Ilustrasi belajar dari rumah (Photo by August de Richelieu from Pexels)

Dionysius Subali, Lecturer at the Faculty of Biotechnology, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

***

Selama masa pandemi Covid-19, sekitar 42 juta siswa Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) di Indonesia diharuskan untuk mengikuti pembelajaran sekolah secara daring. Namun, banyak orangtua belum mengetahui cara mengajar yang efektif bagi anaknya ketika harus belajar dari rumah.

Survei Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) selama pandemi menunjukkan banyak orangtua siswa SD mengalami kebingungan karena minimnya koordinasi dengan guru (31,5% responden), sehingga kesulitan untuk terlibat dan memahami pelajaran anaknya (34,6% responden).

Anak usia TK dan SD memerlukan pendampingan khusus orangtua selama belajar dari rumah. Studi dari Eropa menunjukkan bahwa anak-anak pada level TK dan awal SD khususnya memerlukan metode pendidikan khusus untuk membantu mereka menyerap ilmu serta membangun kemampuan kognitif dan motorik dasar.

Saya akan memberikan beberapa tips agar orangtua bisa mendampingi anaknya yang masih di TK dan SD untuk belajar dari rumah dengan lebih efektif dan menyenangkan.

Kenali metode belajar anak yang paling ideal

Meskipun memudahkan guru maupun orangtua dalam menyampaikan materi, media belajar seperti buku paket dari sekolah yang dominan pada teks kurang ideal untuk proses pembelajaran anak di level TK dan awal SD.

Baca juga: Cerita Orangtua, Guru, dan Anak selama Belajar dari Rumah

Suatu penelitian dari Amerika Serikat menemukan bahwa terlalu mengandalkan materi tekstual akan membuat anak usia remaja (12-15 tahun) mudah bosan, tidak senang belajar, dan tidak dapat menyerap materi dengan baik. Efek kebosanan ini kemungkinan besar akan dirasakan juga anak usia TK hingga SD yang berusia di bawah 12 tahun.

Oleh karena itu, orangtua harus bereksperimen dan mengidentifikasi metode belajar seperti apa yang paling disukai anaknya. Mereka bisa melakukan ini dengan mengamati daya tangkap dan minat belajar anak ketika diajarkan dengan metode tertentu.

Studi tahun 2011 dari Universitas Sains Malaysia, misalnya, membagi metode belajar anak secara umum ke dalam tiga kelompok: visual, pendengaran, dan gerakan. Metode pembelajaran bisa diamati dari anak-anak mulai usia 4 hingga 5 tahun.

Pertama, metode belajar visual merupakan gaya belajar yang dominan menggunakan media gambar atau alat peraga yang berwarna – seperti penggunaan animasi, video Youtube, atau aplikasi di ponsel dalam memaparkan materi.

Gestur tubuh dan mimik wajah pemberi materi juga dapat membantu anak yang suka dengan pembelajaran visual dalam memahami pelajaran.

Kedua, metode belajar yang dominan melibatkan suara, baik suara pemberi materi maupun pelajar. Intonasi, volume, dan artikulasi suara saat menjelaskan menjadi hal penting yang dapat membantu pemahaman kelompok ini.

Baca juga: Beban Pendampingan Belajar Anak selama Pandemi Lebih Banyak ke Ibu ketimbang Ayah

Anak yang suka dengan gaya belajar ini sangat perlu untuk membaca materi yang diberikan dengan suaranya sendiri agar dapat mengingat materi lebih mudah. Orangtua dapat membantu mereka, misalnya, dengan menceritakan kembali materi dalam bentuk dongeng atau cerita yang menarik.

Ketiga, metode belajar yang secara dominan melibatkan gerak-gerik tubuh saat belajar. Kegiatan pembelajaran yang dikerjakan langsung, seperti percobaan sederhana atau merakit benda, akan sangat membantu anak yang suka dengan gaya belajar ini.

