Seberapa Kenal Kamu dengan 5 Tokoh Inspiratif Ini?

Seberapa Kenal Kamu dengan 5 Tokoh Inspiratif Ini?

Ilustrasi (Photo by prottoy hassan on Unsplash)

“Emang gua dapat apa?”

Berapa banyak dari kita yang melontarkan pertanyaan itu, jika diminta bergerak dan melakukan sesuatu di luar job desk? Ayo ngaku! Minimal ngedumel, kalau memang tidak berani mengutarakan hal itu. Ya mau gimana, mengutarakan perasaanmu ke doi aja takut, apalagi komplain yang bisa bikin kamu kehilangan penghasilan?

Namun, berbeda dengan manusia kebanyakan yang sulit move on, tokoh-tokoh berikut ini tak hanya memikirkan isi perut dan mejeng keren ala-ala, tapi mereka berupaya semampunya untuk dunia. Tsah…

Kalau moto anak jaman now “Aku berswafoto, maka aku ada”, yang meramaikan dunia dengan foto-foto selfie, sebagian tokoh ini melakukannya dengan cara berbeda. Serupa tapi tak sama dengan Rene Descartes, mereka lebih tepatnya: “Aku berkarya, maka aku ada”.

1. Mayu Fentami

suara.com

Kalau suster ngesot bikin kamu semua lari terbirit-birit, suster alias perawat yang satu ini bikin kamu terpesona dengan kegigihan dan tekadnya. Dia adalah Mayu Fentami yang bekerja di Puskesmas Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Berangkat dari keprihatinannya terhadap rendahnya tingkat sanitasi warga di sekitar sungai Kapuas yang sering menyebabkan penyakit muntaber dan diare, Mayu mulai melakukan penyuluhan dan kampanye kepada warga. Melalui talk show di radio, komunikasi dengan warga pun terbentuk, tentu diselingi dengan lagu-lagu kesukaan warga.

Aboh meh kite gaok Sungai Kapuas” adalah sapaan akrab Mayu kepada para pendengarnya saban malam. Program ‘Bunut Sehat’ dari Radio Surasuta FM 107 Mhz menjadi sarana Mayu untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Ia juga mengajak anak- muda setempat untuk membuat program KaCa (Kapuas Membaca).

Agustus tahun lalu, usaha Mayu berbuah manis. Ia memperoleh Trimurti Award dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Perempuan ini dianggap telah memperjuangkan hak kaum tertindas untuk memperoleh literasi dan informasi.

2. Rochmat Tri Marwoto

netz.id

Mendengar kata Brimob apa yang terbayang di kepala? Sangar? Eh… Jangan men-judge orang dari badannya yang kekar, eh pekerjaannya. Brigadir Polisi Rochmat Tri Marwato ini tenar di Madiun. Bukan karena pangkatnya, namun karena ketulusannya dalam membantu mengasuh dan menyekolahkan anak-anak kurang mampu sejak 2007. Hingga saat ini, setidaknya 54 anak menempati rumah Pak Rochmat di Madiun.

Polisi yang memiliki satu putra ini membuka toko pulsa dan HP bekas kecil-kecilan di rumahnya untuk membantu menutupi penghasilan polisi yang pas-pasan. “Matematika Allah itu berbeda dengan matematika manusia.” Itu yang sangat dipercaya Brigadir Rochmat, bukannya matematika salam tempel. Pada 2017, ia terpilih sebagai salah satu sosok Kick Andy Heros.

3. Endang Irawan

kumparan.com

Laki-laki brewokan yang kerap menggunakan jaket hijau khas salah satu angkutan online ini adalah pemilik Pondok Pesantren Nurul Iman di Ciomas, Bogor. “Saya sedang belajar ilmu agar tak dikenal orang,” kelakarnya ketika diwawancara salah satu media.

Pondok pesantren miliknya telah berdiri sejak 12 tahun lalu. Dalam rentang waktu tersebut, Endang telah mencoba berbagai cara untuk membesarkan pondok ini. Mulai dari bekerja sebagai mekanik hingga yang terakhir dan dirasa paling cocok adalah menjadi driver ojek online. Dari bekerja sebagai tukang ojek, Endang mampu menghidupi 126 santrinya yang sebagian tidak dipunggut biaya.

Hai para pekerja kantor yang masih malu-malu mengakui pekerjaan tambahannya sebagai tukang ojek. Contoh yang satu ini seharusnya cukup kuat untuk menjawab pertanyaan calon mertua, “Mau menghidupi anak saya pake apa?”

4. I Wayan Patut

btid.co.id

Siapa yang suka nginjak-nginjak terumbu karang sambil selfie? Awas loh diamuk sama Pak Patut. Pak Patut ini dari namanya tentu kita bisa menebak asalnya. Ya, Pak Patut yang berasal dari Bali ini adalah pembela terumbu karang.

Tergerak dari keprihatinan kondisi ekologi Pulau Serangan Bali, pada 2002, Pak Patut mulai mengajak anak-anak nelayan untuk belajar menanam terumbu karang. Ditanam? Emangnya hidup? Iya, batu yang sering tak sengaja menggoresmu ketika berenang itu tumbuhan hidup yang jadi rumah para ikan.

Selain anak asuh, kelompok Karya Segara ini menggalakkan program Terumbu Karang Asuh. Tidak hanya hati dan manusia yang bisa dititip asuh, tapi terumbu karang ini juga dicarikan orang yang mau menjadi penjaganya dalam bentuk donasi.

Dalam waktu 8 tahun, 1,8 hektare area Pulau Serangan telah kembali direhabilitasi. Atas upayanya ini, Pak patut meraih Liputan 6 Awards dan disematkan gelar ‘Sang Penyelamat Laut’.

5. Sri Suci Utami Atmoko

Dokpri

Saat berbicara tentang konservasi orang utan, sepertinya jarang sekali ditemukan nama ekolog Indonesia. Seolah-olah ilmuwan negara ini tak pernah peduli dengan satwa yang hampir punah itu.

Ahli primata ini mengaku jatuh cinta dengan orang utan terutama orang utan Sumatera. Dengan riset selama lebih dari 30 tahun, dosen Fakultas Biologi UNAS ini seperti ensiklopedia orang utan. Kemampuannya ini akhirnya diakui dunia.

Suci terpilih sebagai satu-satunya konservasionis satwa asal Indonesia dari 32 finalis lain di ajang Indianapolis Prize. Proses seleksi penghargaan ini masih berjalan, 6 pemenang akan diumumkan pada September 2018.

Keren-keren kan tokoh di Indonesia ini? Sudahlah, jangan patah hati hanya karena satu perceraian, eh? Mari buka mata buka hati, mainnya yang jauh, kopinya yang kental, jangan terlalu banyak di depan layar ponsel. Mulailah terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial.

Seperti yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, “Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi, dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya .”

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.