‘Toxic Relationship’, Bagaimana Kalau Sudah Terlanjur Sayang?

‘Toxic Relationship’, Bagaimana Kalau Sudah Terlanjur Sayang?

Ilustrasi pasangan (Photo by Allan Filipe Santos Dias on Unsplash)

Gaes, pernah punya teman atau pasangan yang ‘toxic’ nggak ya? Hubungan yang seperti itu atau toxic relationship memang benar-benar mengganggu dan tentu saja mengancam kesehatan mental kita. Bahkan, terlalu dekat dengan mereka bisa bikin kita sakit fisik hingga karier hancur.

Sebagai seorang konselor, saya sering menjumpai curhatan-curhatan perihal bagaimana lelahnya individu menghadapi individu lain yang dirasa sangat ‘beracun’. Misalnya mudah menyakiti, selalu membawa masalah, menyulut rasa kebencian, hingga menjadikan relasi penuh putus asa.

Orang-orang yang menjalankan toxic relationship tersebut mengungkapkan bahwa toxic person datang dari berbagai pihak. Mulai dari sahabat, orangtua, pacar, hingga saudara kandung. Bahkan, ikatan darah tidak menjamin seseorang bisa menjalin relasi yang baik.

Namun, bukan berarti kita bisa langsung menuduh bahwa orang itu merupakan sosok ‘beracun’. Jangan-jangan, diri kita sendiri yang sesungguhnya bermasalah dengan lingkungan. Makanya, kita cek dulu yuk sebelum menganggap orang lain sebagai toxic person.

Baca juga: Jangan-jangan Kamu Tidak Sadar, Kamu Adalah Pelaku atau Korban Kekerasan dalam Pacaran

Kalau menurut Abigail Brenner MD, seorang psychiatrist sekaligus penulis Transitions: How Women Embrace Change and Celebrate Life, setidaknya kamu perlu waspada jika orang yang kamu sayangi bersikap manipulatif. Hal ini seperti tidak konsisten pada perasaannya sendiri, serta selalu menyalahkanmu atas segala asumsi dan rasa tidak nyaman yang ia rasakan.

Toxic person akan selalu mendorongmu hingga pada batas kesabaran. Jika kamu berada di posisi ini, segeralah meminta pertolongan. Namun, bagaimana kalau sudah terlanjur menyayangi mereka?

“Ya bagaimana lagi itu sahabatku satu-satunya.”

“Mana bisa aku lari dari pacarku yang toxic? Kami setiap hari ketemu?”

“Aku mending dikuat-kuatin deh daripada mutusin pacarku yang toxic, soalnya aku sayang banget.”

Dan, masih banyak lagi alasan yang bikin orang merasa nggak bisa keluar dari toxic relationship. Nah, di sini, saya akan coba berbagi perihal bagaimana menyelamatkan diri ketika sudah terlanjur berelasi dengan orang-orang yang ‘beracun’.

Baca juga: Nikah Tanpa Pacaran? Tidak Semudah Itu, Ferguso!

Pertama, pahami bahwa kasih sayang itu terkadang menyakitkan, namun dia tidak memberi ruang untuk kebencian. Jika kamu dengan pasanganmu, orangtuamu, atau sahabatmu saling menyayangi, akan sangat sering menyakiti satu sama lain, namun tak akan membuat kalian saling membenci.

Ya tentunya dalam relasi selalu ada ribut-ribut kecil, itu wajar dan sangat normal. Namun, jika hari ini kamu merasa begitu muak dan benar-benar ‘membenci’ mereka, maka kamu perlu mengevaluasi ulang perihal relasi yang ada.

Kedua, bedakan relasi ‘beracun’ dengan relasi yang sedang bertumbuh. Jika kebencian dan rasa muak telah hadir, maka sudah pasti relasi kalian adalah relasi yang ‘beracun’ yang mengganggu kenyamanan. Namun, kamu jangan terburu-buru. Beri dirimu dahulu ruang untuk introspeksi dan telaah sejauh mana mereka melukaimu.

Baca juga: Baru Pacaran sudah Kekerasan, tapi kok Cinta?

Jika kamu terjebak dalam persoalan yang sama dan berdampak signifikan pada ketenangan jiwa, maka kamu memang benar-benar dalam relasi yang berbahaya. Namun, kalau persoalan ini hanya terjadi sekali-dua kali, kemudian terselesaikan dengan baik, bisa jadi sesungguhnya relasimu sedang bertumbuh. Sekali lagi, kamu harus memastikan apakah itu hubungan yang ‘beracun’ atau sedang bertumbuh.

Ketiga, ya berhenti mencintai ‘toxic person’. Jika relasimu memang semenyakitkan itu, maka kamu tak punya alasan untuk bertahan, meskipun kamu sangat mencintainya. Kamu harus menyelamatkan dirimu. Misalnya, jika yang toxic’ adalah orangtuamu, persiapkan diri untuk hidup mandiri dan menata hidupmu sendiri.

Nah, kalau yang toxic adalah sahabat atau pasangan, kamu harus ingat bahwa menjalin relasi atau berkomitmen dengan seseorang itu untuk kebahagiaan bersama. Kalau nggak bahagia, buat apa? Sesimpel itu.

Artikel populer: Kalaupun Kamu Anti-Pacaran, Memangnya Kamu Lebih Baik?

Keempat, toxic tetaplah toxic bagaimanapun juga. Ya pasti akan sangat sulit menjauh dari orang yang kita sayangi. “Dia kan nyokap gue, gak mungkin dong gue menjauh?” atau “Pacar gue do everything kok buat gue.”

Memang, kamu yang memahami apakah akan selalu kembali pada cycling konflik yang sama. Lalu, apakah kamu akan selalu terluka untuk masalah yang berulang. Jika yakin ingin mempertahankan relasi ini, bisa upayakan rekonsiliasi.

Namun, kalau satu pihak tidak berniat untuk rekonsiliasi, di sini lah poinnya dari toxic relationship. Itu berarti memang tidak ada lagi yang perlu dipertahankan. Segera akhiri! Kalau tidak, masalah yang sama akan berulang dan berputar-putar saja hingga menimbulkan kekerasan psikis maupun fisik.

Dalam hubungan pacaran, misalnya, Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2019 mengungkapkan bahwa terdapat 2.073 kasus kekerasan dalam pacaran (KDP) selama 2018. Ini tentu memprihatinkan. Pacaran kok gitu amat?

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.