Orangtua, misalnya, bisa mengajak anak untuk memakai bola-bola kecil untuk menghitung dalam belajar matematika. Anak-anak dalam kelompok ini tidak dapat hanya duduk diam dan perlu diajak aktif bergerak melibatkan anggota tubuhnya ketika belajar.

Berbagai studi menunjukkan bahwa mengajarkan seorang seorang anak dengan gaya belajar yang tepat sejak dini berhubungan erat dengan peningkatan kondisi kognitif dan psikologi mereka ketika mereka dewasa.

Mereka akan mengalami peningkatan kepercayaan diri, menyerap materi dengan lebih efektif, serta memiliki kemampuan tinggi dalam memecahkan masalah.

Persingkat waktu belajar anak dan beri jeda

Suatu penelitian lapangan yang dilakukan oleh kelompok guru dari Tenney School di Texas, Amerika Serikat belum lama ini menunjukkan dampak buruk yang ditimbulkan apabila durasi pembelajaran diberikan terlalu lama dalam satu sesi (sekitar 90 menit).

Baca juga: Jika Belajar dari Rumah Jadi Latar Serial Bad Genius

Dampaknya adalah siswa lebih sulit berkonsentrasi dan tidak dapat menyerap materi dengan optimal. Mereka menjadi lebih mudah mengantuk, tidak dapat memahami materi baru yang diberikan, dan sangat mudah bosan.

Lebih lanjut, studi tersebut menemukan bahwa anak pada jenjang TK hingga SD memiliki kemampuan untuk menyerap pelajaran secara maksimal bila dilakukan selama 15-20 menit.

Bila banyak materi yang harus diajarkan, guru perlu memberikan waktu istirahat sekitar 10 menit atau lebih agar otak anak tidak kelelahan dalam mencerna materi.

Hal ini juga diperkuat dengan penelitian yang menunjukkan bahwa hipokampus – bagian otak yang berperan besar dalam pembelajaran dan ingatan – berfungsi lebih baik dalam membentuk ingatan jangka panjang, apabila ada jeda pendek di antara dua sesi belajar. Selama jeda, orangtua dapat membebaskan maupun membimbing anaknya dalam melakukan senam sederhana atau permainan olahraga singkat.

Minta anak jelaskan dengan bahasanya sendiri

Sering kali anak sulit kesulitan menyerap materi pelajaran karena diajarkan dengan kosakata yang tidak mudah dipahami. Misalnya, berbagai konsep dalam buku teks pelajaran biologi seperti ‘fotosintesis’, ‘metamorfosis’, ‘metabolisme’, dan ‘energi’. Istilah yang umumnya dipakai oleh orang dewasa ini sulit dicerna anak.

Artikel populer: Privasi Anak di Media Sosial Itu Penting, Katanya Sayang?

Padahal, kosakata penjelasan yang paling mudah dipahami adalah kosakata yang umum dipakai dalam percakapan sehari-hari bagi anak. Misalnya, orangtua dapat melibatkan tokoh kartun favorit anaknya dalam penjelasan suatu konsep pelajaran.

Di akhir pelajaran, orangtua bisa meminta anaknya untuk menjelaskan ulang materi yang diberikan dengan bahasanya sendiri. Hal ini membantu anak dalam memahami dan mengingat pelajaran yang baru saja diberikan. Teknik ini pun bisa dibiasakan untuk diterapkan pada anak sejak usia dini hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Selain ketiga poin tersebut, masih banyak cara kreatif yang bisa dilakukan oleh orangtua di rumah. Misalnya, anak yang sudah mau mengikuti kegiatan belajar dengan baik perlu diberi apresiasi seperti makanan ringan kesukaannya, kesempatan bermain yang diminati anak, atau cukup dengan kata-kata semangat dan pujian.

Dukungan dari orang terdekat akan sangat membantu anak dalam meraih prestasinya di sekolah. Dengan demikian, anak akan selalu bersemangat setiap kali akan mengikuti kegiatan belajar-mengajar.

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca sumber artikel.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini