Tontonan Erotis yang Tak Pernah Habis

Tontonan Erotis yang Tak Pernah Habis

Ilustrasi (Stefan Keller via Pixabay)

Iklan itu menayangkan dua orang perempuan seksi terbalut busana yang menonjolkan bagian-bagian tubuh tertentu. Seraya tersenyum manja dengan tatapan penuh arti, mereka menyanyikan lirik sebuah iklan kondom dengan pesan-pesan implisit.

Seolah tak cukup dengan itu, nada desahan dan goyangan erotis turut menyertai, ditambah sorot kamera yang sengaja diarahkan ke bagian tubuh tertentu saja.

Gimana? Asyik bukan, saat melihat perempuan meliuk-liuk manja dengan tarian erotis, dan sajak iklan sebagai selimutnya?

Kalau sudah begini, berbicara sosok perempuan dalam identitas gender akan semakin panjang. Istilah kesetaraan hanya sekadar ungkapan saja tanpa makna yang jelas. Seolah hanya sebuah pemanis.

Apalagi, jika bicara tentang posisi seorang perempuan yang seringkali hanya menjadi sebuah obyek penderita, juga obyek seksualitas belaka.

Tengoklah roman-roman sastra kita. Ada berapa banyak roman yang menceritakan tentang posisi seorang perempuan sebagai posisi kunci, subyek, bukan sebuah obyek belaka? Satu, dua, sepuluh, seratus?

Dalam novel Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli saja, kita bisa melihat bagaimana marjinalnya seorang Siti Nurbaya yang tak punya hak atas hidupnya sendiri.

Ia harus mau dan rela diserahkan keluarganya kepada Datuk Maringgih karena masalah utang. Sementara Datuk Maringgih naksir kepada Siti Nurbaya karena kemolekan wajahnya.

Bukankah itu sebuah potret persoalan subordinasi perempuan, sekaligus potret buram ‘penjualan tubuh’ seorang perempuan yang dibungkus dengan dalih ‘pengorbanan demi keselamatan keluarga’?

Perempuan di negeri ini seolah tak jauh-jauh perannya hanya sebagai obyek pemanis kehidupan. Berperan sebagai obyek marjinal yang tak henti-hentinya dieksploitasi.

Sosok perempuan yang hanya berperan sebagai second class seperti gundik, nyai, ronggeng, gadis penghibur, atau istri kontrak, tertulis tak hanya lewat sastra-sastra lokal maupun internasional, melainkan lewat banyak ragam.

Dan, sayangnya, seiring perkembangan zaman, pelabelan semacam itu – bahwa perempuan sudah sepantasnya hanya menjadi obyek, bukan subyek, hingga harus mau menerima posisinya sebagai second class – tak juga mengalami perubahan.

Bahkan, banyak pemakluman dari sesama perempuan atas ketidakadilan yang dialami perempuan lain.

Misalnya, dalam kasus perkosaan atau pelecehan seksual. Posisi korban justru menjadi obyek yang diadili oleh masyarakat, bukannya mendapat empati.

Tuduhan bahwa si korban tak mampu menjaga diri, terlalu agresif, hingga pakaian yang dikenakan korban yang katanya terlalu ‘berani’, kerap menjadi alasan bagi masyarakat untuk menghakimi korban.

Sangat disesalkan, pernyataan semacam itu keluar pula dari mulut sesama perempuan, yang ‘memaklumi’ tindakan para pemerkosa atau pelaku pelecehan yang tergoda untuk menyentuh tubuh para korban.

Di sini, kadang saya merasa, enak sekali ya menjadi seorang laki-laki? Seolah semua apa yang dilakukannya akan terus mendapatkan pemakluman dari siapapun, bahkan untuk perbuatan yang sangat buruk sekalipun.

Belum lagi, jika kita bicara tentang bahasa iklan, film, serta beberapa produk tontonan di ranah media kita. Banyak sekali yang pada akhirnya hanya mempertontonkan hiburan atau sajian untuk menyenangkan mata para lelaki.

Dan, untuk yang satu ini jelas, posisi perempuan sebagai obyek seks dikemas dalam berbagai sajian, baik yang implisit maupun eksplisit.

Iklan kondom tadi hanya satu dari sekian banyak iklan yang sibuk menjual keseksian seorang perempuan untuk dijadikan imajinasi atau obyek seks belaka.

Coba lihat kembali iklan kondom yang ada. Yakin anda tak mempunyai imaji lebih dari sekadar melihat itu sebagai iklan belaka?

Dalam iklan tersebut, kata mesum dan cabul jelas tak berlaku, meski sebetulnya iklan tersebut bisa dibilang termasuk tontonan dewasa. Tapi, celakanya, itu bisa dilihat oleh siapa saja, terutama jika ditayangkan pada jam-jam premium.

Yah, sudah menjadi rahasia umum bahwa para orang tua tak juga membatasi tontonan anak-anaknya. Tayangan-tayangan yang disertai embel-embel 13+ pun bakal ditonton rame-rame di ruang keluarga. Nggak tua, muda, bocah, ataupun remaja.

Lalu, lihatlah iklan lainnya. Iklan es krim yang menyuguhkan perempuan seksi yang sibuk ‘berburu’ es krim, lalu memakannya di hadapan para lelaki dengan gaya yang tampak ‘terlalu menikmati’ setiap lelehan es?

Mungkin saja, si pembuat iklan ingin menyampaikan pesan bahwa makan es krim tak membuat tubuh perempuan menjadi melar. Tapi, apa iya, hanya itu yang ditangkap oleh mata para penonton?

Kemudian, lihatlah tontonan kita lainnya, semisal sinetron-sinetron yang rutin ditayangkan di TV. Apakah ada yang tak ‘menjual’ seksualitas seorang perempuan?

Ya kalaupun bukan ‘pameran’ tubuh-tubuh molek para pemain perempuan, isinya nggak jauh-jauh dari kisah haru biru seorang laki-laki yang diperebutkan oleh perempuan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.

Berkaca dari itu semua, sangat jelas bahwa seksualitas subordinat perempuan pada akhirnya menjadi bagian dari publik. Dan, meski tampak erotis, banyak yang menganggapnya sebagai suatu kewajaran demi mencuri perhatian publik.

Begitu kan?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.