“Tolong, Saya Hanya Dijadikan Alat Investasi oleh Orang Tua”

“Tolong, Saya Hanya Dijadikan Alat Investasi oleh Orang Tua”

Ilustrasi (Amy via Pixabay)

Seorang perempuan mengirim pesan langsung kepada saya melalui Instagram. Kalimat pertama yang ia tulis adalah “tolong saya, saya hanya dijadikan alat investasi oleh orang tua saya”.

Selanjutnya, saya menghubungi perempuan yang belakangan diketahui berusia 28 tahun itu. Ia mengaku stres, karena ibunya melarangnya menikahi lelaki pilihannya.

“Mama besarkan kamu dengan susah payah agar kamu menikah dengan lelaki yang baik. Agar kamu dapat memperbaiki ekonomi keluarga. Bukan malah menikahi laki-laki miskin itu!” tutur dia meniru ucapan si ibu.

Perempuan itu bercerita dengan penuh derai air mata. Dalam kasus seperti ini, yang belum ada unsur kekerasan fisik, kami para pendamping penyintas akan sangat kesulitan menolong melalui jalur hukum. Yang dapat kami bantu hanyalah memberi konseling jarak jauh.

Ini sebetulnya bukan kasus pertama bagi saya. Beberapa waktu lalu, lembaga tempat saya bekerja sempat mendampingi kasus seorang perempuan muda berusia 20 tahun yang kabur dari rumah suaminya.

Ia mengungkapkan bahwa pernikahannya dipaksa orang tua. Ibunya terlanjur menerima uang mahar yang sangat besar dari keluarga laki-laki. Dengan penuh derai air mata, si ibu memohon kepada puterinya untuk menikahi lelaki itu. Demi ekonomi keluarga, katanya.

Ada juga beberapa kasus perempuan yang memiliki adat uang panai, yang kesulitan menikahi lelaki pujaannya karena orang tuanya memasang harga yang begitu tinggi.

Baca juga: Doraemon sebagai Kritik kepada Orang Tua

Hal itu pernah saya temukan ketika memegang event ajang pencarian model di sebuah mal. Beberapa dari peserta masih berada di bawah usia kerja. Namun, para ibu yang mengantar mereka mengungkapkan betapa bangganya mereka berhasil memproyeksikan anak sebagai penghasil uang.

“Ya jaman sekarang kudu pintar bu… Anak itu investasi kita, kalau mereka bisa menghasilkan sedari muda, kenapa nggak? Toh, itu juga buat jajan mereka dan adik-adik mereka sendiri kan?”

Namun, ternyata, bukan hanya perempuan yang mengalami hal serupa. Baru-baru ini, saya mendapatkan seorang yang meminta tolong untuk akses konseling pasca aborsi. Pasangan ini telah lulus kuliah dan bekerja.

Ketika saya bertanya, “Mengapa kalian tidak menikah saja?” Sang perempuan menjawab, “Ibu pasangan (laki-laki) saya belum mengizinkan pasangan saya menikah, karena pasangan saya anak sulung dan ibunya ingin pasangan saya itu membahagiakannya dulu. Dengan membelikan rumah dan membantu perekonomian keluarga.”

Pada akhirnya, pasangan ini memilih untuk aborsi.

Kasus-kasus di atas kemungkinan hanya segelintir dari ribuan kasus yang ada di Indonesia. Lintas adat, lintas gender, lintas usia. Masih banyak perempuan maupun laki-laki yang dibesarkan untuk memenuhi hasrat orang tuanya.

Dan, tentu saja masih banyak orang tua yang membesarkan anak mereka sebagai sebuah potensi investasi yang menguntungkan.

Sesungguhnya, ini tidak pernah terlepas dari tipologi masyarakat kita. Dengan mobilitas sosial yang cukup terbuka, masyarakat masih terbuai angan-angan perihal mobilitas sosial antar-generasi. Bahwa status sosial mereka akan naik melalui anak-anak mereka.

Baca juga: Biarkan Anak Kelak Tentukan Pilihannya, Apa Harus Tindik Telinga atau Tidak

Sebagai contoh, keluarga dari kalangan biasa akan naik status sosialnya, jika anak perempuan mereka menjadi menantu orang berada. Namun, yang terjadi adalah, cukup sering ditemukan orang tua yang merasa anak mereka bertanggung jawab untuk mengangkat ekonomi keluarga.

