Tren Menjadi Perantau Digital dan Alasannya kalau Ditanya Macam-macam

Tren Menjadi Perantau Digital dan Alasannya kalau Ditanya Macam-macam

Ilustrasi (Tranmautritam via Pexels)

Pernah dengar istilah digital nomad? Belakangan, istilah itu semakin santer dikumandangkan. Menjadi pilihan banyak orang, terutama anak-anak muda. Zaman tampaknya terus berputar dengan cepat.

Digital nomad bisa diartikan sebagai perantau digital. Maksudnya, tipe orang yang memanfaatkan teknologi telekomunikasi ketika bekerja mencari nafkah. Mereka kerap bekerja secara nomaden, semisal dari rumah, kedai kopi, perpustakaan umum, ruang kerja bersama (coworking space), atau bahkan dari tempat rekreasi.

Siapa yang nggak mau, coba?

Menurut survei IWG, sekitar 70% pekerja profesional di seluruh dunia kini bekerja remote (dari mana saja) setidaknya sehari dalam seminggu. Dan, sekitar 53% dari bagian tersebut bekerja secara remote setidaknya 3-4 hari dalam seminggu.

Para perantau digital ini punya mimpi untuk terlepas dari rutinitas ke kantor yang seringkali tidak efektif dan tidak efisien. Punya mimpi bisa bekerja sambil meneguk pina colada di pinggir pantai. Bisa duduk manis bekerja dengan segelas kopi di pinggir perkebunan kopi. Bisa bekerja dengan baju tidur tanpa perlu mandi dan gosok gigi.

Baca juga: Sudah Nikah, Kerja, tapi Tinggal di Rumah Mertua

Menjadi perantau digital memang begitu mengasyikkan. Bekerja pun menjadi lebih efektif dan efisien. Bayangkan, bagi pekerja kantoran di kota besar, seperti Jakarta, bagaimana setiap hari harus bermacet-macet ria di jalan.

Di mamakota itu saja, menurut Bappenas, kerugian akibat kemacetan mencapai Rp 67,5 triliun per tahun. Kalau dihitung-hitung nih, jumlah tersebut sekitar 75% dari APBD DKI Jakarta 2019 yang sebesar Rp 89 triliun! Itu APBD terbesar se-Indonesia raya.

Sebab itu, menjadi perantau digital alias digital nomad ini bisa menjadi salah satu solusi. Ya sama-sama enaklah. Minimal kantor juga bisa berhemat dari segi biaya rutin, seperti listrik, air, dan lain-lain.

Tapi ya, maap nih. Biar nggak cuma ngimpi, kita harus bangun dulu dan mengusahakannya. Tul gak? Biar nggak kebanyakan juga ngelamunin kamu yang indah-indahnya saja, semisal jenis pekerjaan apa yang cocok para perantau digital ini.

Yah, minimal persiapan mental dulu supaya siap ketika ditanya macam-macam, yang kadang pertanyaannya bernada sinis. Kuy ah…

1. Di mana-mana hatiku senang

“Kerja di mana?” Itu pertanyaan standar dan sering banget terlontar dari orang yang heran dengan para perantau digital. Ya jawab saja, “Di mana-mana hatiku senang.”

Baca juga: Halo Bos, Ini Alasan Mengapa Usia Pelamar Kerja Tak Perlu Lagi Dibatasi

Semanis apapun jawaban yang kamu berikan, banyak orang yang memandangmu dengan sengit. Sebagian akan berkata, “Kok enak betul?” Sebagian lagi meremehkan dalam hati.

Namun, ada juga yang penasaran dan mengorek-ngorek informasi mengenai cara menjadi perantau digital yang maha asyik ini.

Hal-hal seperti itu akan terjadi berulang-ulang, yang mana durasinya bisa mengalahkan jadwal apel pacarmu. Maka, berikan template senyum terbaikmu bak supermodel.

