‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Ilustrasi perempuan (Photo by Soroush Karimi on Unsplash)

Ada banyak cerita soal ‘keperawanan’ yang sampai sekarang narasinya tidak berubah, terutama dalam hubungan asmara muda-mudi. Namun, kali ini, akan lebih spesifik pada hubungan yang ‘beracun’ alias toxic relationshit, eh ship.

Jadi, kira-kira begini ceritanya:

“Aku sebenernya udah nggak kuat pacaran sama dia. Aku merasa tersiksa, udah nggak ada bahagia-bahagianya.”

“Kenapa nggak putus aja?”

“Ya gimana, aku udah nggak perawan.”

“Lha, memang kenapa kalau udah nggak perawan?”

Biasanya, ketika sampai pada pertanyaan “memang kenapa kalau udah nggak perawan”, teman bicara langsung menunjukkan raut wajah yang aneh. Melempar pertanyaan seperti itu seakan-akan tidak menyimak perbincangan. Seolah-olah tidak nyambung. Atau, bisa juga dianggap tidak sepemikiran.

Akhirnya, banyak yang berusaha menyudahi perbincangan, sambil berkata, “Ah, kamu nggak ngerti!”

Baca juga: Menjadi ‘Survivor’ Patah Hati, Termasuk dari Teman yang Positif tapi Beracun

Yup, perempuan yang tidak ‘perawan’ sebelum menikah masih dianggap sebagai sosok murahan, amoral, tak punya harga diri, plus bakal susah dapat jodoh. Seolah-olah mereka pantas menerima ‘hukuman’ dan perlakuan diskriminatif dari orang-orang yang merasa paling bernilai dan bermoral di negeri ini.

Tapi, anehnya, mengapa laki-laki yang nggak ‘perjaka’ dianggap sesuatu yang lumrah? Ini masalahnya ‘perawan nggak perawan’ atau hanya karena dia perempuan saja, sih?

Jadi, lebih memilih menjalani toxic relationship karena udah nggak ‘perawan’ daripada putus? WHAAATTT!

Tunggu, ada pembaca yang juga mengalami situasi seperti itu, nggak? Namanya juga toxic, gaes, ya berbahaya. Mengancam kesehatan mental dan fisik kita.

Bahkan, hubungan yang seperti itu bisa mengarah pada kekerasan psikis maupun fisik. Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2019 mengungkapkan bahwa terdapat 2.073 kasus kekerasan dalam pacaran (KDP) selama 2018.

Baca juga: Jangan-jangan Kamu Tidak Sadar, Kamu Adalah Pelaku atau Korban Kekerasan dalam Pacaran

Kalau menurut Abigail Brenner MD, seorang psychiatrist sekaligus penulis Transitions: How Women Embrace Change and Celebrate Life, setidaknya kita perlu waspada jika orang yang kita sayangi bersikap manipulatif. Misalnya, selalu menyalahkanmu atas segala asumsi dan rasa tidak nyaman yang ia rasakan.

“Udah putus aja.”

Soal ‘nggak perawan’ dengan segala macam stereotipnya, patut dipertanyakan lagi, lagi, dan lagi. Tak peduli besok matahari akan terbit di barat. Konsepsi tentang ‘keperawanan’ sangat mengusik logika.

“Apa sih perawan itu?”

“Apakah perempuan yang belum pernah berhubungan seksual?”

Which one? Hubungan seksual kan banyak macamnya?”

“Apakah yang dimaksud kalau penis masuk vagina?”

“Kalau pakai dildo, gimana? Jari sendiri?”

“Apakah nggak perawan itu karena selaput daranya sudah sobek?”

“Bagaimana dengan perempuan yang terlahir tanpa selaput dara? Atau, sobek karena berolahraga atau kecelakaan? Lalu, bagaimana dengan korban pemerkosaan?”

“Apakah perawan nggak perawan berbanding lurus dengan perilaku, prestasi, dan kontribusi sosial?”

Baca juga: Salah Paham soal Selaput Dara

Human Rights Watch (HRW) pernah menyerukan kepada Presiden Jokowi untuk menghentikan praktik tes keperawanan kepada calon anggota di sejumlah institusi. Alasannya, ‘tes dua jari’ ini melanggar HAM, diskriminatif, dan tidak ilmiah.

Lagipula, kalau alasannya untuk menjaga moral, mengapa hanya perempuan yang harus dites? Kenapa nggak pernah ada tes keperjakaan?

Semuanya itu berpusat pada pertanyaan mendasar perihal pandangan umum masyarakat tentang ‘keperawanan’. Sebuah pandangan yang seturut dengan konstruksi pemikiran patriarki.

