Ilustrasi (Image by Ernie Stephens from Pixabay)

Ada masa ketika seorang teman tak bisa melewati malam tanpa buku semacam Kumpulan SMS Gombal dan Rayuan Maut atau 99 SMS Cinta. Bagi dia, yang tak punya cukup nyali plus kreativitas untuk memulai percakapan dan yang-yangan, kitab panduan tersebut sangat berguna.

Di tangannya, buku itu seolah-olah memiliki kemampuan untuk bermutasi menjadi satu paket pendobrak asmara; busur dan anak panah Cupid yang siap menyasar sembarang target.

Orang-orang boleh saja menulis buku paling prestisius tentang perkembangan komunitas Alien di Planet Mars, mencatat Ensiklopedia penyakit menular, atau mengarsipkan satu dialog mesra dengan perkumpulan Jin. Tetapi, untuk kebutuhan praktis sekaligus strategis, dalam rangka melewati masa remaja yang cupu, teman saya tampaknya memilih buku yang tepat.

Dia dan si penulis buku seakan-akan menjalin satu keterikatan. Bisa jadi, ini adalah salah satu interaksi alamiah yang terbentuk seturut evolusi. Satu hubungan mutualistik, dimana orang yang tak memiliki kemampuan untuk mengobral kata-kata manis dan orang yang memiliki kecenderungan sebaliknya, dipertemukan oleh satu jalinan bernama industri yang diatur oleh invisible hand.

Baca juga: Siapa Sebetulnya yang Bikin Kita Jadi Baper?

Bukan tidak mungkin, ekosistem semacam ini sudah dibentuk oleh nenek moyang kita sejak masa Gravettian. Saat pertama kali orang mulai terbiasa membentuk patung dari lempung sebagai mode komunikasi atau membuat lukisan di gua-gua.

Di mana salah satu dari mereka, tentu saja yang paling iseng dan ngawur membuat peringatan: “Sebarkan pesan ini di lima gua terdekat! Kalau tidak, dalam waktu lima menit, kamu akan digigit Tyrannosaurus”. Atau, pada masa di mana penyedia jasa rangkai patung mulai diminati oleh sapiens jomblo yang berniat memikat sapiens ukhti.

Sekarang, saat semua telah berkembang, kita mengenal penyedia jasa rangkai kata yang bertebaran di media sosial.

Menu yang tersedia cukup lengkap, mulai dari caption Instagram, kutipan, puisi, surat cinta, pickup line, hingga ucapan-ucapan. Penjajanya datang dari beragam golongan, dari penyair-penyair gagal yang mewakili kelas akar rumput hingga para influencer nan hype yang mewakili kelas menengah ke atas.

Baca juga: Benarkah ‘Fall in Love With People We Can’t Have’ Adalah Hal yang Sia-sia?

Cara transaksinya sederhana. Tinggal hubungi mereka, jelaskan maksud dan tujuan, transfer rupiah, kata-kata akan diproduksi, dan kamu menerima dengan senang hati. Tenang saja, untuk urusan bisnis dan investasi semuanya akan dipermudah, coba tanya ke Pak Jokowi.

Target pasarnya adalah orang-orang seperti teman saya tadi, bukan brand atau produk tertentu. Tak ada bedanya dengan penjual buku Kumpulan SMS Gombal dan Rayuan Maut, mereka mempermudah komunikasi personal agar lebih terarah, menyampaikan sesuatu yang semula tercekat di tenggorokan. Yang membedakan hanya kesepakatan transaksi dan pengembangan pilihan jasa. Jadi, kurang pas jika dikatakan ini adalah inovasi.

Di luar kualitas teks yang dihasilkan, sebagai  penghasil pundi-pundi rupiah, bisnis ini tak bisa dianggap kaleng-kaleng. Apalagi, dirisak karena sentimen tertentu. Teori ekonomi paling sederhana bahkan bisa menangkis itu. Ada supply, ada demand.

Kalaupun ada satu celah yang harus digarisbawahi dari keran bisnis ini, tak lain adalah hadirnya tren baru yang memungkinkan orang-orang terjebak dalam toxic positivity.

Baca juga: ‘Toxic Relationship’, Bagaimana Kalau Sudah Terlanjur Sayang?

Semisal, kita terobsesi untuk menyampaikan ekspresi tertentu kepada orang-orang yang tengah berduka tanpa melibatkan pengalaman personal. Maksud hati ujaran positif, apa daya malah membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Sebab faktanya, kemudahan memesan rangkaian kata tak berbanding lurus dengan kemampuan memahami penderitaan. Bisa jadi, kedekatan emosional kita dengan orang lain justru menjadi retak.

Toxic positivity dan empati memang nyaris tak bisa dibedakan, keduanya seperti dua saudara kembar yang saling berlainan. Semisal, ucapan “semangat, pasti selalu ada jalan selama kamu berusaha”. Kalimat itu bisa terdengar sangat menyakitkan, bahkan cenderung meremehkan, seolah-olah selama ini yang bersangkutan kurang berusaha.

Barangkali, kita bisa melihat postingan menarik yang diunggah di Instagram ini agar bisa lebih berhati-hati:

Sumber: Whitney Goodman

Dengan memesan ungkapan manis dan lucu, kita memang berniat baik, tetapi hasilnya justru bisa terbalik. Bahayanya, alih-alih memahami, kita teramat menggebu-gebu untuk menyampaikan tanggapan. Seolah-olah itu bisa mengilhami.

Artikel populer: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Saya sepakat pada Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People (1989) bahwa kebanyakan orang tidak mendengarkan dengan tujuan untuk memahami, mereka mendengarkan dengan intensi membalas ucapan si lawan bicara. Padahal, setiap cerita hanya membutuhkan telinga, tak lebih dari itu.

Belum lagi, metode penceritaan ulang pada orang ketiga, sebab kita pasti diminta untuk menjelaskan kondisi sebelum memesan jasa. Di sini, ada dua hal yang benar-benar rawan. Pertama, keamanan privasi. Kedua, lemahnya pihak ketiga memahami situasi.

Semoga ini menjadi PR untuk penyedia jasa rangkai kata. Bagi saya, satu-satunya yang boleh dijadikan korban toxic positivity hanya Emyu dan antek-anteknya, terlebih dengan kalimat: “Ayo, tahun ini Emyu pasti bisa jadi juara liga…

Liga dangdut.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini