nasihat tersebut, menanggung risiko stres memang sudah sewajarnya. Kalau memang bekerja untuk uang, ya eta terangkanlah niatkanlah, tapi jangan lama-lama. Secukupnya saja. Bekerja kadang tidak seindah kabar rumah DP nol rupiah. Toh, harga tanah makin tak terjangkau.

Belakangan, milenial sudah mulai melirik pekerjaan yang membuat mereka nyaman dan berkembang terlepas berapa besar gajinya. Tidak ada yang buruk dengan menjadi freelance atau melakoni bisnis online kecil-kecilan. Meski keamanan finansial jauh dari kata terjamin, setidaknya pikiran anda lebih adem.

Sekiranya begitu, wahai kamerad-kamerad milenial…

Dari saya, yang gagal lolos CPNS.

4 COMMENTS

  1. Gak hanya pekerjaan di jaman milenial sih kak yang jam kerjanya gak wajar.. pekerjaan yang membangun infrastruktur,gedung dan sejenisnya (sebut saja kontraktor) dari jaman dulu itu juga jam kerjanya gak wajar.. gak semuanya sih tapi banyak yang seperti itu.. Apalagi kalo ngejalani proyek pemerintah, berusaha kejar target banget 🙁

  2. Ummm kayanya Gen X bukan orang tua milenial deh. Iya kalo kelahiran 1979 anaknya juga masih pada kecil aloas generasi alpha

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.