Banyak masyarakat yang terlanjur menganggap fenomena ini sangat wajar dan bukan merupakan fenomena yang berdampak buruk di permukaan.

Namun, jika kita mau sedikit menyelam dan berusaha memahami lebih dalam, kini telah terjadi pergeseran makna relasi orang tua dan anak. Sejak kapan mengandung dan melahirkan anak demi sebuah pengamanan finansial?

Ini sungguh jauh dari marwah “kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa” yang selalu kita nyanyikan di kala kecil. Relasi ibu-anak dengan jenis cinta dan kasih sayang tanpa syarat yang selama ini dijadikan oleh kaum feminis sebagai konsep masyarakat anti-patriarki, kini telah bergeser.

Tak ada lagi cinta tanpa syarat dari sebagian kaum ibu. Yang ada adalah cinta sebesar dunia dengan pengharapan-pengharapan sebesar dunia pula. Kini, patriarki bahkan telah masuk ke isi kepala dan rahim ibu.

Kita memang tidak bisa pukul rata fenomena ini terjadi pada semua ibu. Namun, bagaimana jika fenomena ini terus dirawat dan keyakinan bahwa anak dapat menjadi sumber uang terus menerus direproduksi dan dikonsumsi oleh para ibu?

Di era digital seperti sekarang, tentu itu sesuatu yang tidak sulit. Cukup dengan meme sederhana dan mengandalkan viralitas, plus beberapa contoh potret anak muda yang sukses dan kaya raya.

Artikel populer: ‘Anak Jaksel-jaksel Club’

Dalam beberapa kasus yang saya temui, orang tua akan mulai mengalami konflik di dalam diri.

Pertama, orang tua yang terus menerus terpapar nilai ini, lambat laun akan mulai terganggu. Setiap orang tua selalu memiliki kesadaran bahwa anak-anak mereka adalah yang terbaik.

Melihat betapa mudahnya anak-anak lain meraih kesuksesan dan lambat laun membantu perekonomian keluarga, pelan-pelan mulai membandingkan anak mereka dengan kesuksesan anak yang lain.

Kedua, konflik dimulai ketika orang tua akan mulai menekan sang anak, dengan perbandingan-perbandingan yang dipaksakan. Seperti ucapan “kamu kok gak niru dia, dia itu pintar, bisa menghasilkan gak minta orang tua”.

Kita semua tahu dibandingkan dengan orang lain adalah hal yang sangat tidak menyenangkan. Anak yang kurang asertif (tegas memilih pilihannya sendiri) akan memenuhi permintaan orang tua.

Ada banyak kemungkinan yang terjadi akibat itu. Anak bisa saja menikmati kegiatannya yang menghasilkan atau anak justru merasa tertekan karena dipaksa untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkannya.

Kalau anak yang asertif, tentu saja akan memilih untuk memberontak serta menerima cap sebagai anak nakal dan pembangkang.

Ketiga, fase terburuk adalah fase reproduksi. Anak yang tumbuh besar dengan nilai seperti ini akan mereproduksi pola pengasuhan yang sama pada anak mereka.

Dari satu generasi ke generasi yang lain, anak-anak akan tetap menjadi medium dari akumulasi. Anak anak dibentuk menjadi aktiva bergerak dengan harapan menghasilkan keuntungan pada masa depan.

Padahal, anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Mereka pun tidak pernah memilih harus terlahir dari keluarga seperti apa. Masihkah beban-beban ekonomi yang kita tahu begitu beratnya, kita lekatkan pada anak? Orang tua apaan?

Sepertinya menjadi single jauh lebih baik dari itu.

2 COMMENTS

  1. ini semua karena kegagagaln literasi keuangan dari para orangtua itu sendiri. Jadi mereka harus mengorbankan sang anak sebagai mesin penghasil uang. Ini kejam, sebenarnya dapat dikatakan sebagai “perbudakan”

  2. Yang paling menyedihkan, anak yang menolak langsung kena emotional dan psychological blackmail berupa hujatan “anak durhaka” / “anak yang nggak tahu terima kasih” / “anak yang nggak berbakti sama orang tua”.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.