Namun, kalau suasana hati sedang bersahabat, silakan dijelaskan sedikit bahwa bekerja dari mana saja tak berarti tanggung jawab terhadap pekerjaan berkurang. Tetap ada ekspektasi yang harus dipenuhi, tetap ada batas waktu yang kudu dikejar.

Seperti mereka yang mengamati posting-an di Instagram, ada malam-malam panjang mengejar deadline bagi perantau digital. Tak jarang, harus bangun di pagi buta untuk menyelesaikan pekerjaan sebelum jalan-jalan, hihi…

Ada pula makanan yang lupa dimakan, karena intensitas pekerjaan yang kadang juga mencekam. Percayalah, bekerja sambil berlibur itu tak mudah. Ada perjuangan sengit mencari koneksi internet ketika sedang deadline. Pahami juga risikonya.

Baca juga: Pekerja Lajang Pasti Mengalami Ini, Bos-bos Harus Tahu

2. Jadi bos untuk diri sendiri

Bekerja tanpa supervisi dari bos atau teman-teman di kantor bisa jadi sesuatu yang menyenangkan atau menantang bagi masing-masing orang. Bekerja dari mana dan kapan saja membuatmu menjadi bos untuk diri sendiri. Harus mampu menakar waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas.

Sebagai orang yang dianggap paling santai sejagat raya, trust me, ini stereotip orang-orang untuk pekerja nomad. “Eh, kerja lo kan santai, mau ikutan main gak?” Kamu harus tahu kapan untuk berkata tidak.

Bagi para pekerja kantoran, pulang ke rumah berarti meninggalkan segala kegundahan dan kegelisahan pekerjaan. Bagi pekerja nomad ini seringkali sulit membagi waktu antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Hal terpenting dari para perantau digital adalah disiplin. Berbeda dengan bekerja di kantor yang ada waktunya, perantau digital memang punya keleluasaan waktu dan tempat. Namun, keleluasaan ini tak jarang semacam pisau bermata dua. Waktu antara bekerja dan bermain beda tipis-tipis.

Artikel populer: Beberapa Profesi yang Ngehits, meski Berpenghasilan Pas-pasan

3. Semacam bintang di langit

Memang menyenangkan tak harus bangun pagi-pagi dan berdesak-desakan dengan pekerja lain di jalan, tapi para perantau digital ini tak akan memiliki koneksi personal yang kuat dengan petinggi maupun rekan-rekan kerja di kantor.

Bekerja dari mana saja itu semacam bintang yang selalu ada di langit. Terang, tapi hanya terlihat saat malam hari. Kecuali kamu, bintang yang selalu terang di mataku, eh.

Jadi, mendatangi kantor hanya sesekali ketika dibutuhkan saja, membuat interaksi dengan banyak orang menjadi berkurang drastis. Rata-rata para pekerja di kantor punya waktu bercengkerama sesama teman sedivisi atau lintas divisi pada pagi hari, siang hari, bahkan sepulang dari kantor.

Bekerja secara remote artinya setuju mengganti semua percakapan dan perbincangan melalui berjuta-juta email, video call, dan grup WhatsApp. Karena itu, interaksi personal dengan orang lain menjadi usaha tersendiri yang butuh upaya ekstra.

Nggak akan ada pura-pura minjem stapler buat kenalan sama anak baru. Atau, berlama-lama di pantry untuk sekedar nguping gosip hot si doi. Intinya, ilmu pedekate-mu perlu di-upgrade ketika menjadi perantau digital. Ada benarnya bahwa kehidupan digital bisa mendekatkan yang jauh, tapi bisa juga menjauhkan yang dekat.

Pada dasarnya, beban pekerjaan yang dilimpahkan untuk setiap pekerja, baik nomad ataupun tetap, adalah sama. Perbedaan hanya terletak di waktu dan tempat pengerjaan. Pada akhirnya, pekerjaan apapun yang kamu pilih harus mampu membuatmu bahagia. Sama halnya dengan pasangan.

Asalkan, jangan nomaden dari satu hati ke hati lainnya, ya?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.