Dalam konteks ini, maskulinitas laki-laki dianggap gamblang, kasat mata, terlihat, terasa, seperti logo uang original. Contohnya, laki-laki nggak boleh nangis, harus bisa benerin genteng, nggak boleh pakai baju pink, nggak boleh pakai skincare (nggak apa-apa muka berminyak kayak wajan yang penting maskulin), dan harus perkasa di ranjang!

Kalau semua pertanyaan itu kamu jawab, “Ya”, wahhh… Monmaap nih, bisa jadi kamu bagian dari masyarakat dengan maskulinitas yang rapuh.

Artikel populer: Suka atau Tidak, Laki-laki Lebih Rapuh daripada Perempuan

Maskulinitas yang salah kaprah itu menjejali pemikiran bahwa laki-laki yang perkasa adalah mereka yang ‘tak terkalahkan’ di kasur. Lho, dari mana perempuan tahu doi memang ‘seperkasa’ itu? Inilah cikal bakal ketakutan laki-laki dengan fragile vulnerability masculinity.

Dari mana perempuan tahu??? Ya gampang saja, mari buat agar mereka tidak tahu!!!

Nah, terkuak sudah teman-teman seper-insekyuranku! Dalam pemahaman mereka, perempuan yang sudah tidak perawan adalah perempuan yang sebelumnya memiliki pengalaman berhubungan seksual dengan orang lain.

Dengan begitu, menurut mereka, perempuan tersebut akan memiliki nilai banding, memiliki kemampuan untuk membandingkan ‘keperkasaan’ dengan laki-laki lain, sehingga itu akan mengancam maskulinitas mereka. Apalagi, bagi mereka yang tidak punya pengalaman seksual sama sekali.

Padahal, ketakutan-ketakutan seperti itu sebenarnya tidak perlu terjadi. Maskulinitas tidak ada hubungannya dengan kekuatan urat penis laki-laki. Yuk ah, ngopi dulu biar nggak slek.

Eh tapi, kalau ngopi aja nggak harus sama yang masih perawan, kan?

5 COMMENTS

  1. Karena udah ga perawan, jadinya malah yaudah ngesex aja sama pasangan2 yg baru, toh dah ga perawan ini, dan mau sama mau juga. Jadi tau juga berbagai ukuran penis pria, beda keperkasaannya, macem gayanya, gmna cowok suka diperlakukan, dimana titik fetisnya. Jadi punya banyak pengalaman, sama2 enak juga.

  2. Lol, perawan itu ciri dimana dia bisa ngendaliin diri. Jaga kehormatan dari orang yg belum hak. Klo peekosaan dan hal2 medis sih bisa dimaklumi. Tp klo pake dildo, ngewe, itu bukti dia gak kuat mental, gak kuat iman

    • Lol, kalau keperawanan itu ciri dimana perempuan tsb bisa ngendaliin diri, berarti laki-laki juga ga boleh nonton pornografi atau sentuh apapun yang berbau pornografi dong ya? Masturbasi juga nggak boleh sama sekali kan? Kalau nggak kan berarti dia juga gak kuat mental, gak kuat iman?

      Orang kaya lo itu yang bikin cewe2 mending trauma dan rela mati di-abuse sama cowok2 ga karuan daripada “bikin ortu malu” dan jadi “ga berharga.” Padahal justru banyak cowok yang ngajak ceweknya. Terus kalau sudah terjadi, selalu perempuan yang dipermalukan.

      Konsep keperawanan itu tidak ilmiah. Tolong baca artikelnya sebelom nge comment. Kalo nggak, cuma keliatan kaya tong kosong nyaring bunyinya. Thanks.

      • Omongan dia bener kok… kita itu (termasuk gue) harus bisa ngendaliin diri ngelihat yg perlu dan yg ngak perlu dilihat. Kalau soal cowok itu dilarang maupun ngak dilarang itu sebenarnya tetep kok harus juga jaga diri…

        Terus kenapa dengan cewe yang dihukum lebih besar daripada cowo. Karena begitulah adat kita orang timur. Di point ini gue setuju kalau cowok juga mesti dihukum sama besarnya kayak si cewe bahkan kalau perlu dihukum lebih berat….

        Tapi kalau bisa si anggap aja itu sebagai peringatan dini bagi cewe agar tidak melanggar norma norma adat.
        Masih ilmiah kan?

  3. Memang berat buat lelaki utk nerima cewe yg udah ga perawan. Tp harus diingat, kalo cewe juga punya nafsu, yg juga dimiliki laki2.
    Orang2 di Indonesia mesti mendewasakan pikiran buat nerima bahwa ini adalah hal yg akan terjadi seiring berkembangnya manusia itu sendiri, bukan krn pengaruh budaya barat atau lemahnya adat ketimuran.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.